ruangdoa.com – Rabi’ah al-Adawiyah merupakan sosok teladan dalam konsep zuhud dan penghambaan total kepada Sang Pencipta. Sepanjang hidupnya, ia mendedikasikan diri sepenuhnya hanya untuk mencari rida Allah SWT tanpa mengharapkan balasan duniawi. Kisah hidupnya yang penuh rintangan memberikan pelajaran berharga mengenai arti kesabaran dan ketulusan dalam beribadah.
Berdasarkan catatan sejarah dalam buku 198 Kisah Haji Wali-Wali Allah karya Abdurrahman Ahmad As-Sirbuny, Rabi’ah lahir dari keluarga sederhana di Basrah, Irak. Sebagai anak keempat dari empat bersaudara, ia harus menghadapi kenyataan pahit menjadi yatim piatu di usia muda setelah kedua orang tuanya wafat. Kondisi semakin memburuk saat bencana kelaparan hebat melanda kota kelahirannya, yang mengakibatkan ia terpisah dari saudara-saudaranya. Dalam situasi kacau tersebut, seorang penjahat menangkap Rabi’ah dan menjualnya sebagai budak hanya seharga enam dirham.
Selama menjadi budak, Rabi’ah diperlakukan dengan sangat kasar oleh tuannya. Suatu ketika, saat mengalami cedera tangan yang cukup parah, ia tidak mengeluh atas rasa sakitnya melainkan bersimpuh dalam doa. Ia menyatakan bahwa statusnya sebagai orang asing yang tidak memiliki keluarga dan kondisinya sebagai tawanan tidaklah menyedihkan, asalkan ia mengetahui bahwa Allah SWT rida kepadanya. Dalam kepasrahan tersebut, sebuah suara gaib memberikan kekuatan kepadanya dengan menyatakan bahwa kelak ia akan dimuliakan hingga membuat para malaikat merasa iri.
Sejak peristiwa itu, Rabi’ah membagi waktunya dengan sangat disiplin: bekerja sembari berpuasa pada siang hari dan menghabiskan seluruh malamnya untuk bermunajat. Ketulusan ibadahnya inilah yang kemudian menggerakkan hati sang majikan untuk membebaskannya dari status perbudakan. Setelah mendapatkan kebebasannya, Rabi’ah memfokuskan hidupnya pada perjalanan spiritual, termasuk menunaikan ibadah haji ke Makkah meski dalam kondisi fisik yang terbatas dan penuh kepayahan.
Memasuki usia senja, Rabi’ah tetap menjaga konsistensi dalam beribadah hingga saat ia dipanggil kembali ke rahmatullah. Sebuah kisah populer menyebutkan bahwa setelah wafatnya, seseorang bermimpi bertemu dengan Rabi’ah dan bertanya mengenai pengalamannya menghadapi Malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur.
Dalam mimpi tersebut, diceritakan bahwa Rabi’ah memberikan jawaban yang sangat mendalam saat ditanya mengenai siapa Tuhannya. Ia menekankan bahwa cintanya kepada Allah begitu besar sehingga tidak ada ruang bagi rasa takut selain kepada-Nya. Ia mengucapkan doa yang kini menjadi sangat masyhur di dunia Islam: "Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya. Jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga, haramkanlah aku darinya. Namun, jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata, maka janganlah Engkau tutup keindahan wajah-Mu yang abadi dariku."
Kisah Rabi’ah al-Adawiyah mengajarkan kita bahwa puncak tertinggi dari sebuah ibadah adalah Mahabbah atau cinta murni kepada Allah SWT, di mana seorang hamba tidak lagi mengharapkan imbalan melainkan hanya mengharap perjumpaan dengan Sang Khalik. Semoga kisah ini menjadi inspirasi bagi kita untuk memperbaiki niat dalam setiap amal ibadah yang dilakukan.








