ruangdoa.com – Mengenal sosok sahabat Nabi Muhammad SAW tidak hanya memberikan wawasan sejarah, tetapi juga inspirasi mendalam tentang ketakwaan. Salah satu figur yang sangat istimewa adalah Haritsah bin al-Nu’man. Ia merupakan sahabat dari kalangan Anshar yang berasal dari kabilah Khazraj dan keturunan Bani Najjar. Memiliki kunyah Abu Abdullah, nasab lengkapnya adalah Haritsah bin Nu’man bin Nufai’ bin Zaid bin Ubaid bin Tsa’labah bin Ghanm bin Malik bin Najjar. Kedudukannya di Madinah sangat dihormati, namun yang paling membuatnya dikenal adalah karamah serta baktinya yang luar biasa kepada sang ibu.
Dalam catatan sejarah Islam, Haritsah bin al-Nu’man dianugerahi pengalaman spiritual yang sangat langka, yaitu bertemu dengan Malaikat Jibril dalam wujud manusia. Pengalaman ini tidak hanya terjadi sekali, melainkan beberapa kali dalam momen krusial perjuangan dakwah Rasulullah SAW. Berdasarkan literatur sejarah, pertemuan pertama terjadi saat Perang Shaurain ketika Rasulullah SAW hendak menghadapi Bani Quraizah. Saat itu, Haritsah melihat Jibril melintas dalam wujud seorang komandan pasukan yang memerintahkan kaum Muslimin untuk bersiap dengan senjata mereka.
Pertemuan kedua yang tak kalah menggetarkan terjadi setelah Perang Hunain. Saat itu, Haritsah sedang sibuk bersama rombongannya menguburkan para syuhada. Ia melihat Rasulullah SAW sedang berbincang dengan seseorang. Karena sifatnya yang sangat sopan dan menjaga adab, Haritsah memilih untuk tidak menyela atau mengucapkan salam agar tidak mengganggu percakapan tersebut. Ternyata, sosok yang berbincang dengan Nabi adalah Malaikat Jibril.
Kejadian ini dikonfirmasi langsung oleh Rasulullah SAW setelah Jibril bertanya mengenai sosok yang baru saja lewat. Jibril kemudian memuji Haritsah sebagai bagian dari kelompok "samanin", yaitu 80 orang yang tetap sabar dan teguh dalam Perang Hunain. Atas kesabarannya tersebut, Jibril menyampaikan bahwa rezeki Haritsah beserta anak-anaknya telah dijamin oleh Allah SWT di dalam surga.
Selain karamah bertemu malaikat, keutamaan terbesar Haritsah bin al-Nu’man yang paling sering ditekankan adalah baktinya kepada orang tua (birrul walidain). Ia dikenal sebagai anak yang sangat patuh, lemah lembut, dan selalu mendahulukan kebutuhan ibunya di atas kepentingan pribadi. Ketulusan ini membuatnya mendapatkan kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah SWT.
Rasulullah SAW bahkan pernah memberikan kesaksian langsung mengenai posisi Haritsah di akhirat. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanad yang shahih, Aisyah RA menceritakan bahwa Nabi SAW pernah bermimpi berada di surga dan mendengar suara seseorang sedang membaca Al-Qur’an. Saat Nabi bertanya siapa orang tersebut, para malaikat menjawab bahwa itu adalah Haritsah bin al-Nu’man.
Mendengar hal itu, Rasulullah SAW bersabda bahwa demikianlah ganjaran dari sebuah bakti. Beliau menegaskan bahwa Haritsah adalah orang yang paling berbakti kepada ibunya di antara para sahabat lainnya. Haritsah tidak pernah membantah perkataan ibunya dan selalu berusaha menjaga perasaan sang ibu dalam setiap keadaan.
Kisah Haritsah bin al-Nu’man memberikan pelajaran berharga bagi umat Muslim bahwa jalan menuju surga bisa ditempuh melalui pintu pengabdian kepada orang tua. Meskipun ia adalah seorang pejuang yang tangguh di medan perang, justru ketulusannya dalam merawat ibunya yang menjadi sebab utama namanya harum di langit dan disebut-sebut oleh penduduk surga.








