Waspada Amalan Puluhan Tahun Sirna Seketika Akibat Perkara Sepele yang Sering Diabaikan

ruangdoa.com – Setiap umat Islam tentu mendambakan surga sebagai tempat kembali yang abadi. Berbagai bentuk penghambaan seperti salat, puasa, zakat, hingga sedekah dilakukan dengan harapan mendapatkan rida Allah SWT dan timbangan pahala yang berat di akhirat kelak. Namun, terdapat sebuah peringatan keras mengenai golongan ahli ibadah yang justru dinyatakan bangkrut saat hari perhitungan tiba.

Kisah yang dinukil oleh tabi’in Wahab bin Munabbih dalam buku Laa Taghtarr karya Ahmad Izzan memberikan gambaran nyata betapa seriusnya urusan hak sesama manusia. Diceritakan seorang pemuda yang telah bertobat total dan mengabdikan dirinya untuk beribadah selama 70 tahun tanpa henti. Ia menjalani laku prihatin dengan tidak meninggalkan puasa, terjaga di malam hari untuk beribadah, bahkan tidak mencari tempat berteduh yang nyaman demi kefokusannya kepada Sang Pencipta.

Meski memiliki rekam jejak ibadah yang luar biasa, lelaki tersebut ternyata tertahan di pintu surga setelah wafatnya. Dalam sebuah mimpi yang dialami saudaranya, terungkap bahwa Allah SWT telah mengampuni seluruh dosanya kecuali satu perkara yang dianggap sepele oleh kebanyakan orang. Lelaki itu tertahan karena pernah mengambil sebatang lidi milik orang lain untuk dijadikan tusuk gigi tanpa meminta izin terlebih dahulu. Hal ini membuktikan bahwa ketaatan ritual selama puluhan tahun bisa terhambat oleh pelanggaran hak orang lain (hablum minannas) yang belum terselesaikan.

Kisah serupa juga dialami oleh seorang juru timbang biji-bijian. Al-Harits al-Muhasibi menceritakan bahwa ahli ibadah tersebut mengalami siksa kubur yang sangat pedih. Penyebabnya adalah kelalaiannya dalam menimbang barang dagangan. Ia membiarkan tanah atau debu yang menempel di dasar takaran ikut tertimbang, sehingga mengurangi hak pembeli meskipun dalam jumlah yang sangat sedikit. Ketidakjujuran dalam urusan muamalah ini menjadi penghalang baginya untuk mendapatkan ketenangan di alam barzakh.

Fenomena inilah yang disebut oleh Rasulullah SAW sebagai golongan orang yang bangkrut atau Al-Muflis. Dalam hadis riwayat Muslim dan At-Tirmidzi, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa orang yang bangkrut bukanlah mereka yang tidak memiliki harta di dunia. Sebaliknya, mereka adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa tumpukan pahala salat, puasa, dan zakat yang sangat banyak. Namun, di sisi lain, mereka juga membawa catatan dosa berupa perbuatan zalim kepada sesama manusia.

Selama hidup di dunia, mereka gemar mencela, memfitnah, memakan harta orang lain secara batil, bahkan melakukan kekerasan fisik. Saat di akhirat, pahala-pahala ibadah yang mereka bawa akan diambil satu per satu untuk diberikan kepada orang-orang yang pernah mereka zalimi sebagai bentuk ganti rugi. Jika pahalanya sudah habis sementara tuntutan dari orang yang dizalimi masih ada, maka dosa-dosa orang yang dizalimi tersebut akan ditimpakan kepada si ahli ibadah tadi, hingga akhirnya ia dilemparkan ke dalam neraka.

Selain faktor kezaliman terhadap sesama, sifat riya atau pamer juga menjadi faktor utama yang menghanguskan amal ibadah. Al-Hafizh Taqiyuddin Al-Jurjani dalam karyanya menekankan bahwa keikhlasan adalah syarat mutlak diterimanya sebuah amalan. Orang yang beribadah hanya demi pujian manusia diibaratkan seperti orang yang membangun tanpa fondasi. Amalnya tampak megah di mata manusia, namun kosong dan tidak bernilai di hadapan Allah SWT.

Melalui peringatan ini, umat Islam diajak untuk tidak hanya fokus pada kesalehan ritual semata, tetapi juga menjaga kesalehan sosial. Menghargai hak orang lain bahkan dalam perkara sekecil lidi, menjaga lisan dari menyakiti sesama, serta memastikan ketulusan niat dalam beribadah adalah kunci agar segala amal yang dikerjakan selama di dunia tidak menjadi sia-sia dan berujung pada kebangkrutan di akhirat.

Catatan:
Semua doa itu baik, tergantung dari apa yang diyakini dan bagaimana hati meyakininya. Tidak ada doa yang salah, karena setiap doa adalah bentuk harapan dan penghambaan.

ruangdoa.com hanya berupaya menjadi perantara, tempat berbagi makna, tulisan, dan pengingat bahwa setiap kalimat yang diucap dengan keyakinan bisa menjadi jalan turunnya rahmat dari Allah SWT. Wallahu a'lam bishawab

Share:

Related Topics

Baca Juga