ruangdoa.com Sa’i merupakan salah satu rukun penting dalam ibadah haji dan umrah yang melambangkan perjuangan serta keteguhan iman. Setelah jemaah menyelesaikan putaran ketujuh yang berakhir di Bukit Marwah, terdapat anjuran untuk memanjatkan doa sebagai bentuk syukur dan permohonan agar seluruh rangkaian ibadah yang telah dijalankan diterima oleh Allah SWT.
Mengenal Makna dan Sejarah Sa’i
Secara bahasa, sa’i memiliki arti berjalan atau berusaha dengan sungguh-sungguh. Dalam konteks ibadah, sa’i merujuk pada aktivitas berjalan bolak-balik sebanyak tujuh kali antara Bukit Shafa dan Bukit Marwah. Ritual ini merupakan bentuk napak tilas atas perjuangan Ibunda Hajar, istri Nabi Ibrahim AS, saat mencari air untuk putranya, Nabi Ismail AS, di tengah padang pasir yang tandus.
Pelaksanaan sa’i dimulai dari Bukit Shafa dan berakhir di Bukit Marwah. Jarak antara kedua bukit ini sekitar 405 meter, sehingga total jarak yang ditempuh jemaah dalam tujuh kali putaran adalah kurang lebih 2,8 kilometer.
Hukum Melaksanakan Sa’i dalam Ibadah Haji dan Umrah
Para ulama memiliki beberapa pandangan mengenai kedudukan hukum sa’i dalam rangkaian ibadah haji dan umrah, di antaranya adalah sebagai berikut:
- Rukun Haji dan Umrah: Mazhab Syafi’i, Maliki, dan Hanbali menetapkan bahwa sa’i adalah rukun yang wajib dilaksanakan. Jika jemaah meninggalkan sa’i, maka ibadah haji atau umrahnya dianggap tidak sah dan tidak dapat diganti dengan denda (dam).
- Wajib Haji: Menurut Imam Abu Hanifah, sa’i berstatus sebagai wajib haji. Artinya, jika seseorang meninggalkannya, hajinya tetap sah namun ia dikenakan kewajiban untuk membayar dam.
- Sunnah: Sebagian ulama seperti Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, dan Ibnu Sirin berpendapat bahwa sa’i adalah ibadah sunnah, sehingga tidak ada kewajiban membayar dam bagi yang tidak mengerjakannya. Namun, mayoritas umat Islam di Indonesia mengikuti pendapat yang menyatakan sa’i sebagai rukun.
Syarat Sah Pelaksanaan Sa’i
Agar ibadah sa’i dianggap sah secara syariat, jemaah harus memenuhi beberapa syarat utama, yaitu:
- Didahului dengan tawaf yang sah (Tawaf Ifadhah atau Tawaf Umrah).
- Memulai perjalanan dari Bukit Shafa dan mengakhirinya di Bukit Marwah.
- Dilakukan sebanyak tujuh kali perjalanan (dari Shafa ke Marwah dihitung satu kali, dan Marwah ke Shafa dihitung satu kali).
- Melintasi jalur yang telah ditetapkan (Mas’a).
- Dilakukan secara berurutan tanpa jeda yang terlalu lama (muwalat), meskipun beristirahat sejenak diperbolehkan jika merasa lelah.
Bacaan Doa Sesudah Sa’i di Bukit Marwah
Setelah sampai di Bukit Marwah pada hitungan ketujuh, jemaah disunnahkan menghadap kiblat sambil mengangkat tangan dan membaca doa berikut ini:
اَللّٰهُمَّ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا وَعَافِنَا وَاعْفُ عَنَّا، وَعَلَى طَاعَتِكَ وَشُكْرِكَ أَعِنَّا، وَعَلَى غَيْرِكَ لَا تَكِلْنَا، وَعَلَى الْإِيْمَانِ وَالْإِسْلَامِ الْكَامِلِ جَمِيْعًا تَوَفَّنَا وَأَنْتَ رَاضٍ عَنَّا. اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنِيْ بِتَرْكِ الْمَعَاصِيْ أَبَدًا مَا أَبْقَيْتَنِيْ، وَارْحَمْنِيْ أَنْ أَتَكَلَّفَ مَا لَا يَعْنِيْنِيْ، وَارْزُقْنِيْ حُسْنَ النَّظَرِ فِيْمَا يُرْضِيْكَ عَنَّا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
Latin: Allahumma rabbanaa taqabbal minna wa’aafinaa wa’fu ‘anna, wa ‘alaa tha’atika wa syukrika a’inna, wa ‘alaa ghairika laa takilnaa wa ‘alaal iimani wal islaamil kaamili jamii’an tawaffanaa wa anta raadhin ‘annaa. Allahummarhamnii bitarkil ma’aasii abadan maa abqaitanii warhamnii an atakallafa maa laa ya’niinii warzuqnii khusnan nadhori fiimaa yurdhiika ‘annaa yaa arhamar raahimiin.
Artinya: "Ya Allah, terimalah amalan kami, sehatkanlah kami, maafkanlah kesalahan kami dan tolonglah kami untuk taat dan bersyukur kepada-Mu. Jangan Engkau jadikan kami bergantung selain kepada-Mu. Matikanlah kami dalam iman dan Islam secara sempurna dan Engkau ridha. Ya Allah rahmatilah kami sehingga mampu meninggalkan segala maksiat selama hidup kami, dan rahmatilah kami sehingga tidak berbuat hal yang tidak berguna. Karuniakanlah kami pandangan yang baik terhadap apa-apa yang membuat-Mu ridha terhadap kami, wahai Tuhan Yang Maha Pengasih dari segala yang pengasih."
Doa ini mengandung permohonan yang sangat komprehensif, mulai dari permintaan agar ibadah diterima, kesehatan fisik, keteguhan iman, hingga perlindungan dari perbuatan maksiat. Membaca doa ini di Bukit Marwah menjadi penutup yang indah sebelum jemaah melanjutkan ke tahapan berikutnya, yaitu tahallul atau memotong rambut.







