ruangdoa.com – Setiap Muslim tentu mendambakan surga sebagai tempat peristirahatan terakhir. Berbagai amal saleh seperti salat, puasa, zakat, hingga sedekah dilakukan dengan harapan mendapatkan rida Allah SWT. Namun, terdapat sebuah peringatan keras mengenai golongan "muflis" atau orang yang bangkrut di akhirat. Meski mereka tampak sebagai ahli ibadah di dunia, simpanan pahala mereka bisa habis seketika karena perkara yang sering dianggap sepele oleh manusia.
Salah satu kisah yang menjadi pelajaran berharga datang dari penuturan tabi’in Wahab bin Munabbih, yang dinukil oleh Ahmad Izzan dalam kitab Laa Taghtarr. Dikisahkan seorang pemuda yang telah bertobat total dan mengabdikan hidupnya untuk beribadah selama 70 tahun. Selama masa itu, ia sangat konsisten menjalankan puasa, menghidupkan malam dengan ibadah, bahkan menghindari kenyamanan duniawi demi mendekatkan diri kepada Allah.
Namun, setelah ia wafat, sebuah mimpi yang dialami saudaranya mengungkap kenyataan pahit. Meskipun Allah telah mengampuni dosa-dosanya yang lain, ia tertahan masuk surga hanya karena satu perkara kecil: ia pernah mengambil sebatang lidi untuk dijadikan tusuk gigi tanpa izin pemiliknya. Kelalaian terhadap hak orang lain, sekecil apa pun bentuknya, ternyata memiliki konsekuensi besar di hadapan keadilan Allah SWT.
Kisah serupa dialami oleh seorang juru timbang yang taat. Al-Harits al-Muhasibi menceritakan bahwa ahli ibadah ini disiksa di dalam kubur karena membiarkan debu dan tanah menempel di dasar takarannya. Hal tersebut secara tidak sadar mengurangi takaran biji-bijian yang ia jual kepada orang lain. Ketidaktelitian dalam menjaga amanah dan hak orang lain dalam urusan muamalah menjadi penghalang bagi ketenangannya di alam barzakh.
Rasulullah SAW secara eksplisit menjelaskan fenomena kebangkrutan ini dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan At-Tirmidzi. Nabi bertanya kepada para sahabat mengenai siapa orang yang bangkrut. Sahabat menjawab bahwa orang bangkrut adalah mereka yang tidak memiliki harta benda. Namun, Rasulullah SAW meluruskan bahwa orang yang benar-benar bangkrut adalah mereka yang menghadap Allah dengan membawa pahala salat, puasa, dan zakat yang melimpah, namun semasa hidupnya gemar mencela, memfitnah, memakan harta orang lain secara batil, bahkan melakukan kekerasan fisik.
Di pengadilan akhirat, pahala-pahala dari ibadah tersebut akan diambil dan diberikan kepada orang-orang yang pernah ia zalimi sebagai kompensasi. Jika pahalanya habis sebelum semua tuntutan terpenuhi, maka dosa-dosa orang yang dizalimi tersebut akan ditimpakan kepadanya, hingga akhirnya ia dicampakkan ke dalam neraka.
Selain kezaliman terhadap sesama, sifat riya atau pamer dalam beribadah juga menjadi faktor utama yang menghanguskan amal. Al-Hafizh Taqiyuddin Al-Jurjani dalam karyanya menjelaskan bahwa keikhlasan adalah syarat mutlak diterimanya ibadah. Orang yang beribadah demi pujian manusia diibaratkan seperti orang yang salat tanpa bersuci. Amal mereka tampak besar di mata manusia, namun kosong di hadapan Allah.
Ibnu Rajab juga mengutip khutbah Abu Bakar Ash-Shiddiq yang mengingatkan bahwa kecantikan wajah, masa muda, dan kekuasaan tidak akan menolong di alam kubur. Semua kebanggaan duniawi tersebut akan runtuh dan hanya amal yang murni karena Allah yang akan menemani manusia di dalam gelapnya tanah.
Kesimpulannya, menjadi ahli ibadah saja tidak cukup untuk menjamin keselamatan di akhirat. Seorang Muslim harus menjaga keseimbangan antara hubungan dengan Allah (Hablum Minallah) dan hubungan dengan sesama manusia (Hablum Minannas). Menghindari kezaliman, menjaga hak orang lain sekecil apa pun, serta menjaga kemurnian niat dari sifat riya adalah kunci agar pahala yang telah dikumpulkan selama puluhan tahun tidak hilang sia-sia saat hari penghisaban tiba.








