Sejarah Kelam Masjid Dhirar yang Dibakar Atas Perintah Rasulullah SAW

ruangdoa.com – Masjid dalam peradaban Islam bukan sekadar struktur bangunan fisik, melainkan simbol ketakwaan dan pusat persatuan bagi umat beriman. Al-Qur’an dan hadits menegaskan bahwa setiap pembangunan masjid wajib dilandasi niat ikhlas untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Namun, sejarah mencatat sebuah peristiwa unik sekaligus peringatan keras mengenai berdirinya sebuah tempat ibadah yang justru dibangun untuk merusak Islam dari dalam, yang dikenal sebagai Masjid Dhirar.

Kisah ini berawal dari sosok Abu Amir, seorang pendeta Nasrani dari kabilah Al-Khazraj di Madinah. Sebelum kedatangan Islam, ia adalah tokoh yang sangat dihormati karena pengetahuannya sebagai ahli kitab. Namun, popularitas dan pengaruh Rasulullah SAW yang semakin kuat di Madinah memicu kebencian mendalam di hati Abu Amir. Ia berubah menjadi musuh nyata yang aktif menghasut kaum kafir Quraisy pada Perang Badar dan bahkan menggali lubang jebakan pada Perang Uhud yang mengakibatkan Rasulullah SAW terluka cukup parah.

Setelah gagal memengaruhi kaum Anshar untuk meninggalkan Nabi Muhammad SAW, Abu Amir melarikan diri ke Romawi untuk meminta bantuan militer kepada Raja Heraklius. Dari pengasingannya, ia mengirim pesan kepada kelompok munafik di Madinah untuk membangun sebuah markas dengan kedok masjid. Bangunan ini didirikan tidak jauh dari Masjid Quba dengan tujuan strategis sebagai tempat berkumpulnya para penentang Islam dan memecah belah kekuatan kaum Muslimin.

Untuk melegitimasi bangunan tersebut, para pengikut Abu Amir mendatangi Rasulullah SAW dengan alasan yang terdengar sangat mulia. Mereka berdalih bahwa masjid tersebut dibangun khusus untuk membantu orang-orang sakit, kaum fakir, serta sebagai tempat berteduh saat malam yang dingin dan berangin. Mereka bahkan memohon agar Rasulullah SAW berkenan melakukan salat di sana sebagai bentuk peresmian.

Rasulullah SAW awalnya menyetujui permintaan tersebut namun menundanya karena sedang bersiap untuk ekspedisi Perang Tabuk. Sekembalinya dari perang, saat beliau hendak menepati janjinya, Allah SWT menurunkan wahyu melalui Malaikat Jibril yang mengungkap niat busuk di balik pembangunan gedung tersebut. Wahyu ini termaktub dalam Surah At-Taubah ayat 107-108.

Dalam ayat tersebut, Allah SWT menegaskan bahwa bangunan itu adalah "Masjid Dhirar" atau masjid yang membawa bencana, kekufuran, dan perpecahan. Allah SWT melarang Rasulullah SAW untuk salat di dalamnya dan justru memerintahkan beliau untuk tetap berada di masjid yang dibangun atas dasar takwa sejak hari pertama, yakni Masjid Quba.

Mendengar wahyu tersebut, Rasulullah SAW segera mengambil tindakan tegas. Beliau mengutus Malik bin Ad-Dukhsyum, Ma’an bin Adi, dan Wahsyi untuk mendatangi lokasi tersebut. Atas perintah Nabi, para sahabat membakar dan meruntuhkan bangunan itu hingga rata dengan tanah. Orang-orang munafik yang berada di dalamnya lari kocar-kacir menyelamatkan diri. Setelah dihancurkan, lokasi bekas Masjid Dhirar tersebut kemudian dijadikan tempat pembuangan sampah dan bangkai binatang.

Para ulama tafsir, termasuk Az-Zamakhsyari dan Al-Qurthubi, memberikan catatan penting bahwa hukum Masjid Dhirar berlaku bagi setiap tempat ibadah yang dibangun dengan tujuan riya, mencari popularitas, atau niat tersembunyi untuk membahayakan umat Islam. Esensi dari peristiwa ini bukan sekadar penghancuran bangunan, melainkan penolakan terhadap segala bentuk kemunafikan yang dibungkus dengan simbol agama.

Di era modern, tokoh pemikir seperti Sayyid Quthb mengingatkan bahwa konsep "Dhirar" bisa muncul dalam berbagai wujud. Tidak hanya berupa bangunan fisik, tetapi bisa berupa organisasi, gerakan, hingga tulisan-tulisan yang secara lahiriah tampak Islami namun memiliki misi untuk melemahkan akidah dan memecah belah persatuan kaum Muslimin. Peristiwa Masjid Dhirar menjadi pelajaran abadi bahwa Allah SWT tidak melihat kemegahan fisik sebuah bangunan, melainkan ketulusan niat dan ketakwaan para pembangunnya.

Catatan:
Semua doa itu baik, tergantung dari apa yang diyakini dan bagaimana hati meyakininya. Tidak ada doa yang salah, karena setiap doa adalah bentuk harapan dan penghambaan.

ruangdoa.com hanya berupaya menjadi perantara, tempat berbagi makna, tulisan, dan pengingat bahwa setiap kalimat yang diucap dengan keyakinan bisa menjadi jalan turunnya rahmat dari Allah SWT. Wallahu a'lam bishawab

Share:

Related Topics

Baca Juga