ruangdoa.com – Peristiwa turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW merupakan tonggak sejarah paling krusial dalam peradaban Islam yang menandai awal kenabian beliau. Kejadian agung ini berlangsung di Gua Hira, sebuah gua kecil yang terletak di Jabal Nur, sekitar 5 kilometer di utara Kota Makkah. Di tempat yang sunyi inilah, pada usia 40 tahun, Muhammad bin Abdullah menerima amanah besar sebagai utusan Allah SWT untuk membawa cahaya tauhid bagi seluruh umat manusia.
Sebelum menerima wahyu, Nabi Muhammad SAW sering melakukan khalwat atau menyendiri dari hiruk-pikuk masyarakat Makkah yang saat itu sedang berada dalam masa Jahiliyah. Beliau melakukan ibadah tahannuth, yakni merenung dan beribadah untuk mencari kebenaran tentang pencipta alam semesta beserta isinya. Aktivitas spiritual ini telah beliau lakukan secara konsisten sejak usia 30-an tahun sebagai bentuk persiapan batin sebelum akhirnya diutus menjadi nabi.
Berdasarkan catatan sejarah dalam buku Sejarah Terlengkap Nabi Muhammad SAW karya Abdurrahman bin Abdul Karim, momen bersejarah ini terjadi pada bulan Ramadan. Malaikat Jibril datang menemui Nabi Muhammad SAW dengan membawa perintah langsung dari Allah SWT. Dalam sebuah riwayat yang disampaikan oleh Ibnu Ishaq, diceritakan bahwa Jibril mendatangi Nabi saat beliau sedang tidur atau berada dalam kondisi antara sadar dan tidak, dengan membawa secarik kain sutra (dibaj) yang berisi tulisan.
Malaikat Jibril kemudian memerintahkan Nabi untuk membaca dengan berkata, "Iqra!" (Bacalah). Nabi Muhammad SAW yang merupakan seorang ummi (tidak bisa membaca dan menulis) menjawab, "Aku tidak bisa membaca." Proses ini berulang hingga tiga kali, di mana Jibril mendekap atau mencekik Nabi dengan erat hingga beliau merasa sangat sesak, lalu melepaskannya kembali. Hingga pada akhirnya, Jibril membacakan lima ayat pertama dari Surah Al-Alaq yang menjadi wahyu perdana dalam Al-Qur’an.
Berikut adalah bacaan Surah Al-Alaq ayat 1-5 yang diterima Nabi di Gua Hira:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ . خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ . اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ . الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ . عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
Iqra’ bismi rabbikal-ladzi khalaq. Khalaqal-insana min ‘alaq. Iqra’ wa rabbukal-akram. Alladzi ‘allama bil-qalam. ‘Allamal-insana ma lam ya’lam.
Artinya: "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan! Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Tuhanmulah Yang Maha Mulia, yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya."
Setelah Jibril pergi, Nabi Muhammad SAW terbangun dengan perasaan seolah-olah wahyu tersebut telah tertanam kuat di dalam hatinya. Beliau segera keluar dari gua dengan perasaan gemetar dan ketakutan yang luar biasa. Sesampainya di rumah, beliau menemui istrinya, Khadijah RA, dalam kondisi menggigil dan berseru, "Zammiluni, zammiluni!" yang berarti "Selimutilah aku, selimutilah aku!".
Khadijah RA dengan penuh kasih sayang menenangkan beliau dan kemudian membawa Nabi menemui sepupunya, Waraqah bin Naufal. Waraqah adalah seorang yang memahami kitab-kitab terdahulu dan penganut agama monoteistik. Setelah mendengar cerita Nabi, Waraqah memberikan konfirmasi bahwa yang mendatangi Muhammad adalah Namus (Malaikat Jibril) yang dahulu juga pernah mendatangi Nabi Musa AS. Waraqah menegaskan bahwa Muhammad adalah nabi yang telah dinantikan kehadirannya. Peristiwa di Gua Hira ini pun secara resmi menandai dimulainya misi dakwah Islam yang berlangsung selama 23 tahun hingga wafatnya Rasulullah SAW.








