ruangdoa.com – Sholat Tarawih merupakan ibadah sunnah yang menjadi ciri khas kemuliaan bulan Ramadan. Secara hukum, mayoritas ulama dari mazhab Hanafiyah, Hanabilah, dan Malikiyyah mengategorikan sholat ini sebagai sunnah muakkadah, yaitu ibadah yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan oleh setiap umat Muslim karena besarnya nilai pahala di dalamnya.
Meskipun telah menjadi amalan rutin, perbedaan jumlah rakaat sholat Tarawih sering kali menjadi ruang diskusi di tengah masyarakat. Sebagian umat Islam melaksanakan 11 rakaat, sementara sebagian lainnya konsisten dengan 23 rakaat. Perbedaan ini sebenarnya berakar pada pemahaman para ulama terhadap dalil-dalil yang ada.
Menelusuri Akar Perbedaan Jumlah Rakaat
Secara mendasar, tidak ada dalil yang secara kaku membatasi jumlah rakaat sholat Tarawih. Rasulullah SAW memberikan tuntunan umum mengenai sholat malam melalui sabdanya bahwa sholat malam dilakukan dua rakaat demi dua rakaat. Jika seseorang khawatir akan masuk waktu Subuh, maka ia hendaknya menutup sholat tersebut dengan satu rakaat witir. Berdasarkan Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim ini, sholat malam termasuk Tarawih memiliki sifat yang fleksibel dalam jumlah rakaatnya.
Dalam sejarah perkembangannya, perbedaan ini sudah muncul sejak zaman sahabat dan tabi’in. Berikut adalah rincian pandangan para ulama:
- Mazhab Empat (Jumhur Ulama): Mayoritas ulama dari mazhab Syafi’i, Hanafi, Maliki, dan Hanbali menetapkan bahwa sholat Tarawih dikerjakan sebanyak 20 rakaat yang kemudian ditutup dengan 3 rakaat witir, sehingga totalnya menjadi 23 rakaat. Format ini merupakan praktik yang lazim dilakukan di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi selama berabad-abad.
- Mazhab Maliki di Madinah: Terdapat pendapat dari Imam Malik yang menyebutkan bahwa penduduk Madinah di masa lalu melaksanakan Tarawih sebanyak 36 rakaat ditambah 3 rakaat witir. Hal ini dilakukan untuk menyamai keutamaan penduduk Mekkah yang melakukan tawaf di sela-sela istirahat Tarawih. Karena penduduk Madinah tidak bisa melakukan tawaf, mereka menggantinya dengan menambah jumlah rakaat sholat.
- Pendapat 11 Rakaat: Sebagian ulama dan umat Islam memilih melaksanakan 8 rakaat Tarawih ditambah 3 rakaat witir. Praktik ini merujuk pada kebiasaan Rasulullah SAW dalam melaksanakan sholat malam yang sering kali berjumlah 11 rakaat.
Keutamaan Sholat Tarawih Berjamaah
Meskipun sah dikerjakan sendiri di rumah, sholat Tarawih secara berjamaah di masjid memiliki keutamaan tersendiri. Tradisi berjamaah secara terorganisir ini dimulai secara resmi pada masa Khalifah Umar bin Khattab RA. Saat itu, Umar melihat masyarakat sholat secara terpencar-pencar di masjid, lalu beliau berinisiatif menggabungkan mereka di bawah satu imam, yaitu Ubay bin Ka’ab. Umar menyebut langkah ini sebagai "sebaik-baik bid’ah" karena menyatukan umat dalam keteraturan ibadah.
Rahasia Pahala Sholat Tarawih dari Malam ke Malam
Selain menggugurkan dosa-dosa masa lalu bagi mereka yang melaksanakannya dengan iman dan ikhlas, terdapat riwayat yang menjelaskan keistimewaan spesifik di setiap malam Ramadan. Berikut adalah rincian keutamaan tersebut:
- Malam 1-5: Pembersihan dosa layaknya bayi yang baru lahir, ampunan bagi orang tua, perlindungan malaikat, pahala setara membaca empat kitab suci, hingga pahala layaknya sholat di tiga masjid utama dunia.
- Malam 6-10: Pahala tawaf di Baitul Makmur, derajat setinggi Nabi Musa AS, karunia seperti Nabi Ibrahim AS, hingga jaminan kebaikan dunia dan akhirat.
- Malam 11-15: Kesucian saat wafat, wajah bercahaya di hari kiamat, keamanan dari keburukan, pembebasan dari hisab, hingga doa dari para malaikat pemikul ‘Arsy.
- Malam 16-20: Selamat dari neraka, pahala setara para nabi, keridaan Allah bagi keluarga, pengangkatan derajat di surga Firdaus, serta pahala para syuhada.
- Malam 21-25: Pembangunan gedung cahaya di surga, aman dari kesedihan kiamat, pembangunan kota di surga, pengabulan 24 doa, hingga penghapusan azab kubur.
- Malam 26-30: Pengangkatan pahala selama 40 tahun, kemudahan melewati jembatan shirath, kenaikan 1.000 derajat di surga, pahala 1.000 haji mabrur, hingga puncaknya adalah undangan Allah untuk menikmati fasilitas surga secara langsung.
Perbedaan jumlah rakaat tidak seharusnya menjadi pemecah belah umat. Fokus utama dari ibadah ini adalah kualitas kekhusyukan dan keikhlasan dalam mengharap ridha Allah SWT di bulan yang penuh keberkahan ini.








