Rahasia Perjalanan Isra Miraj dan Awal Mula Kewajiban Salat Lima Waktu

ruangdoa.com Peristiwa Isra Miraj merupakan salah satu mukjizat terbesar sekaligus momen paling bersejarah bagi umat Islam. Perjalanan agung ini dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Palestina, kemudian berlanjut hingga ke Sidratul Muntaha di langit ketujuh. Dasar hukum peristiwa ini tertuang jelas dalam Al-Qur’an surah Al-Isra ayat 1 yang menegaskan bahwa Allah SWT memperjalankan hamba-Nya pada malam hari untuk memperlihatkan sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya.

Secara garis besar, peristiwa ini terbagi menjadi dua bagian utama. Pertama adalah Isra, yaitu perjalanan darat malam hari dari Makkah ke Baitul Maqdis atau Masjidil Aqsa. Kedua adalah Miraj, yaitu proses diangkatnya Rasulullah SAW dari Masjidil Aqsa menuju langit ketujuh hingga sampai ke Sidratul Muntaha untuk menghadap Allah SWT. Berdasarkan catatan sejarah dalam buku 12 Bulan Mulia karya Abdurrahman Ahmad As, mayoritas ulama berpendapat bahwa peristiwa ini terjadi pada malam 27 Rajab tahun ke-10 kenabian atau sekitar satu tahun sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah.

Dalam perjalanan spiritual menuju ‘Arsy tersebut, Rasulullah SAW melewati tujuh tingkatan langit dan bertemu dengan para nabi terdahulu. Di langit pertama beliau bertemu Nabi Adam AS, langit kedua Nabi Isa AS dan Nabi Yahya AS, langit ketiga Nabi Yusuf AS, langit keempat Nabi Idris AS, langit kelima Nabi Harun AS, langit keenam Nabi Musa AS, dan langit ketujuh Nabi Ibrahim AS. Pertemuan-pertemuan ini menunjukkan kesinambungan risalah tauhid yang dibawa oleh para utusan Allah.

Puncak dari Miraj adalah saat Rasulullah SAW menerima perintah salat. Awalnya, Allah SWT memerintahkan salat sebanyak 50 waktu dalam sehari semalam. Namun, atas saran Nabi Musa AS yang merasa jumlah tersebut akan memberatkan umat Muhammad, Rasulullah SAW berulang kali kembali memohon keringanan kepada Allah. Setelah beberapa kali memohon, akhirnya Allah SWT menetapkan kewajiban salat menjadi lima waktu sehari semalam yang tetap memiliki pahala setara dengan 50 waktu.

Kembalinya Rasulullah SAW dari perjalanan tersebut memicu reaksi beragam dari penduduk Makkah. Abu Jahal dan kaum kafir Quraisy lainnya mengejek serta menganggap kisah tersebut sebagai kebohongan karena tidak masuk akal jika perjalanan sejauh itu ditempuh hanya dalam satu malam. Mereka bahkan menantang Rasulullah SAW untuk merinci ciri-ciri Masjidil Aqsa secara detail. Meski Nabi Muhammad mampu menjawabnya dengan sangat tepat, mereka tetap menolak percaya dan menuduh beliau terkena sihir.

Di tengah gelombang ketidakpercayaan tersebut, Abu Bakar muncul sebagai orang pertama yang membenarkan seluruh perkataan Rasulullah SAW tanpa ragu sedikit pun. Keimanan yang sangat kokoh ini membuat Abu Bakar mendapatkan julukan "Ash-Shiddiq" yang berarti orang yang selalu berkata benar dan membenarkan. Kisah ini menjadi pengingat bagi setiap muslim tentang pentingnya mengimani kekuasaan Allah yang melampaui logika manusia serta menjaga kedisiplinan dalam menjalankan ibadah salat lima waktu sebagai oleh-oleh utama dari perjalanan suci tersebut.

Catatan:
Semua doa itu baik, tergantung dari apa yang diyakini dan bagaimana hati meyakininya. Tidak ada doa yang salah, karena setiap doa adalah bentuk harapan dan penghambaan.

ruangdoa.com hanya berupaya menjadi perantara, tempat berbagi makna, tulisan, dan pengingat bahwa setiap kalimat yang diucap dengan keyakinan bisa menjadi jalan turunnya rahmat dari Allah SWT. Wallahu a'lam bishawab

Share:

Related Topics

Baca Juga