ruangdoa.com – Dalam sejarah peradaban Islam, Nabi Musa AS dikenal sebagai sosok tangguh yang mendapatkan gelar Kalimullah atau orang yang diajak bicara langsung oleh Allah SWT. Namun, di balik keistimewaan tersebut, Nabi Musa pernah merasa tidak percaya diri dengan kemampuan bicaranya saat mengemban tugas berat untuk berdakwah kepada Fir’aun. Kisah ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya memohon pertolongan Allah di tengah keterbatasan manusiawi.
Tugas dakwah Nabi Musa bermula ketika Allah SWT memerintahkannya untuk mendatangi Fir’aun, seorang penguasa Mesir yang sangat sombong dan melampaui batas. Sebagaimana termaktub dalam Surah Thaha ayat 24, Allah berfirman yang artinya, "Pergilah kepada Fir’aun; sesungguhnya ia telah melampaui batas." Menghadapi penguasa yang memiliki kekuatan militer dan pengaruh besar tentu membutuhkan kemampuan komunikasi yang luar biasa agar pesan kebenaran tidak disalahpahami.
Berdasarkan literatur klasik seperti kitab Qashashul Anbiya karya Imam Ibnu Katsir, Nabi Musa memiliki riwayat gangguan pada lisannya sejak masih balita. Hal ini terjadi saat beliau diuji oleh Fir’aun dengan dua pilihan antara buah-buahan dan bara api. Atas bimbingan malaikat untuk menyelamatkan nyawanya, Musa kecil mengambil bara api dan memasukkannya ke dalam mulut. Kejadian ini menyebabkan lidah beliau menjadi kaku dan ucapannya sulit dipahami dengan jelas.
Menyadari kekurangan fisik tersebut, Nabi Musa tidak mengandalkan logikanya semata, melainkan bersimpuh memohon kekuatan kepada Sang Pencipta. Beliau memanjatkan doa yang kini diabadikan dalam Al-Qur’an Surah Thaha ayat 25-28:
“Rabbisyrahlī shadrī wayassirlī amrī wahlul ‘uqdatan min lisānī yafqahū qaulī.”
Doa ini mengandung empat permohonan utama. Pertama, meminta kelapangan dada agar memiliki kesabaran ekstra. Kedua, memohon kemudahan dalam segala urusan. Ketiga, meminta agar kekakuan pada lidahnya dilepaskan. Keempat, agar setiap perkataan yang keluar dari lisan beliau dapat dipahami dengan baik oleh lawan bicaranya.
Permohonan yang tulus ini langsung dijawab oleh Allah SWT. Dalam Surah Thaha ayat 36, Allah berfirman, "Sesungguhnya telah diperkenankan permintaanmu, wahai Musa." Allah tidak hanya memberikan kelancaran lisan, tetapi juga mengizinkan saudara beliau, Nabi Harun AS yang dikenal lebih fasih berbicara, untuk mendampingi perjuangan Musa dalam berdakwah.
Bagi umat Muslim saat ini, doa Nabi Musa ini memiliki relevansi yang sangat tinggi dalam kehidupan sehari-hari. Doa ini tidak hanya digunakan untuk urusan dakwah, tetapi juga sangat efektif diamalkan ketika seseorang hendak melakukan presentasi, menghadapi wawancara kerja, berbicara di depan umum, atau saat harus menyelesaikan konflik melalui komunikasi. Pelajaran penting dari kisah ini adalah bahwa keberhasilan sebuah komunikasi bukan hanya bergantung pada teknik retorika, melainkan pada ketenangan hati dan izin dari Allah SWT.








