ruangdoa.com – Ramadan di Suriah, khususnya di ibu kota Damaskus, menyimpan keindahan tersendiri yang memadukan tradisi kuno dengan semangat pemulihan pascakonflik. Sebagai salah satu kota tertua di dunia yang terus dihuni, Damaskus merayakan bulan suci ini dengan penuh antusiasme. Setelah bertahun-tahun berada dalam situasi yang tidak menentu, kini masyarakat mulai merasakan kedamaian yang terpancar melalui hiasan lampu warna-warni dan dekorasi khas yang menyinari setiap sudut jalanan kota.
Persiapan menyambut bulan puasa di Suriah dimulai beberapa hari sebelum tanggal satu Ramadan. Pasar-pasar tradisional, atau yang dikenal dengan sebutan Souq, mendadak penuh sesak. Warga berbondong-bondong membeli stok bahan makanan untuk kebutuhan satu bulan penuh. Bagi masyarakat setempat, Ramadan bukan sekadar ritual ibadah, melainkan momen istimewa yang memerlukan persiapan terbaik dalam menjamu keluarga dan kerabat.
Memasuki hari pertama puasa, suasana kota Damaskus mengalami perubahan ritme yang sangat kontras jika dibandingkan dengan hari biasa atau bahkan dengan kota-kota besar di Indonesia. Salah satu titik keramaian yang paling ikonik adalah kawasan Jazmatiyyah. Wilayah ini dikenal sebagai pusat kuliner dan toko manisan terbaik di Damaskus. Di sore hari, Jazmatiyyah berubah menjadi lautan manusia yang berburu takjil dan manisan khas seperti Ma’amoul, Qatayef, hingga minuman segar Qamar al-Din.
Namun, keunikan paling menonjol terjadi saat azan Magrib berkumandang. Jika di banyak negara lain restoran dan kedai tetap buka untuk melayani pelanggan yang berbuka di luar, di Damaskus jalanan justru mendadak lengang. Kota seolah berhenti berdenyut karena hampir seluruh toko dan kedai makanan memilih untuk tutup. Masyarakat Suriah memiliki prinsip kuat bahwa waktu berbuka puasa adalah momen sakral yang harus dihabiskan bersama keluarga di dalam rumah.
Keheningan ini berlanjut hingga pelaksanaan salat Tarawih selesai. Selama durasi tersebut, aktivitas publik praktis berhenti total demi memberi ruang bagi kekhusyukan ibadah dan kebersamaan keluarga. Fenomena ini menunjukkan betapa tingginya penghormatan masyarakat terhadap nilai-nilai spiritual dibandingkan dengan urusan komersial semata.
Kehidupan kota baru benar-benar kembali "hidup" setelah jemaah selesai melaksanakan salat Tarawih di masjid-masjid, termasuk di Masjid Agung Umayyad yang bersejarah. Toko-toko kembali dibuka, lampu-lampu kedai dinyalakan, dan warga mulai keluar rumah untuk bersosialisasi hingga menjelang waktu sahur. Anak-anak bermain di ruang publik, sementara orang dewasa saling menyapa di kedai-kedai kopi yang mulai beroperasi kembali.
Ritme Ramadan di Damaskus bukanlah sebuah garis yang monoton, melainkan sebuah gelombang aktivitas yang teratur. Ada waktu di mana kota sangat sibuk dengan urusan duniawi, namun ada waktu di mana kota benar-benar beristirahat untuk menghidupkan malam dengan ibadah. Keseimbangan inilah yang menjadikan suasana Ramadan di Suriah memiliki karakteristik kuat yang sulit ditemukan di tempat lain.








