ruangdoa.com Sejarah mencatat masa kepemimpinan Firaun sebagai salah satu periode paling kelam bagi Bani Israil di Mesir. Pada masa itu, Firaun bertindak sangat sombong dan sewenang-wenang dengan memperbudak penduduknya. Bani Israil yang awalnya hidup damai sejak zaman Nabi Yusuf AS, berubah menjadi golongan yang tertindas. Mereka dipaksa bekerja membangun istana dan bangunan megah tanpa upah, bahkan sering mendapatkan siksaan fisik jika menolak perintah.
Puncak kekejaman Firaun terjadi ketika seorang ahli nujum meramalkan bahwa kekuasaannya akan runtuh di tangan seorang laki-laki dari keturunan Bani Israil. Merasa terancam, Firaun mengeluarkan perintah keji untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir dari kalangan Bani Israil. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Qasas ayat 4 yang menjelaskan bagaimana Firaun memecah belah penduduk dan menyembelih anak-anak laki-laki mereka demi mempertahankan singgasananya.
Di tengah situasi yang mencekam tersebut, lahirnya Nabi Musa AS menjadi bukti nyata kekuasaan Allah SWT. Ibu Nabi Musa yang bernama Yukabad merasa sangat khawatir akan keselamatan bayinya. Namun, Allah memberikan ilham kepadanya agar tidak takut dan bersedih. Melalui surat Al-Qasas ayat 7, Allah memerintahkan Yukabad untuk menyusui bayinya, dan jika merasa terancam, ia harus menghanyutkan Musa ke Sungai Nil menggunakan sebuah peti. Allah menjanjikan bahwa bayi tersebut akan kembali ke pelukannya dan kelak diangkat menjadi seorang Rasul.
Peti yang membawa bayi Musa akhirnya ditemukan oleh para dayang di tepi sungai dan dibawa ke hadapan Asiyah binti Muzahim, istri Firaun. Berbeda dengan suaminya yang zalim, Asiyah adalah wanita yang beriman dan penuh kasih sayang. Begitu melihat wajah bayi Musa yang bercahaya, Asiyah langsung jatuh hati. Ia memohon kepada Firaun agar tidak membunuh bayi tersebut dan menjadikannya anak angkat. Peristiwa ini menunjukkan bahwa Allah mampu melindungi hamba-Nya bahkan di dalam rumah musuhnya sendiri.
Keajaiban berlanjut ketika bayi Musa menolak menyusu kepada semua perempuan yang disediakan oleh pihak istana. Hal ini membuat Asiyah dan para pengawal kerajaan bingung. Di saat itulah, saudara perempuan Musa yang mengawasi dari jauh datang memberikan saran untuk mencari ibu susuan dari kalangan Bani Israil. Ia kemudian membawa mereka ke rumah Yukabad, ibu kandung Musa sendiri.
Saat berada di pelukan Yukabad, bayi Musa langsung mau menyusu dengan lahap. Melihat hal itu, pihak istana merasa sangat senang dan meminta Yukabad untuk merawat Musa di rumahnya dengan jaminan nafkah serta perlindungan penuh dari kerajaan. Sebagaimana janji Allah dalam surat Al-Qashash ayat 13, Musa akhirnya kembali ke pangkuan ibunya agar hati sang ibu menjadi tenang dan mengetahui bahwa janji Allah adalah sebuah kebenaran yang pasti terjadi.
Kisah ini menjadi pelajaran penting bagi umat Islam mengenai kekuatan iman dan perlindungan Allah yang mutlak. Meskipun Firaun memiliki kekuatan militer dan kekuasaan besar untuk membunuh semua bayi, rencana Allah jauh lebih sempurna. Nabi Musa tidak hanya selamat dari pembunuhan, tetapi justru tumbuh besar di lingkungan istana Firaun sebelum akhirnya menjalankan misi kenabian untuk membebaskan Bani Israil dari perbudakan.








