ruangdoa.com Abu Ad-Darda al-Anshari merupakan salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang memiliki perjalanan hidup sangat kontras dan penuh hikmah. Lahir dengan nama asli Uwaimir bin Amir dari suku Khazraj, ia awalnya dikenal sebagai seorang pedagang sukses yang sangat kaya di Madinah. Namun, setelah hidayah menyapa, ia memilih untuk meninggalkan gemerlap dunia demi mengejar kedalaman ilmu dan ibadah.
Proses keislaman Abu Ad-Darda tergolong unik. Ia adalah anggota suku Khazraj terakhir yang memeluk Islam. Sebelum beriman, ia adalah sosok yang sangat tekun merawat berhala pribadinya dengan memberikan wewangian dan pakaian sutra. Sahabat karibnya, Abdullah bin Rawahah, berulang kali mengajaknya masuk Islam namun selalu ditolak.
Puncak titik balik hidupnya terjadi ketika Abdullah bin Rawahah secara diam-diam menghancurkan berhala milik Abu Ad-Darda. Saat pulang dan melihat berhalanya hancur berkeping-keping, Abu Ad-Darda bukannya marah besar, melainkan justru termenung. Ia menyadari bahwa jika berhala tersebut benar-benar tuhan, seharusnya ia mampu melindungi dirinya sendiri dari kehancuran. Kesadaran logis inilah yang membawanya langsung menemui Rasulullah SAW untuk bersyahadat.
Pasca memeluk Islam, Abu Ad-Darda melakukan transformasi besar. Ia yang semula sibuk dengan urusan perniagaan, kini memfokuskan seluruh waktunya untuk mempelajari Al-Qur’an dan hadis. Ia pun dikenal sebagai salah satu dari sedikit sahabat yang berhasil mengumpulkan dan menghafal Al-Qur’an pada masa Rasulullah SAW masih hidup.
Salah satu ajaran Abu Ad-Darda yang paling terkenal adalah mengenai konsep zuhud. Ia sangat menjaga agar hatinya tidak "tercerai-berai", sebuah istilah yang ia gunakan untuk menggambarkan kondisi seseorang yang pikirannya terpecah karena terlalu memikirkan aset kekayaan di berbagai tempat. Baginya, kekayaan sejati adalah merasa cukup dengan apa yang ada dan tidak diperbudak oleh keinginan duniawi.
Prinsip hidup ini ia terapkan secara nyata dalam keluarganya. Sebuah peristiwa bersejarah mencatat saat ia menolak lamaran Yazid bin Muawiyah, putra dari Khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan, yang ingin meminang putrinya. Abu Ad-Darda justru menikahkan putrinya dengan seorang pemuda sederhana yang taat beragama. Ia beralasan bahwa kemewahan istana dikhawatirkan akan merusak nilai spiritual dan agama sang putri.
Kepada para sahabatnya, Abu Ad-Darda sering memberikan peringatan keras mengenai harta. Ia berpesan bahwa harta yang dikumpulkan manusia pada akhirnya hanya akan diwariskan kepada dua kemungkinan anak: anak saleh yang menggunakan harta itu untuk ketaatan sehingga orang tuanya tidak mendapat pahala tambahan, atau anak durhaka yang menggunakannya untuk maksiat sehingga menambah beban dosa bagi orang tuanya yang bersusah payah mengumpulkannya.
Abu Ad-Darda mengajarkan bahwa rezeki telah diatur oleh Allah SWT. Ia memberikan analogi yang sangat kuat bahwa rezeki akan mengejar manusia sekuat kematian mengejar nyawa. Dengan keyakinan ini, ia menghabiskan sisa hidupnya sebagai pakar agama dan hakim di wilayah Syam (Suriah), menjadi pelita bagi umat dengan ilmu dan kezuhudannya yang luar biasa.








