ruangdoa.com – Bulan Muharram merupakan salah satu dari empat bulan haram atau bulan yang dimuliakan dalam kalender Hijriah. Di dalam bulan ini, terdapat dua hari yang sangat istimewa bagi umat Islam, yaitu hari Tasua pada 9 Muharram dan hari Asyura pada 10 Muharram. Amalan yang paling utama pada kedua hari tersebut adalah puasa sunah, di mana puasa Asyura memiliki keutamaan luar biasa yakni dapat menghapus dosa setahun yang lalu sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam Hadits Riwayat Muslim.
Bagi wanita yang sedang dalam masa haid, kondisi biologis ini tentu menghalangi mereka untuk menunaikan ibadah puasa dan shalat. Namun, hal ini bukan berarti pintu pahala tertutup rapat. Haid adalah ketetapan Allah SWT bagi wanita dan tidak mengurangi kemuliaan iman seseorang. Masih banyak pintu ibadah lain yang tetap bisa dibuka untuk mendulang pahala besar di hari Tasua dan Asyura.
Berikut adalah beberapa amalan syar’i yang dapat dilakukan wanita haid untuk mengisi hari-hari mulia tersebut.
1. Memperbanyak Zikir dan Doa
Zikir adalah ibadah lisan dan hati yang tidak mensyaratkan seseorang harus suci dari hadas besar. Wanita haid sangat dianjurkan untuk tetap membasahi lidahnya dengan kalimat-kalimat thayyibah. Beberapa zikir yang bisa diamalkan antara lain adalah tasbih (Subhanallah), tahmid (Alhamdulillah), takbir (Allahu Akbar), tahlil (Laa ilaaha illallah), dan istighfar (Astaghfirullah).
Selain zikir, memperbanyak doa pada hari Asyura juga sangat baik, karena hari tersebut adalah waktu yang penuh berkah. Mintalah ampunan, keberkahan rezeki, serta keteguhan iman kepada Allah SWT.
2. Membaca Al-Qur’an Tanpa Menyentuh Mushaf
Berdasarkan pendapat mayoritas ulama, wanita haid tetap diperbolehkan membaca Al-Qur’an asalkan tidak menyentuh fisik mushaf secara langsung. Di era digital saat ini, muslimah bisa memanfaatkan aplikasi Al-Qur’an di ponsel atau tablet. Selain itu, mengulang hafalan (murajaah) atau membaca ayat-ayat Al-Qur’an yang diniatkan sebagai zikir juga diperbolehkan. Membaca Al-Qur’an beserta terjemahan dan tafsirnya akan menambah nilai ibadah karena adanya unsur thalabul ilmi atau menuntut ilmu.
3. Menuntut Ilmu Melalui Kajian Islami
Mendengarkan ceramah, mengikuti webinar keislaman, atau membaca buku-buku agama adalah amalan yang sangat mulia. Pada hari Tasua dan Asyura, seorang muslimah bisa memperdalam pemahaman mengenai sejarah para Nabi yang berkaitan dengan hari Asyura, seperti kisah selamatnya Nabi Musa AS dari kejaran Firaun. Memahami makna di balik sebuah ibadah akan meningkatkan kualitas ketakwaan meskipun sedang tidak bisa suci secara fisik.
4. Bersedekah Secara Maksimal
Sedekah adalah amalan yang bersifat sosial dan tidak terikat dengan syarat kesucian fisik. Rasulullah SAW menyebutkan bahwa sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api. Di hari Asyura, sebagian ulama juga menganjurkan untuk melapangkan nafkah bagi keluarga dan berbuat baik kepada anak yatim. Memberikan bantuan materi atau sekadar berbagi makanan kepada mereka yang membutuhkan adalah cara efektif untuk meraih keberkahan Muharram.
5. Menyediakan Hidangan Berbuka bagi Orang yang Berpuasa
Salah satu strategi terbaik bagi wanita haid untuk mendapatkan pahala puasa tanpa harus berpuasa adalah dengan memberi makan orang yang sedang berpuasa. Berdasarkan hadits riwayat Tirmidzi, siapa pun yang memberi makan orang yang berbuka puasa, maka ia akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang bersangkutan sedikit pun. Menyiapkan hidangan berbuka untuk keluarga atau berbagi takjil kepada sesama muslim adalah ladang pahala yang sangat besar di hari Tasua dan Asyura.
Dengan menjalankan amalan-amalan di atas, wanita yang sedang haid tetap bisa merasakan kekhusyukan dan semangat ibadah di bulan Muharram. Islam adalah agama yang memudahkan, dan setiap niat baik yang disertai amalan saleh pasti akan mendapatkan balasan yang sempurna di sisi Allah SWT.








