ruangdoa.com
Kisah Nabi Musa Alaihissalam (AS) merupakan salah satu narasi paling dramatis dalam Al-Qur’an dan menjadi bukti nyata kekuasaan Allah SWT atas segala kezaliman. Fokus utama dari kisah ini seringkali tertuju pada momen legendaris terbelahnya Laut Merah, sebuah peristiwa yang menandai akhir kekuasaan Firaun, raja Mesir yang melampaui batas.
Sebagai utusan Allah, Nabi Musa AS memiliki tugas mulia untuk menyerukan ajaran tauhid kepada Bani Israil dan, yang paling menantang, kepada Raja Firaun. Namun, perjalanan dakwah ini dimulai jauh sebelum Musa berdiri di hadapan sang raja.
Masa Kecil Musa Anak Angkat Sang Raja Zalim
Menurut riwayat dalam kitab Qashashul Anbiya oleh Ibnu Katsir, masa kelahiran Musa AS terjadi di tengah dekret kejam Firaun. Firaun, yang merasa terancam oleh ramalan bahwa akan lahir seorang anak laki-laki dari Bani Israil yang akan menggulingkan kekuasaannya, memerintahkan pembunuhan setiap bayi laki-laki yang baru lahir.
Namun, takdir Allah bekerja dengan cara yang menakjubkan. Untuk menyelamatkan putranya, ibu kandung Musa AS meletakkan bayi tersebut di dalam peti dan menghanyutkannya ke Sungai Nil. Peti itu kemudian ditemukan oleh Asiyah, istri Firaun, di dekat istana.
Meskipun awalnya Firaun menolak, atas bujukan lembut dari Asiyah, ia akhirnya setuju untuk mengangkat bayi Musa sebagai anak. Musa pun tumbuh besar di lingkungan istana, di bawah asuhan langsung musuh terbesarnya, tanpa Firaun menyadarinya.
Dakwah Tauhid dan Mukjizat yang Mengguncang Istana
Setelah beranjak dewasa, Musa AS menerima wahyu kenabian. Ia diperintahkan untuk berdakwah kepada Firaun. Dalam tugas berat ini, Musa ditemani oleh saudaranya, Nabi Harun AS.
Nabi Musa AS berusaha sekuat tenaga menyampaikan ajaran tauhid dengan cara yang lembut dan penuh hikmah. Ia menyeru Firaun untuk meninggalkan penyembahan diri dan beriman kepada Allah SWT, Tuhan semesta alam. Namun, Firaun yang sombong dan mengklaim dirinya sebagai tuhan, menolak mentah-mentah seruan tersebut.
Maka, atas izin Allah, Nabi Musa AS menunjukkan dua mukjizat agung sebagai bukti kebenaran risalahnya. Pertama, tongkatnya yang dilempar ke tanah berubah menjadi ular besar yang lincah. Kedua, tangannya yang dimasukkan ke saku, ketika dikeluarkan kembali, bersinar putih cemerlang tanpa cacat.
Alih-alih beriman, Firaun justru menuduh Musa sebagai tukang sihir. Ia kemudian mengumpulkan para penyihir terbaik Mesir untuk menandingi mukjizat Musa. Dalam sebuah kontes, para penyihir melemparkan tali dan tongkat mereka yang tampak bergerak seperti ular karena ilusi sihir. Namun, ular yang berasal dari tongkat Nabi Musa AS melahap habis semua ular sihir mereka.
Peristiwa ini menjadi titik balik. Para penyihir yang menyaksikan keagungan mukjizat itu seketika bersujud dan beriman kepada Allah. Demikian pula Asiyah, istri Firaun, yang telah lama menyaksikan kesombongan suaminya, memilih kembali ke jalan yang benar. Sayangnya, keimanan Asiyah harus dibayar mahal. Firaun yang murka menyiksa Asiyah hingga meninggal dunia, menjadikannya salah satu wanita mulia yang dijamin masuk surga.
Laut Merah Terbelah dan Hukuman Allah
Kemurkaan Firaun semakin menjadi-jadi. Ia mulai menyiksa semua pengikut Nabi Musa AS. Akhirnya, Allah SWT memerintahkan Nabi Musa dan para pengikutnya (Bani Israil) untuk segera meninggalkan Mesir.
Namun, pelarian ini tidak berjalan mulus. Firaun dan bala tentaranya yang bersenjata lengkap terus mengejar mereka hingga tiba di tepi Laut Merah. Bani Israil dilanda kepanikan, di depan terhampar lautan luas, dan di belakang mereka adalah pasukan Firaun yang siap membunuh.
Dalam situasi genting tersebut, Allah mewahyukan kepada Nabi Musa AS untuk memukulkan tongkatnya ke Laut Merah. Seketika, lautan yang tadinya luas dan berombak itu terbelah menjadi dua, membentuk jalan kering di tengahnya, dengan air yang berdiri tegak seperti tembok raksasa di sisi kanan dan kiri.
Nabi Musa AS memimpin Bani Israil menyeberangi lautan itu dengan selamat. Firaun, yang dibutakan oleh kesombongan dan amarah, melihat jalan kering itu sebagai kesempatan untuk menangkap Musa. Ia bersama pasukannya tanpa ragu ikut mengejar melalui jalan yang sama.
Begitu Nabi Musa dan pengikutnya mencapai daratan seberang, Allah kembali memerintahkan Musa untuk memukulkan tongkatnya ke laut. Dalam sekejap, air yang berdiri tegak itu kembali menyatu. Firaun dan seluruh pasukannya tenggelam dalam amukan air laut, mengakhiri kekuasaan zalim mereka.
Allah SWT mengabadikan peristiwa ini dalam firman-Nya di surah Al Baqarah ayat 50
وَإِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ فَأَنْجَيْنَاكُمْ وَأَغْرَقْنَا آلَ فِرْعَوْنَ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ
Artinya: "Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Firaun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan."
Kisah Nabi Musa AS mengajarkan kita tentang pentingnya keteguhan iman dan janji Allah bahwa kezaliman, sekuat apa pun bentuknya, pasti akan mendapatkan balasan dan tidak akan pernah mengalahkan kebenaran tauhid.








