ruangdoa.com – Kisah keislaman Abdullah bin Salam merupakan salah satu catatan sejarah yang sangat krusial dalam perjalanan dakwah Rasulullah SAW di Madinah. Beliau bukan sekadar penduduk biasa, melainkan seorang tokoh intelektual dan pemimpin agama Yahudi yang memiliki kedudukan tinggi. Sebelum memeluk Islam, ia bernama al-Hushain bin Salam bin al-Harits dan merupakan keturunan langsung dari Nabi Yusuf AS.
Sebagai seorang rabbi atau pendeta besar, Abdullah bin Salam menghabiskan waktunya untuk mendalami kitab Taurat di sinagog. Melalui literatur suci tersebut, ia menemukan informasi detail mengenai ciri-ciri nabi terakhir yang akan muncul untuk menyempurnakan risalah samawi. Ketelitiannya dalam mempelajari teks-teks kuno membuatnya sangat peka terhadap tanda-tanda zaman, terutama saat kabar mengenai kemunculan Nabi Muhammad SAW di Makkah mulai terdengar hingga ke Madinah.
Berdasarkan catatan dalam buku Ensiklopedia Biografi Sahabat Nabi karya Muhammad Raji Hassan, Abdullah bin Salam secara rahasia membandingkan sifat, silsilah, hingga perilaku Muhammad SAW dengan apa yang tertulis dalam Taurat. Ia menemukan kecocokan yang sempurna, namun ia tetap menunggu momen pertemuan langsung untuk memantapkan keyakinannya.
Momen tersebut tiba saat Rasulullah SAW melakukan hijrah ke Madinah. Abdullah bin Salam ikut berbaur dengan penduduk Madinah lainnya untuk menyambut kedatangan beliau. Hal pertama yang membuatnya terkesan adalah pidato singkat Rasulullah yang berisi pesan universal tentang perdamaian. Beliau mendengar Rasulullah bersabda agar umat manusia menyebarkan salam, memberi makan kepada yang membutuhkan, menyambung silaturahmi, dan mendirikan salat malam. Kalimat-kalimat ini dianggapnya bukan berasal dari seorang pembohong, melainkan dari seorang utusan Allah.
Untuk menguji kebenaran wahyu tersebut, Abdullah bin Salam mendatangi Nabi Muhammad SAW dan mengajukan tiga pertanyaan sulit yang menurutnya hanya bisa dijawab oleh seorang nabi. Pertanyaan tersebut meliputi tanda-tanda pertama hari kiamat, hidangan pertama penghuni surga, serta faktor yang menyebabkan seorang anak mirip dengan ayah atau ibunya.
Rasulullah SAW menjawab bahwa malaikat Jibril baru saja memberitahunya jawaban tersebut. Beliau menjelaskan bahwa tanda pertama hari kiamat adalah munculnya api yang menggiring manusia dari timur ke barat. Hidangan pertama penduduk surga adalah hati ikan (ziyadatu kabidil hut). Sementara mengenai kemiripan anak, hal itu bergantung pada siapa yang lebih dahulu mencapai puncak dalam hubungan biologis orang tuanya.
Mendengar jawaban yang sangat akurat dan sesuai dengan pengetahuan dalam kitab suci yang ia pelajari, Abdullah bin Salam langsung bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Sejak saat itu, Rasulullah SAW mengubah namanya menjadi Abdullah sebagai tanda penghormatan.
Keputusan Abdullah bin Salam untuk memeluk Islam mendatangkan konsekuensi besar. Meskipun sebelumnya ia sangat dihormati oleh kaum Yahudi sebagai ulama terbaik mereka, seketika ia dicela dan dituduh sebagai pembohong saat mereka mengetahui keislamannya. Namun, Abdullah tetap teguh pada pendiriannya. Kejujuran dan integritas ilmunya menjadikannya salah satu sahabat Nabi yang dijamin masuk surga, sekaligus menjadi bukti nyata bahwa kebenaran Islam dapat diterima secara rasional oleh mereka yang mau membuka hati dan akal sehatnya.








