Indahnya Ma’idatur Rahman Tradisi Buka Puasa Bersama yang Menyatukan Umat di Libya

ruangdoa.com – Ramadan di Libya selalu menghadirkan suasana penuh kehangatan melalui tradisi yang disebut Ma’idatur Rahman. Secara harfiah, istilah ini memiliki arti "Hidangan dari Allah Yang Maha Pengasih". Tradisi ini merupakan kegiatan buka puasa bersama yang diselenggarakan di pelataran atau halaman masjid dan terbuka bagi siapa saja, mulai dari warga lokal, musafir, hingga pekerja migran.

Pelaksanaan Ma’idatur Rahman memiliki keunikan tersendiri di setiap wilayah. Di Kota Zliten, tepatnya di Masjid Sidi Syekh Abdussalam Al Asmar, para jemaah berbuka dengan cara duduk di atas karpet panjang yang digelar di pelataran masjid. Pemandangan berbeda terlihat di Masjid Jam’iyyat ad-Da’wah al-Islamiyah yang berada di pusat ibu kota Tripoli. Di sana, pihak penyelenggara menyediakan meja dan kursi yang disusun rapi untuk menyambut para tamu Allah.

Menjelang waktu Magrib, suasana masjid mulai ramai. Para relawan yang terdiri dari pemuda dan anak-anak sibuk membagikan kurma serta air mineral. Tradisi ini menonjolkan sisi kesetaraan dalam Islam, di mana para ulama (masyayikh), pedagang, mahasiswa, hingga pekerja asing duduk berdampingan tanpa ada sekat status sosial. Mereka berkumpul dalam satu tujuan, yakni menjalankan perintah agama dan mempererat silaturahmi.

Menu yang disajikan dalam Ma’idatur Rahman sangat beragam dan kental dengan cita rasa kuliner Libya. Hidangan biasanya terdiri dari kurma, susu, air mineral, serta aneka jus (ashir). Untuk makanan berat, tersedia Syurba (sup khas Libya), Couscous yang merupakan makanan pokok di Afrika Utara, nasi, makaroni, hingga berbagai masakan rumahan lainnya. Menu ini biasanya berganti setiap hari agar jemaah tidak merasa bosan.

Secara teknis, proses buka puasa di Libya terbagi menjadi dua sesi utama:

  1. Sesi Pertama: Dilakukan tepat saat azan Magrib berkumandang. Jemaah membatalkan puasa dengan makanan ringan seperti kurma, susu, atau camilan ringan. Setelah itu, seluruh jemaah melaksanakan salat Magrib berjamaah terlebih dahulu.
  2. Sesi Kedua: Dilakukan setelah salat Magrib selesai. Jemaah kembali ke tempat duduk untuk menyantap hidangan utama. Uniknya, makanan disajikan dalam nampan besar yang dinikmati oleh empat orang secara bersama-sama. Kebersamaan ini diakhiri dengan sajian penutup berupa makanan ringan dan minuman hangat.

Ma’idatur Rahman bukan sekadar kegiatan makan bersama, melainkan manifestasi nyata dari nilai-nilai persatuan umat. Tradisi ini menjadi penyejuk bagi mereka yang merantau dan memastikan tidak ada satu pun orang yang berbuka dalam kesendirian. Hal ini sejalan dengan pesan persatuan dalam Al-Qur’an Surah Ali ‘Imran ayat 103 yang memerintahkan umat Islam untuk berpegang teguh pada tali agama Allah dan tidak bercerai-berai. Melalui kedermawanan masyarakat Libya, masjid menjadi pusat kasih sayang dan persaudaraan selama bulan suci Ramadan.

Catatan:
Semua doa itu baik, tergantung dari apa yang diyakini dan bagaimana hati meyakininya. Tidak ada doa yang salah, karena setiap doa adalah bentuk harapan dan penghambaan.

ruangdoa.com hanya berupaya menjadi perantara, tempat berbagi makna, tulisan, dan pengingat bahwa setiap kalimat yang diucap dengan keyakinan bisa menjadi jalan turunnya rahmat dari Allah SWT. Wallahu a'lam bishawab

Share:

Related Topics

Baca Juga