ruangdoa.com – Rasulullah SAW bukan hanya seorang pemimpin besar dan penyampai wahyu, tetapi juga sosok manusia yang sangat bersahaja dalam kehidupan domestiknya. Di balik kewibawaannya memimpin umat, Nabi Muhammad SAW tetap menjalankan peran sebagai anggota keluarga yang mandiri. Beliau tidak pernah merasa rendah saat harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang biasanya dianggap remeh oleh banyak orang.
Dalam catatan sejarah dan kitab hadits Asy-Syamail karya Imam at-Tirmidzi, terungkap sisi kemanusiaan Rasulullah SAW yang luar biasa. Aisyah RA pernah memberikan kesaksian mengenai keseharian beliau di rumah. Menurut Aisyah, Rasulullah SAW adalah manusia biasa yang tidak bergantung pada orang lain untuk urusan pribadi. Beliau terbiasa mencuci bajunya sendiri, memerah susu kambing, hingga melayani keperluan dirinya sendiri tanpa harus memerintah pelayan atau anggota keluarga lainnya.
Kemandirian ini juga terlihat saat pakaian beliau robek atau alas kaki beliau rusak. Alih-alih meminta orang lain memperbaikinya, Rasulullah SAW memilih untuk menjahit sendiri bajunya yang robek dan memperbaiki sandalnya yang putus. Selain itu, beliau adalah suami yang sangat ringan tangan dalam membantu pekerjaan rumah tangga. Kesabaran beliau juga teruji dalam menghadapi dinamika rumah tangga, termasuk saat menghadapi kecemburuan istrinya yang tidak sengaja memecahkan piring. Bukannya marah, beliau justru memunguti sendiri serpihan kaca tersebut dengan tenang.
Ketawadhuan atau kerendahhatian Rasulullah SAW juga terpancar dalam interaksi sosialnya. Dalam buku Bukan Cinta Manusia Biasa karya Ustaz Brilly El-Rasheed, disebutkan bahwa beliau pernah menjenguk seorang anak Yahudi yang sedang sakit. Beliau juga memberikan penghormatan terakhir dengan menyalati jenazah seorang wanita pembersih masjid yang wafat, meski profesi wanita tersebut sering kali dipandang sebelah mata oleh orang lain. Sifat pemaaf beliau pun sangat luas, terbukti saat beliau memaafkan seorang penagih utang yang datang dengan cara yang kasar dan menghina.
Kasih sayang beliau juga menyentuh hal-hal kecil yang bersifat personal. Pernah suatu ketika, beliau membersihkan sendiri dahak Usamah bin Zaid, seorang panglima muda kesayangan beliau. Ketika Aisyah menawarkan diri untuk melakukannya, Rasulullah SAW tetap melakukannya sendiri sambil berpesan agar Aisyah turut mencintai Usamah sebagaimana beliau mencintainya.
Salah satu prinsip hidup yang dipegang teguh oleh Nabi Muhammad SAW adalah keengganan untuk diistimewakan. Sebuah riwayat dari Syaikh ‘Abdul Mun’im Al-Hasyimiyy menceritakan momen ketika Nabi dan para sahabat hendak memasak kambing di perjalanan. Saat para sahabat membagi tugas dan menawarkan agar Nabi beristirahat saja, beliau menolak. Beliau memilih tugas untuk mencari dan mengumpulkan kayu bakar. Nabi menegaskan bahwa Allah SWT tidak menyukai hamba-Nya yang merasa lebih tinggi atau ingin diistimewakan di antara kawan-kawannya.
Seluruh perilaku ini bermuara pada sifat tawadhu yang sangat dalam. Rasulullah SAW bahkan mengingatkan umatnya agar tidak berlebihan dalam memujinya. Beliau menegaskan dalam hadits riwayat Imam Ahmad bahwa kedudukan beliau adalah sebagai hamba Allah (Abdullah) dan Rasul-Nya. Keteladanan ini mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak dilihat dari seberapa banyak orang yang melayaninya, melainkan dari seberapa besar manfaat dan kerendahan hati yang ia tunjukkan dalam kehidupan sehari-hari.








