ruangdoa.com Nabi Nuh AS merupakan salah satu rasul yang tergolong dalam kelompok Ulul Azmi, yaitu para utusan Allah yang memiliki ketabahan dan kesabaran luar biasa dalam berdakwah. Beliau diutus untuk membawa cahaya kebenaran kepada Bani Rasib, sebuah kaum yang menetap di wilayah Mesopotamia. Dalam catatan sejarah Islam, masa dakwah Nabi Nuh AS berlangsung sangat lama, yakni mencapai 950 tahun, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an surah Al-Ankabut ayat 14.
Bani Rasib dikenal dalam literatur sejarah sebagai kaum yang sangat congkak, zalim, dan materialistis. Menurut buku Mutiara Kisah 25 Nabi dan Rasul karya M. Arief Hakim, mereka menjadikan kekayaan sebagai satu-satunya standar kemuliaan manusia. Akibatnya, mereka yang hidup dalam kemiskinan seringkali diremehkan, ditindas, dan tidak mendapatkan hak-hak kemanusiaan yang layak. Selain kesombongan sosial, Bani Rasib juga terjerumus dalam kesesatan spiritual dengan menyembah berhala-berhala seperti Wadd, Suwa’, Yaghuth, Ya’uq, dan Nasr, yang mereka anggap sebagai tuhan.
Nabi Nuh AS berupaya keras menyelamatkan kaumnya dari kegelapan syirik. Namun, setiap kali beliau menyeru kepada jalan Allah, Bani Rasib justru menutup telinga dan menyombongkan diri. Ibnu Katsir dalam Qashash Anbiya menjelaskan bahwa setiap generasi Bani Rasib secara turun-temurun berpesan kepada anak cucu mereka untuk tetap memusuhi Nabi Nuh AS dan tidak mengikuti ajarannya. Penolakan yang sistematis ini membuat perkembangan dakwah sangat lambat meskipun sudah berjalan berabad-abad.
Setelah ratusan tahun bersabar dan melihat kaumnya semakin larut dalam kekufuran, Nabi Nuh AS akhirnya memanjatkan doa kepada Allah SWT. Doa tersebut diabadikan dalam surah Asy-Syu’ara ayat 117-118, di mana beliau memohon keputusan yang adil antara dirinya dengan kaumnya yang mendustakan risalah Allah, serta memohon keselamatan bagi orang-orang mukmin yang setia mengikutinya.
Menanggapi doa tersebut, Allah SWT memerintahkan Nabi Nuh AS untuk membangun sebuah bahtera besar di atas bukit. Proses pembuatan kapal ini kembali menjadi bahan cemoohan bagi Bani Rasib karena dilakukan jauh dari sumber air. Namun, atas perintah Allah, Nabi Nuh AS tetap menyelesaikan bahtera tersebut dan segera mengumpulkan para pengikutnya serta hewan-hewan secara berpasangan untuk naik ke atas kapal.
Puncak dari pembangkangan Bani Rasib adalah turunnya azab berupa banjir besar yang dahsyat. Allah SWT memerintahkan langit untuk mencurahkan hujan lebat dan bumi untuk memancarkan air dari segala penjuru. Banjir ini meluluhlantakkan seluruh peradaban Bani Rasib yang ingkar. Ibnu Ishaq berpendapat bahwa bencana ini berlangsung selama dua tahun, dua bulan, dan 26 hari. Dalam peristiwa memilukan ini, salah satu putra Nabi Nuh AS yang bernama Kan’an juga tewas tenggelam karena menolak beriman dan lebih memilih mencari perlindungan di puncak gunung. Setelah air surut, Nabi Nuh AS beserta para pengikutnya yang selamat turun dari bahtera dengan penuh rasa syukur untuk memulai kehidupan baru yang berlandaskan tauhid.








