ruangdoa.com – Ibadah sahur merupakan salah satu sunnah yang sangat dianjurkan bagi umat Islam sebelum memulai puasa. Rasulullah SAW menekankan pentingnya sahur karena di dalamnya terdapat keberkahan yang besar. Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, beliau bersabda bahwa umat Islam diperintahkan untuk bersahur karena adanya unsur barakah di dalamnya. Namun, sering kali muncul pertanyaan mengenai kebiasaan tidur kembali setelah menyantap makanan sahur.
Banyak orang beranggapan bahwa tidur saat berpuasa adalah ibadah. Anggapan ini didasari oleh hadits yang menyatakan bahwa tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, dan doanya dikabulkan. Namun, perlu dipahami bahwa hadits tersebut dinilai lemah (da’if) oleh para ulama, termasuk yang dijelaskan dalam buku Setetes Embun Hikmah karya Muhammad Arham. Menjadikan hadits ini sebagai pembenaran untuk bermalas-malasan atau memperbanyak tidur adalah hal yang kurang tepat.
Tidur pada dasarnya adalah aktivitas mubah atau boleh dilakukan. Tidur baru bernilai ibadah jika diniatkan untuk mengumpulkan kekuatan agar bisa beribadah dengan lebih maksimal atau untuk menghindari perbuatan maksiat selama berpuasa. Sebaliknya, tidur yang didasari rasa malas atau kekenyangan setelah sahur justru dianggap sebagai aktivitas yang tercela dan tidak mendatangkan pahala.
Dari sisi kesehatan dan fiqih, langsung tidur setelah sahur tidak dianjurkan. Dalam buku Fiqih Puasa karya M. Hasyim Ritonga, dijelaskan bahwa tubuh memerlukan jeda untuk mencerna makanan. Saat tidur, metabolisme tubuh melambat dan gerakan usus menjadi sangat pasif. Jika perut dalam kondisi penuh langsung dibawa tidur, proses pencernaan akan terganggu dan makanan tertahan terlalu lama di dalam usus, yang berisiko bagi kesehatan lambung.
Syekh Burhanuddin Al-Zarnujiy dalam kitab Ta’lim Al-Muta’allim memberikan saran agar seseorang tidak langsung tidur setelah makan malam atau sahur. Beliau menganjurkan untuk melakukan aktivitas ringan seperti berjalan atau berkeliling terlebih dahulu agar makanan dapat tercerna dengan baik. Rasulullah SAW sendiri memberikan teladan dengan cara mengakhirkan waktu sahur (ta’khir sahur) hingga mendekati waktu Subuh. Tujuannya agar setelah makan, umat Islam bisa langsung menunaikan shalat Subuh tanpa ada jeda untuk tidur kembali.
Agar ibadah sahur memberikan manfaat optimal, terdapat beberapa adab yang perlu diperhatikan oleh setiap muslim sesuai dengan tuntunan agama:
Pertama, makan dan minum secukupnya sesuai tuntunan Islam. Tidak berlebihan dalam mengonsumsi makanan saat sahur akan mencegah rasa kantuk yang berat setelahnya.
Kedua, mengakhirkan waktu sahur. Waktu terbaik untuk sahur adalah menjelang terbit fajar atau waktu imsak. Hal ini sesuai dengan perintah Rasulullah SAW agar umatnya menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur guna menjaga kebugaran tubuh selama berpuasa.
Ketiga, menjaga kebersihan mulut dengan menggosok gigi. Setelah selesai bersahur, sangat dianjurkan untuk membersihkan sisa makanan menggunakan siwak atau sikat gigi. Selain menjaga kesegaran napas, membersihkan mulut merupakan perbuatan yang dicintai Allah SWT sebagaimana hadits riwayat Nasa’i.
Keempat, mengisi waktu setelah sahur dengan aktivitas bermanfaat. Alih-alih tidur, umat Islam dianjurkan memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur’an, atau bersiap untuk melakukan aktivitas produktif seperti belajar dan bekerja. Dengan tetap terjaga setelah sahur, metabolisme tubuh tetap terjaga dan keberkahan pagi hari dapat diraih sepenuhnya.








