ruangdoa.com – Khawla binti Al-Azwar merupakan salah satu tokoh muslimah paling fenomenal dalam sejarah militer Islam pada masa Kekhalifahan Rasyidin. Hidup pada abad ke-7 Masehi, Khawla bukan sekadar sosok wanita yang pandai menggubah syair, tetapi juga seorang pejuang garis depan yang keberaniannya sering kali disejajarkan dengan panglima besar seperti Khalid bin Walid dan Umar bin Khattab. Ia lahir dari suku Bani Assad dan merupakan putri dari Malik bin Awse yang dikenal dengan julukan Al-Azwar. Sejak kecil, Khawla dididik langsung oleh kakaknya, Derar al-Azwar, dalam ilmu bela diri, ketangkasan berkuda, serta strategi menggunakan pedang dan tombak.
Catatan sejarah mencatat kemunculan perdana Khawla di medan tempur terjadi pada tahun 634 Masehi, tepatnya saat pengepungan Kota Damaskus. Pada saat itu, kakaknya yang bernama Derar terluka dan ditawan oleh pasukan Kekaisaran Bizantium. Khawla yang awalnya bertugas sebagai tenaga medis di garis belakang tidak bisa tinggal diam. Ia segera mengenakan zirah perang lengkap, menutupi wajahnya dengan cadar hitam, dan memacu kudanya ke tengah kecamuk perang. Dengan gerakan yang sangat cepat dan mematikan, ia menembus barisan musuh seorang diri hingga membuat pasukan muslim lainnya mengira ia adalah seorang ksatria pria yang sangat hebat.
Kehebatan Khawla sempat membuat Panglima Khalid bin Walid kagum dan penasaran. Setelah pertempuran mereda, barulah terungkap bahwa ksatria misterius yang bertempur dengan penuh amarah tersebut adalah seorang wanita. Atas izin Khalid bin Walid, Khawla kemudian memimpin pengejaran terhadap sisa-sisa pasukan Bizantium. Misi tersebut berhasil gemilang dengan dibebaskannya para tawanan muslim, termasuk kakaknya, Derar al-Azwar. Sejak saat itu, namanya mulai dikenal luas sebagai pelindung kaum muslimin di medan laga.
Ujian keberanian Khawla kembali teruji dalam Pertempuran Ajnadin. Dalam sebuah insiden, ia sempat tertawan oleh pasukan musuh dan dibawa ke kamp wanita Bizantium. Namun, Khawla membuktikan bahwa seorang muslimah tidak akan menyerah meski tanpa senjata tajam di tangan. Ia menggerakkan para tawanan wanita lainnya untuk melakukan perlawanan menggunakan tiang-tiang kayu dan pasak tenda. Sambil meneriakkan syair-syair perjuangan yang membakar semangat, Khawla memimpin serangan balasan yang menewaskan sekitar 30 tentara musuh hingga akhirnya mereka berhasil meloloskan diri sebelum bala bantuan muslim tiba.
Peran Khawla binti Al-Azwar memberikan pelajaran penting bagi generasi masa kini bahwa pengabdian terhadap agama dan tanah air tidak dibatasi oleh gender. Ia menunjukkan sisi lain dari kemuliaan wanita Islam yang mampu menjadi lembut sebagai perawat, namun bisa menjadi sangat perkasa saat kehormatan agamanya diusik. Khawla wafat pada akhir masa kekuasaan Utsman bin Affan, meninggalkan warisan sejarah tentang keteguhan iman dan keberanian yang tidak lekang oleh waktu. Nama Khawla kini banyak diabadikan sebagai nama jalan, sekolah, hingga unit militer di berbagai negara muslim sebagai bentuk penghormatan atas dedikasinya.








