ruangdoa.com Usaid bin Hudhair adalah salah satu figur Anshar yang paling inspiratif dalam sejarah awal Islam. Berasal dari suku Aus di Madinah, beliau dikenal bukan hanya karena kesetiaannya yang teguh kepada Nabi Muhammad SAW, tetapi juga karena perpaduan unik antara kecerdasan intelektual, keberanian di medan perang, dan keindahan spiritual yang luar biasa.
Sosok Usaid bin Hudhair sering dijadikan teladan, terutama dalam memahami bagaimana seorang pemimpin masyarakat dapat bertransformasi total setelah mengenal hidayah Islam.
Al Kamil Pemimpin yang Cerdas dan Terampil
Kaumnya menjuluki Usaid bin Hudhair dengan sebutan mulia, "Al Kamil" atau "Yang Sempurna." Gelar ini diberikan bukan tanpa alasan. Usaid bin Hudhair dihormati karena kemurnian nasabnya yang terpandang dan kecemerlangan otaknya yang diakui. Kunyahnya adalah Abu Yahya.
Di masa jahiliyah hingga awal Islam, Usaid adalah seorang yang multitalenta. Beliau mahir dalam berbagai keterampilan yang sangat dibutuhkan saat itu, termasuk berpedang, menunggang kuda yang cekatan, dan memiliki ketepatan memanah yang luar biasa. Yang lebih istimewa, Usaid juga termasuk sedikit orang di Arab yang mahir dalam tulis-menulis, menunjukkan bahwa beliau adalah figur yang unggul baik di ranah militer maupun intelektual.
Titik Balik Keislaman yang Mengubah Madinah
Awal keislaman Usaid bin Hudhair terjadi tak lama setelah peristiwa Bai’at Aqabah Pertama. Saat itu, Rasulullah SAW telah mengutus Mus’ab bin Umair ke Madinah sebagai duta pertama untuk mengajarkan Islam kepada penduduk Yatsrib (Madinah).
Mus’ab bin Umair, ditemani As’ad bin Zurarah, berdakwah dengan penuh kelembutan. Dakwah ini menarik perhatian banyak orang, namun juga menimbulkan kecurigaan dari para pemimpin yang masih musyrik.
Sa’ad bin Mu’adz, yang saat itu masih musyrik, merasa terganggu dan meminta Usaid bin Hudhair, yang merupakan pemimpin terpandang dari suku Aus, untuk menghentikan kegiatan dakwah Mus’ab. Usaid pun mendatangi Mus’ab dengan membawa tombak dan kemarahan.
Namun, Mus’ab bin Umair memiliki strategi dakwah yang cerdas. Ia tidak melawan, melainkan dengan tenang mengajak Usaid untuk duduk dan mendengarkan penjelasan tentang Islam. Mus’ab kemudian melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an.
Mendengar lantunan tersebut, hati Usaid langsung luluh. Wajahnya yang semula penuh amarah seketika berubah cerah. Ia segera menyatakan keimanannya. Setelah mandi, bersuci, dan mengucapkan syahadat, Usaid bin Hudhair menjadi muslim.
Keislaman Usaid ini menjadi kunci pembuka bagi suku Aus. Begitu Usaid kembali menemui Sa’ad bin Mu’adz, Sa’ad langsung mengetahui dari raut wajah Usaid bahwa ia telah memeluk Islam. Sa’ad bin Mu’adz pun kemudian mengikuti jejak Usaid. Dengan masuknya kedua pemimpin besar ini, hampir seluruh suku Aus segera memeluk Islam, menjadikan Madinah benar-benar siap menjadi pusat dakwah Islam yang utama.
Lantunan Quran yang Menarik Turun Para Malaikat
Selain dikenal sebagai pemimpin yang gagah dan cerdas, Usaid bin Hudhair juga sangat mahir melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an. Suara beliau sangat merdu, mendayu, dan penuh kekhusyukan, bahkan konon mampu menarik perhatian makhluk dari langit.
Sebuah kisah luar biasa diceritakan tentang Usaid dan keindahan bacaannya.
Pada suatu malam, Usaid sedang mengaji Al-Qur’an di dekat putranya, Yahya, yang sedang tertidur. Kuda tunggangannya tertambat di halaman. Di tengah kekhusyukan membaca, tiba-tiba kuda tersebut meringkik dan gelisah. Usaid sempat menghentikan bacaan untuk memeriksa, namun ia tidak menemukan penyebab kegelisahan kudanya.
Usaid kembali melanjutkan bacaannya. Tak lama kemudian, kuda itu kembali meringkik dengan lebih keras dan aneh, membuat Usaid khawatir akan keselamatan putranya. Ia memutuskan untuk menghentikan bacaan sepenuhnya dan memindahkan Yahya ke tempat yang lebih aman.
Saat Usaid menengadahkan kepala ke langit, ia terkejut melihat pemandangan menakjubkan. Di atasnya, tampak cahaya terang yang memukau, menyerupai awan bercahaya penuh lentera yang bergerak-gerak. Cahaya itu membuatnya takut dan ia tidak melanjutkan bacaan hingga pagi tiba.
Keesokan harinya, Usaid segera menceritakan pengalaman spiritualnya tersebut kepada Rasulullah SAW. Nabi mendengarkan dengan senyum, kemudian dua kali bersabda, "Teruslah membaca, hai Abu Yahya! Teruslah membaca, hai Abu Yahya!"
Rasulullah SAW lantas menjelaskan bahwa cahaya terang yang dilihat Usaid bukanlah hal yang perlu ditakuti. Itu adalah para malaikat yang turun dari langit, tertarik dan terpesona oleh lantunan suara Usaid bin Hudhair.
Rasulullah SAW menambahkan, seandainya Usaid terus membaca Al-Qur’an hingga pagi, niscaya para malaikat itu akan tetap terlihat oleh manusia.
Kisah ini menegaskan status spiritual Usaid bin Hudhair. Keindahan suaranya tidak hanya menenangkan manusia, tetapi juga membawa berkah dan kemuliaan dari Allah SWT melalui kehadiran para malaikat yang mendengarkan. Hal ini semakin memicu semangat Usaid untuk terus melantunkan ayat-ayat suci dengan penuh penghayatan.








