ruangdoa.com – Nabi Nuh AS merupakan utusan Allah SWT yang memiliki kesabaran luar biasa dalam menjalankan misi dakwah kepada kaum Bani Rasib. Selama hampir satu milenium atau tepatnya 950 tahun, beliau berusaha mengajak kaumnya kembali ke jalan tauhid dan meninggalkan kesesatan. Berdasarkan catatan sejarah dalam buku Mutiara Kisah 25 Nabi dan Rasul, Bani Rasib dikenal sebagai masyarakat yang sangat congkak, zalim, dan sangat mendewakan harta kekayaan. Mereka memandang rendah orang-orang fakir dan menjadikan materi sebagai standar utama dalam mengukur harga diri serta martabat manusia.
Selain masalah kesenjangan sosial yang parah, Bani Rasib juga terjerumus dalam kegelapan spiritual dengan menyembah berhala. Dalam kitab Qashash Anbiya karya Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa tujuan utama Nabi Nuh AS berdakwah adalah untuk menyelamatkan mereka agar tidak terus tenggelam dalam kesesatan. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an surah Al-Ankabut ayat 14 yang menyebutkan bahwa Nabi Nuh AS tinggal bersama kaumnya selama seribu tahun kurang lima puluh tahun, namun mayoritas dari mereka tetap memilih jalan kezaliman hingga akhirnya banjir besar datang melanda.
Perjuangan Nabi Nuh AS selama ratusan tahun tersebut menemui tantangan yang sangat berat karena setiap generasi Bani Rasib selalu berpesan kepada keturunan mereka untuk memerangi ajaran sang nabi. Merasa dawahnya telah mencapai titik buntu, Nabi Nuh AS akhirnya memohon keputusan dari Allah SWT melalui doa yang tercantum dalam surah Asy-Syu’ara ayat 117-118. Beliau meminta perlindungan bagi dirinya dan orang-orang mukmin dari gangguan kaumnya yang terus mendustakan kebenaran.
Menanggapi doa tersebut, Allah SWT memerintahkan Nabi Nuh AS untuk membangun sebuah bahtera besar. Meski saat proses pembuatan kapal beliau terus menerima cemoohan dan hinaan dari Bani Rasib, Nabi Nuh AS tetap teguh menjalankan perintah Sang Khalik. Setelah bahtera selesai, Allah SWT memerintahkan untuk memasukkan hewan secara berpasangan serta orang-orang yang beriman ke dalam kapal sebelum azab diturunkan.
Bencana banjir yang sangat dahsyat kemudian meluluhlantakkan seluruh wilayah tersebut. Menurut pendapat Ibnu Ishaq, banjir besar ini berlangsung selama dua tahun, dua bulan, dan 26 hari sebelum akhirnya air surut dan Nabi Nuh AS diperintahkan untuk turun dari bahtera. Peristiwa memilukan ini juga mencatat kematian putra Nabi Nuh AS sendiri yang bernama Kan’an, yang tewas tenggelam karena menolak untuk beriman kepada Allah SWT. Kisah ini menjadi pengingat sejarah tentang bagaimana kesombongan dan pengingkaran terhadap kebenaran akan berakhir pada kehancuran.








