Meneladani Perjuangan Utbah bin Ghazwan Sang Penakluk Ubullah yang Menolak Kemewahan Dunia

ruangdoa.com – Sosok Utbah bin Ghazwan merupakan salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang memiliki posisi istimewa dalam sejarah awal Islam. Lahir sekitar tahun 584 Masehi atau 40 tahun sebelum peristiwa hijrah, Utbah tercatat sebagai orang ketujuh yang memeluk Islam (Assabiqunal Awwalun) di Mekkah. Dedikasinya terhadap dakwah tidak perlu diragukan, ia ikut dalam dua kali hijrah besar, yakni ke Abyssinia (Habasyah) dan kemudian ke Madinah untuk memperjuangkan tegaknya kalimat Allah.

Sebagai seorang mujahid, Utbah bin Ghazwan senantiasa berada di garis depan pertempuran mendampingi Rasulullah SAW. Ia merupakan veteran Perang Badar, Perang Uhud, hingga Perang Khandaq. Ketangguhan militernya terus berlanjut hingga masa kekhalifahan, di mana ia juga terlibat dalam Perang Yamamah yang krusial bagi stabilitas umat Islam saat itu.

Puncak karier militer dan kepemimpinannya terjadi pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Pasca kemenangan besar di Qadisiyah pada tahun 14 Hijriah, Umar mengutus Utbah dalam misi strategis untuk mengamankan wilayah Ubullah dari sisa-sisa kekuatan Persia. Ubullah merupakan wilayah penting yang menjadi basis bagi pasukan Persia untuk mengganggu stabilitas wilayah Islam yang baru saja dibebaskan.

Sebelum berangkat, Umar bin Khattab memberikan instruksi yang sangat ketat sesuai prinsip syariat. Utbah diperintahkan untuk mengedepankan dakwah terlebih dahulu. Jika ditolak, ia harus menawarkan jizyah sebagai jaminan perlindungan, dan jalan perang hanya diambil sebagai opsi terakhir jika perdamaian menemui jalan buntu. Dengan pasukan yang jumlahnya tidak sebanyak tentara elite Persia, Utbah berangkat dengan tawakal yang tinggi.

Setibanya di medan laga, Utbah bin Ghazwan menunjukkan keberanian luar biasa. Dikenal dengan lemparan tombaknya yang selalu akurat, ia memimpin pasukan dari garis depan sambil menyerukan takbir untuk membakar semangat jihad. Kemenangan pun berhasil diraih, dan wilayah Ubullah jatuh ke tangan kaum Muslimin. Setelah penaklukan tersebut, Utbah mengubah nama wilayah itu menjadi Basrah dan meletakkan fondasi peradaban Islam di sana dengan membangun masjid besar sebagai pusat ibadah dan pendidikan.

Meski berhasil menjadi penakluk dan pendiri kota besar, Utbah bin Ghazwan tetap mempertahankan sifat zuhud dan kesederhanaannya. Ia sebenarnya enggan memegang jabatan sebagai gubernur dan lebih memilih kembali ke Madinah. Namun, atas perintah Khalifah Umar, ia tetap tinggal untuk memimpin Basrah. Sebagai pemimpin, Utbah dikenal sangat keras terhadap gaya hidup mewah. Ia sering mengingatkan masyarakat dalam khutbahnya tentang betapa sulitnya perjuangan di masa awal Islam, sehingga umat tidak boleh terlena oleh kesenangan duniawi.

Kehidupan Utbah bin Ghazwan berakhir dengan cara yang mulia. Setelah menunaikan ibadah haji, ia berdoa kepada Allah SWT agar tidak lagi diangkat menjadi pejabat atau gubernur karena kekhawatirannya akan fitnah dunia. Allah SWT mengabulkan doa tersebut dengan memanggilnya pulang ke rahmatullah dalam perjalanan kembali menuju Basrah pada tahun 17 Hijriah (638 M). Wafatnya Utbah meninggalkan warisan keteladanan tentang bagaimana seorang pemimpin tetap teguh pada kesederhanaan di tengah limpahan harta dan kekuasaan.

Catatan:
Semua doa itu baik, tergantung dari apa yang diyakini dan bagaimana hati meyakininya. Tidak ada doa yang salah, karena setiap doa adalah bentuk harapan dan penghambaan.

ruangdoa.com hanya berupaya menjadi perantara, tempat berbagi makna, tulisan, dan pengingat bahwa setiap kalimat yang diucap dengan keyakinan bisa menjadi jalan turunnya rahmat dari Allah SWT. Wallahu a'lam bishawab

Share:

Related Topics

Baca Juga