ruangdoa.com Utsman bin Mazh’un adalah salah satu tokoh sentral dari kalangan As-Sabiqun al-Awwalun, atau generasi awal yang pertama memeluk Islam. Namanya abadi dalam catatan sejarah karena keteguhan imannya yang luar biasa, terutama saat Islam masih berada dalam fase terberat di Makkah. Ia bukan hanya sekadar pemeluk Islam yang awal, tetapi juga sosok Muhajirin yang menjadi teladan dalam perkara tauhid dan pengorbanan.
Berasal dari Bani Jumah, salah satu kabilah terpandang di suku Quraisy, Utsman bin Mazh’un tumbuh di tengah lingkungan jahiliyah Makkah. Namun, hidayah Allah membawanya meninggalkan segala tradisi lama. Ia menerima Islam melalui dakwah Abu Bakar ash-Shiddiq, menjadikan dirinya sebagai orang ke-14 yang secara terbuka menyatakan keislamannya.
Pada masa-masa awal dakwah, kaum muslimin menghadapi penyiksaan yang sangat brutal dari kaum Quraisy. Namun, Utsman bin Mazh’un memiliki keistimewaan. Berkat hubungannya dengan tokoh kuat Quraisy, Walid bin Mughirah (pamannya), Utsman mendapatkan jaminan keamanan (perlindungan) yang membuatnya bebas dari siksaan yang dialami sahabat-sahabatnya yang lain.
Ketidaknyamanan dalam Keamanan
Meskipun hidupnya relatif aman, Utsman bin Mazh’un justru merasa gelisah. Hatinya tidak tenang menyaksikan saudara-saudaranya sesama muslim menderita, dicambuk, dan disiksa di jalan Allah, sementara ia sendiri menikmati perlindungan dari seorang musyrik.
"Sungguh aib besar bagiku jika aku hidup aman sentosa di bawah perlindungan manusia, sementara sahabat-sahabatku disiksa di jalan Allah," demikian batin Utsman mengungkapkan kegelisahannya.
Ia menyadari bahwa keselamatan yang datang dari Walid bin Mughirah tidaklah sebanding dengan perlindungan dari Allah SWT. Baginya, berlindung kepada selain Allah adalah pengakuan kelemahan tauhid. Ia bertekad untuk berbagi penderitaan dengan kaum muslimin lainnya demi meraih kemuliaan sejati di sisi-Nya.
Keputusan Paling Radikal
Dengan kesadaran penuh dan tanpa paksaan, Utsman bin Mazh’un menemui Walid bin Mughirah. Ia mengumumkan pengembalian jaminan keamanan tersebut secara terbuka.
"Engkau telah menunaikan tanggung jawabmu, dan kini aku mengembalikan perlindungan itu," kata Utsman.
Walid bin Mughirah terkejut. Ia mempertanyakan alasan keponakannya melepaskan jaminan yang sangat berharga di tengah kekacauan Makkah itu. "Ada apa, wahai keponakanku? Apakah seseorang dari kaumku telah menyakitimu?"
Utsman menjawab tegas, "Tidak. Aku hanya tidak ingin berlindung kepada selain Allah. Aku hanya ingin berlindung kepada Allah semata."
Keputusan ini tidak hanya disampaikan secara pribadi. Utsman bin Mazh’un memastikan keputusannya diketahui publik dengan mengumumkannya di hadapan kaum Quraisy di Masjidil Haram. Ia berkata, "Walid telah memberiku perlindungan dengan kemuliaan, tetapi aku tidak menginginkannya, karena aku memilih perlindungan Allah."
Harga Sebuah Pilihan
Tak lama setelah melepaskan perlindungan Walid, Utsman bin Mazh’un segera merasakan konsekuensi dari keputusannya.
Saat ia duduk bersama kaum Quraisy, ia terlibat dalam perdebatan tentang puisi Labid bin Rabi’ah. Ketika Labid berkata, "Ketahuilah, segala sesuatu selain Allah adalah batil," Utsman membenarkannya dan menambahkan penekanan tauhid, "Dan kenikmatan surga tidak akan pernah musnah."
Pernyataan ini memicu kemarahan ekstrem dari salah satu kaum musyrik. Dalam luapan kebencian, orang itu meninju mata Utsman bin Mazh’un hingga memar dan bengkak.
Walid bin Mughirah, yang menyaksikan kejadian itu, mendekati Utsman dengan nada menyesal. "Seandainya engkau tetap berada dalam perlindunganku, matamu tidak akan mengalami hal ini," katanya.
Jawaban Utsman bin Mazh’un menunjukkan kedalaman imannya. Ia berkata, "Mataku yang sehat sangat membutuhkan apa yang menimpa saudaranya di jalan Allah."
Ia melanjutkan dengan menegaskan keyakinan tauhidnya yang mendalam kepada Walid, "Kini aku berada dalam perlindungan Dzat yang lebih kuat dan lebih berkuasa darimu."
Kisah Utsman bin Mazh’un ini memberikan pelajaran penting bahwa seorang muslim sejati akan selalu memprioritaskan keridhaan Allah di atas segala bentuk keamanan atau kenyamanan duniawi. Ia rela merasakan penderitaan demi menyelaraskan dirinya dengan kesulitan kaum muslimin, membuktikan bahwa iman tidak mengenal kompromi.








