ruangdoa.com – Dalam literatur hadis sahih, terdapat sebuah riwayat yang sangat masyhur mengenai adab ziarah serta peringatan mengenai siksa kubur. Peristiwa ini melibatkan Nabi Muhammad SAW yang menancapkan dua belah pelepah kurma di atas makam. Kisah yang tercatat dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim ini memberikan pemahaman mendalam bagi umat Islam mengenai pentingnya menjaga kebersihan diri serta lisan dalam kehidupan sehari-hari.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, suatu ketika Rasulullah SAW melewati dua buah kuburan. Beliau kemudian bersabda bahwa kedua penghuni kubur tersebut sedang mengalami azab. Rasulullah SAW menegaskan bahwa mereka diazab bukan karena perkara yang dianggap besar atau berat oleh manusia pada umumnya, namun dampaknya sangat fatal di akhirat.
Penyebab pertama adalah karena salah satu dari penghuni kubur tersebut tidak menjaga kebersihan saat buang air kecil. Dalam istilah fikih, hal ini berkaitan dengan adab istibra atau memastikan kesucian dari sisa najis urine. Kelalaian dalam bersuci dapat membatalkan keabsahan salat, sehingga menjadi pintu masuk datangnya siksa kubur. Penyebab kedua adalah kebiasaan melakukan namimah atau mengadu domba dan menyebarkan fitnah di antara sesama manusia untuk merusak hubungan.
Melihat kondisi tersebut, Rasulullah SAW mengambil sebuah pelepah kurma yang masih basah, membelahnya menjadi dua bagian, lalu menancapkan masing-masing bagian di atas kedua makam tersebut. Ketika para sahabat bertanya mengenai alasan tindakan tersebut, Nabi Muhammad SAW menjawab bahwa diharapkan siksa kedua penghuni kubur itu diringankan selama pelepah kurma tersebut belum kering.
Sayyid Sabiq dalam kitab Fikih Sunnah menjelaskan bahwa tindakan Nabi SAW ini mengandung unsur doa dan harapan akan rahmat Allah SWT. Para ulama memberikan penjelasan tambahan bahwa segala sesuatu yang hidup, termasuk tumbuhan yang masih hijau atau basah, senantiasa bertasbih kepada Allah SWT. Tasbih dari makhluk hidup inilah yang diyakini membawa keberkahan dan menjadi wasilah diringankannya beban bagi ahli kubur atas izin Allah.
Meskipun kisah ini sangat populer, terdapat diskusi di kalangan ulama mengenai apakah tindakan ini merupakan sunnah yang bisa diikuti oleh umatnya secara umum atau merupakan kekhususan (khushushiyyah) bagi Nabi SAW saja. Sebagian ulama berpendapat bahwa tindakan tersebut adalah mukjizat dan hak khusus Nabi SAW karena beliau diberikan wahyu untuk mengetahui keadaan penghuni kubur yang sedang diazab. Tanpa adanya wahyu, manusia biasa tidak mengetahui kondisi di alam barzakh.
Oleh karena itu, mayoritas ulama menekankan bahwa hal yang paling utama dilakukan saat ziarah kubur bukanlah sekadar menanam pohon, melainkan memperbanyak doa permohonan ampunan (istighfar) bagi almarhum. Kisah pelepah kurma ini menjadi pengingat keras bagi setiap muslim untuk senantiasa menjaga kesucian diri dari najis serta menjaga lisan dari perbuatan mengadu domba agar terhindar dari beratnya siksa kubur.








