ruangdoa.com Sejarah Islam mencatat nama Nusaibah binti Ka’ab atau yang lebih dikenal dengan julukan Ummu Imarah sebagai salah satu pejuang wanita paling pemberani. Pada abad ke-7 masehi, tepatnya saat terjadi Perang Uhud di tahun ketiga Hijriah, sosok ini membuktikan bahwa dedikasi terhadap dakwah Rasulullah SAW melampaui rasa takut terhadap maut. Nusaibah bukan sekadar hadir di medan laga, melainkan menjadi benteng hidup yang melindungi nyawa Nabi Muhammad SAW dari serangan bertubi-tubi kaum musyrikin Makkah.
Pada awalnya, peran Nusaibah dalam Perang Uhud serupa dengan muslimah lainnya, yaitu berada di garis belakang untuk menyediakan pasokan air bagi para tentara yang haus serta memberikan pertolongan pertama bagi prajurit yang terluka. Namun, situasi berubah drastis ketika pasukan pemanah muslim meninggalkan pos mereka di atas bukit karena tergiur harta rampasan perang. Hal ini menyebabkan pasukan musyrik yang dipimpin Khalid bin Walid (sebelum masuk Islam) berhasil memutar balik dan menjepit posisi kaum muslimin hingga kocar-kocir.
Melihat posisi Rasulullah SAW terdesak dan hanya dikelilingi oleh segelintir sahabat, Nusaibah binti Ka’ab segera melepaskan wadah airnya dan mengambil senjata. Bersama suami dan kedua putranya, ia merangsek maju ke titik paling berbahaya demi melindungi sang Nabi. Dalam catatan Sirah Nabawiyah karya Ali Muhammad Ash-Shallabi, Nusaibah bertempur dengan penuh ketangguhan, bahkan ia mengikat pakaian di bagian pinggang agar lebih leluasa bergerak menghalau serangan pedang dan panah musuh.
Rasulullah SAW sendiri mengakui keberanian luar biasa wanita dari kaum Ansar ini. Dalam sebuah riwayat shahih, Nabi bersabda bahwa ke mana pun beliau menoleh, baik ke arah kanan maupun kiri, beliau selalu melihat Nusaibah bertempur dengan gigih demi melindunginya. Total terdapat 13 luka di tubuh Nusaibah, dengan luka yang paling parah berada di bagian tengkuk atau bahunya akibat tebasan pedang Ibnu Qam’ah, seorang musyrik yang berambisi membunuh Rasulullah SAW. Meski darah terus mengalir deras, Nusaibah tetap bertahan di medan perang hingga situasi mulai terkendali.
Keteguhan hati Nusaibah binti Ka’ab ini membuatnya dijuluki sebagai "Sang Perisai Rasulullah". Peristiwa ini memberikan pelajaran penting mengenai kesetaraan semangat dalam membela kebenaran serta menunjukkan kualitas pendidikan agama dan akhlak yang dimiliki para sahabat wanita pada masa itu. Setelah Perang Uhud berakhir, sejarah mencatat bahwa konflik antara kaum muslimin dan musyrikin terus berlanjut hingga puncaknya pada Perang Khandaq di tahun kelima Hijriah, namun nama Nusaibah tetap abadi sebagai simbol keberanian seorang muslimah di garda terdepan.







