ruangdoa.com – Nabi Idris AS merupakan sosok teladan yang dikenal karena ketaatannya yang luar biasa kepada Allah SWT melalui akhlak dan konsistensi ibadahnya. Dalam sejarah para nabi, beliau digambarkan sebagai hamba yang sangat tekun, terutama dalam menjalankan amalan puasa sepanjang hidupnya. Kemuliaan kedudukan Nabi Idris AS ini ditegaskan dalam Al-Qur’an melalui Surah Maryam ayat 56 yang menyebutkan bahwa beliau adalah orang yang sangat benar (shiddiq) dan seorang nabi yang ditinggikan derajatnya.
Salah satu ciri khas ibadah Nabi Idris AS yang sering dibahas dalam literatur Islam adalah pelaksanaan puasa dahr. Merujuk pada karya Sayyid Uthwah, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Nabi Idris AS bersama istrinya terbiasa melakukan puasa dahr, yaitu berpuasa setiap hari tanpa jeda, kecuali pada hari-hari yang dilarang seperti dua hari raya dan hari tasyrik. Praktik ini menunjukkan tingkat kedisiplinan spiritual yang sangat tinggi pada masa itu.
Meskipun demikian, terdapat perbedaan penerapan syariat terkait puasa dahr bagi umat Nabi Muhammad SAW. Ulama kontemporer seperti Yusuf Qardhawi dalam kitab Fiqh Al-Shiyam menjelaskan bahwa puasa dahr bagi umat Islam saat ini hukumnya makruh. Hal ini dikarenakan puasa setiap hari dianggap dapat memberatkan kondisi jasmani dan mengabaikan keseimbangan hak tubuh. Rasulullah SAW sendiri telah memberikan batasan melalui nasihat kepada Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash agar tidak memaksakan diri dan lebih menganjurkan puasa Nabi Daud AS yang dilakukan secara selang-seling.
Ketekunan Nabi Idris AS dalam beribadah ternyata memberikan dampak besar di alam langit. Setiap hari, amal ibadah beliau diterima oleh Allah SWT dalam jumlah yang sangat banyak hingga menarik perhatian Malaikat Izrail. Rasa takjub dan cinta Malaikat Izrail terhadap ketaatan Nabi Idris AS membuatnya memohon izin kepada Allah SWT untuk turun ke bumi dan bertamu kepada sang nabi dalam wujud manusia.
Saat bertemu dengan Malaikat Izrail yang menyamar, Nabi Idris AS tetap menunjukkan kualitas iman yang murni. Beliau tetap teguh menjalankan puasanya, memperbanyak zikir, serta menjaga lisannya dari perkataan yang tidak bermanfaat. Bahkan, Nabi Idris AS menunjukkan sikap wara’ yang sangat kuat dengan tidak mengambil sesuatu yang bukan menjadi haknya. Kombinasi antara ketekunan ibadah dan kemuliaan akhlak inilah yang menjadikan Nabi Idris AS mendapatkan tempat yang sangat tinggi di sisi Allah SWT.
Kisah ini memberikan pelajaran penting bagi umat Islam bahwa inti dari ibadah bukan sekadar melakukan amalan fisik secara berlebihan, melainkan tentang istikamah dan menjaga keseimbangan antara hak Allah, hak sesama manusia, serta hak diri sendiri. Keteladanan Nabi Idris AS dalam hal semangat beribadah tetap relevan untuk diambil hikmahnya guna meningkatkan kualitas ketakwaan sehari-hari. Wallahu a’lam.








