ruangdoa.com – Ramadan merupakan bulan yang paling dinantikan oleh umat Muslim di seluruh dunia karena kemuliaan dan keberkahannya. Selain menjadi momentum untuk meningkatkan ibadah, Ramadan juga menghadirkan keberagaman budaya yang tercermin melalui berbagai tradisi unik di setiap negara. Perpaduan antara nilai agama dan kearifan lokal menciptakan warna tersendiri dalam menyambut dan menjalani bulan suci ini.
Berikut adalah deretan tradisi unik dari berbagai belahan dunia dalam menyambut dan merayakan Ramadan.
1. Tradisi Fanous di Mesir
Di Mesir, kedatangan bulan Ramadan identik dengan kehadiran Fanous atau lentera warna-warni. Tradisi ini telah berakar sejak zaman Dinasti Fatimiyah. Menjelang bulan puasa, jalanan di Mesir akan dihiasi oleh ribuan lentera yang menciptakan suasana syahdu dan meriah. Anak-anak biasanya membawa lentera kecil sambil menyanyikan lagu tradisional untuk menyambut bulan suci. Fanous bukan sekadar dekorasi, melainkan simbol cahaya dan kebahagiaan bagi masyarakat setempat.
2. Meriam Karbit dan Bedug di Indonesia
Indonesia memiliki kekayaan tradisi Ramadan yang sangat beragam. Salah satu yang paling ikonik adalah penggunaan meriam karbit, terutama di sepanjang tepian Sungai Kapuas, Pontianak. Selain itu, pemukulan bedug di masjid-masjid menjadi suara yang paling dirindukan sebagai penanda waktu berbuka maupun saat berkeliling membangunkan warga untuk sahur. Tradisi ini mempererat tali silaturahmi dan semangat kebersamaan antarwarga.
3. Seni Lampu Mahya di Turki
Turki memiliki cara visual yang indah dalam menyambut Ramadan melalui tradisi Mahya. Mahya adalah seni memasang lampu hias di antara dua menara masjid yang membentuk tulisan atau pesan religius, seperti "Hosgeldin Ramazan" (Selamat Datang Ramadan). Tradisi yang berasal dari era Kesultanan Ottoman ini membuat pemandangan kota-kota di Turki, seperti Istanbul, menjadi sangat megah dan penuh cahaya di malam hari.
4. Perayaan Haq Al Laila di Uni Emirat Arab
Masyarakat Uni Emirat Arab memiliki tradisi bernama Haq Al Laila yang dilakukan pada pertengahan bulan Sya’ban, atau menjelang masuknya Ramadan. Pada momen ini, anak-anak mengenakan pakaian tradisional dan berkeliling ke rumah-rumah tetangga sambil membawa tas kain. Mereka akan mendapatkan permen, cokelat, atau kacang-kacangan. Tradisi ini bertujuan untuk mengedukasi anak-anak tentang pentingnya berbagi dan memperkuat ikatan komunitas sebelum memasuki bulan puasa.
5. Dentuman Meriam Iftar di Lebanon
Di Lebanon, suara dentuman meriam menjadi penanda resmi waktu berbuka puasa atau iftar. Tradisi yang dikenal dengan nama Midfa Al Iftar ini diyakini berasal dari Mesir pada masa Kesultanan Ottoman. Saat itu, penguasa tidak sengaja menembakkan meriam tepat saat matahari terbenam, dan rakyat menganggapnya sebagai isyarat berbuka. Hingga kini, Lebanon tetap mempertahankan tradisi ini sebagai elemen penting yang menambah kekhusyukan momen berbuka puasa.
6. Penabuh Genderang Sahur di Turki
Selain Mahya, Turki juga menjaga tradisi penabuh genderang sahur yang disebut Davulcu. Para penabuh genderang ini mengenakan kostum tradisional Ottoman dan berkeliling lingkungan pada dini hari. Mereka memainkan irama yang khas untuk memastikan tidak ada warga yang terlewat waktu sahur. Meskipun teknologi jam alarm sudah canggih, profesi ini tetap dilestarikan pemerintah Turki sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah dan budaya masa lalu.
7. Musaharati di Suriah dan Palestina
Hampir serupa dengan di Turki, negara-negara seperti Suriah dan Palestina mengenal sosok Musaharati. Musaharati adalah seseorang yang bertugas membangunkan warga untuk sahur dengan cara memukul drum kecil (tabla) sambil melantunkan doa-doa atau puji-pujian kepada Allah. Dengan suara yang khas, mereka berjalan menyusuri gang-gang sempit untuk memastikan semangat Ramadan tetap hidup di setiap rumah penduduk.
Keberagaman tradisi ini membuktikan bahwa meskipun umat Islam menjalankan ibadah puasa yang sama, cara setiap bangsa mengekspresikan sukacita dan penghormatan terhadap bulan Ramadan sangatlah kaya dan berwarna. Semua tradisi tersebut membawa pesan yang serupa, yakni pentingnya kebersamaan, rasa syukur, dan semangat berbagi.







