Tragedi Tsa’labah bin Hathib dan Bahaya Sifat Kikir yang Menghancurkan Harta

ruangdoa.com – Harta merupakan ujian yang nyata bagi setiap manusia karena ia bisa menjadi jembatan menuju surga atau justru menjadi jurang kebinasaan. Salah satu kisah yang paling membekas sebagai peringatan bagi umat Islam adalah riwayat Tsa’labah bin Hathib Al-Anshari. Kisah ini menggambarkan bagaimana perubahan karakter seseorang ketika diuji dengan kekayaan setelah sebelumnya hidup dalam kesederhanaan dan ketaatan.

Pada awalnya, Tsa’labah dikenal sebagai sosok yang sangat religius hingga dijuluki sebagai "Merpati Masjid" karena ketekunannya beribadah di masjid. Namun, ia hidup dalam kemiskinan yang sangat memprihatinkan. Saking sulitnya ekonomi keluarga Tsa’labah, ia dan istrinya harus bergantian menggunakan satu-satunya kain yang layak untuk melaksanakan salat. Kondisi inilah yang mendorong Tsa’labah mendesak Rasulullah SAW agar mendoakannya menjadi orang kaya. Ia berjanji bahwa jika Allah memberinya kekayaan, ia akan memberikan hak setiap orang yang membutuhkan dan semakin tekun beribadah.

Rasulullah SAW sempat memperingatkan Tsa’labah bahwa sedikit harta yang disyukuri jauh lebih baik daripada banyak harta yang tidak sanggup diemban. Namun, setelah permintaan ketiga, Rasulullah SAW akhirnya mendoakannya dan memberikan modal berupa sepasang kambing. Atas izin Allah, ternak tersebut berkembang sangat pesat seperti perkembangbiakan ulat, hingga lembah di sekitar Madinah tidak lagi mampu menampung ribuan kambing miliknya.

Seiring dengan bertambahnya kekayaan, perilaku Tsa’labah mulai berubah drastis. Kesibukannya mengurus ternak membuatnya mulai meninggalkan salat berjemaah, kemudian meninggalkan salat Jumat, hingga akhirnya ia menjauh dari komunitas muslim di Madinah. Puncak dari pengingkaran janji Tsa’labah terjadi ketika Rasulullah SAW mengutus petugas untuk memungut zakat. Tsa’labah menolak membayar dan justru menyebut zakat sebagai bentuk upeti atau pajak yang merugikan, padahal itu adalah kewajiban agama atas harta yang ia miliki.

Sikap kikir dan ingkar janji ini kemudian diabadikan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an surah At-Taubah ayat 75-76. Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa ada golongan manusia yang berjanji akan bersedekah jika diberi karunia, namun setelah karunia itu datang, mereka menjadi kikir dan berpaling dari kebenaran.

Dampak dari perbuatannya sangat tragis. Ketika Tsa’labah menyadari kesalahannya setelah turunnya ayat tersebut, ia datang membawa zakatnya kepada Rasulullah SAW. Namun, Allah SWT telah melarang Nabi untuk menerima zakat dari Tsa’labah sebagai bentuk hukuman atas kemunafikannya. Penolakan ini berlanjut pada masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, hingga Utsman bin Affan. Tsa’labah akhirnya meninggal dunia dalam keadaan merugi karena hartanya tidak lagi membawa berkah dan tobatnya terhalang oleh pengingkaran janjinya sendiri kepada Allah dan Rasul-Nya.

Catatan:
Semua doa itu baik, tergantung dari apa yang diyakini dan bagaimana hati meyakininya. Tidak ada doa yang salah, karena setiap doa adalah bentuk harapan dan penghambaan.

ruangdoa.com hanya berupaya menjadi perantara, tempat berbagi makna, tulisan, dan pengingat bahwa setiap kalimat yang diucap dengan keyakinan bisa menjadi jalan turunnya rahmat dari Allah SWT. Wallahu a'lam bishawab

Share:

Related Topics

Baca Juga