Menelusuri Tradisi Ramadan di Libya Sang Negeri Sejuta Penghafal Al-Qur’an

ruangdoa.com – Ramadan di Libya bukan sekadar menjalankan ibadah puasa, melainkan menjadi momentum emas untuk memperkuat interaksi masyarakat dengan Al-Qur’an. Negara yang terletak di Afrika Utara ini menyandang julukan sebagai "Negeri Sejuta Penghafal Al-Qur’an" karena kuatnya tradisi menghafal Kalamullah yang mendarah daging di tengah masyarakatnya. Salah satu pusat kegiatan keagamaan yang paling menonjol berada di kota Zliten, yang dikenal dengan institusi pendidikan tradisionalnya.

Di Libya, terdapat lembaga pendidikan Islam tradisional yang disebut dengan Zawiyah. Berbeda dengan sekolah formal, Zawiyah berfungsi layaknya pondok pesantren di Indonesia yang menyelenggarakan halaqah hafalan Al-Qur’an serta pengkajian kitab-kitab klasik atau turats. Salah satu Zawiyah yang sangat berpengaruh adalah Zawiyah Syekh Abdussalam Al-Asmar. Di tempat ini, metode kuno tetap dipertahankan, yakni santri menghafal dengan cara menuliskan ayat-ayat Al-Qur’an di atas papan kayu yang disebut lauh. Metode menulis sebelum menghafal ini dipercaya mampu menguatkan ingatan sekaligus melatih ketelitian serta kesabaran para pelajar.

Tradisi yang paling khas selama bulan Ramadan di Libya adalah penghormatan yang luar biasa terhadap para penghafal Al-Qur’an. Masyarakat setempat memiliki kebiasaan mengundang para pelajar dan hafiz untuk mengadakan khataman Al-Qur’an di rumah mereka. Undangan ini biasanya dikoordinasikan melalui para masyayikh atau guru di Zawiyah. Para santri akan datang berkelompok, membacakan Al-Qur’an hingga khatam, lalu diakhiri dengan doa bersama untuk keberkahan keluarga tuan rumah.

Bagi warga Libya, menjamu penghafal Al-Qur’an adalah sebuah kemuliaan. Bentuk penghormatan ini juga diwujudkan dalam pemberian sedekah berupa uang, pakaian, hingga bahan makanan. Sikap kedermawanan ini semakin meningkat drastis selama bulan suci, terutama kepada para pelajar asing, termasuk mahasiswa asal Indonesia yang menempuh pendidikan di Al-Asmarya Islamic University.

Dari sisi kuliner, suasana berbuka puasa di Libya kental dengan nuansa kekeluargaan. Setelah prosesi khataman menjelang Magrib, tuan rumah akan menyajikan hidangan pembuka berupa kurma, susu, air putih, serta basisah (makanan tradisional berbahan gandum dan rempah). Setelah menunaikan salat Magrib berjamaah, hidangan utama mulai disajikan. Menu yang umum dijumpai antara lain couscous, makaroni, nasi, dan roti, yang didampingi dengan minuman seperti jus, kopi, atau teh khas Libya.

Menariknya, kehadiran mahasiswa Indonesia di Libya juga membawa warna tersendiri. Dalam momen buka puasa bersama, warga sering meminta pelajar Indonesia melantunkan sholawat atau qasidah dengan irama Nusantara. Interaksi ini menciptakan pertukaran budaya yang harmonis dan mempererat tali persaudaraan antarumat Islam dari negara yang berbeda.

Selain di rumah-rumah warga, kegiatan khataman massal juga rutin diadakan di Zawiyah setiap selesai salat Jumat selama Ramadan. Ratusan santri dari berbagai usia, mulai dari anak-anak hingga lansia, berkumpul dalam satu halaqah yang sama. Pemandangan ini mempertegas bahwa di Libya, mencintai Al-Qur’an tidak mengenal batasan usia.

Tradisi Ramadan di Libya memberikan pelajaran penting bahwa memuliakan ilmu dan para penjaga Al-Qur’an dapat mendatangkan keberkahan bagi sebuah bangsa. Melalui kombinasi ibadah, pendidikan di Zawiyah, dan kedermawanan sosial, Libya berhasil menghidupkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam praktik kehidupan sehari-hari yang nyata.

Catatan:
Semua doa itu baik, tergantung dari apa yang diyakini dan bagaimana hati meyakininya. Tidak ada doa yang salah, karena setiap doa adalah bentuk harapan dan penghambaan.

ruangdoa.com hanya berupaya menjadi perantara, tempat berbagi makna, tulisan, dan pengingat bahwa setiap kalimat yang diucap dengan keyakinan bisa menjadi jalan turunnya rahmat dari Allah SWT. Wallahu a'lam bishawab

Share:

Related Topics

Baca Juga