ruangdoa.com – Menentukan siapa yang layak masuk surga atau neraka adalah hak mutlak Allah SWT yang tidak dapat diintervensi oleh makhluk mana pun. Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali muncul stigma di tengah masyarakat yang menganggap bahwa orang yang rajin beribadah sudah pasti mendapat jaminan surga, sementara mereka yang bergelimang maksiat dianggap sudah pasti menjadi bahan bakar neraka. Padahal, Allah SWT telah menegaskan dalam Al-Qur’an surah Al-An’am ayat 128 bahwa keputusan akhir sepenuhnya berada dalam kekuasaan-Nya yang Maha Bijaksana.
Ayat tersebut mengingatkan manusia dan jin bahwa meski mereka merasa telah mencapai banyak hal atau saling memberikan kesenangan di dunia, Allah memiliki kehendak yang melampaui logika manusia. "Nerakalah tempat kamu selama-lamanya, kecuali jika Allah menghendaki lain," demikian potongan firman-Nya yang menunjukkan bahwa rahmat Allah jauh lebih luas dari sekadar hitungan amal di atas kertas.
Fenomena ini diperkuat oleh sebuah riwayat shahih yang dimuat dalam buku Seni Menjemput Kematian karya H. Brilly El-Rasheed. Kisah ini menceritakan tentang dua orang laki-laki dari zaman Bani Israil dengan karakter yang bertolak belakang. Laki-laki pertama adalah seorang ahli ibadah yang sangat taat, sementara laki-laki kedua adalah seseorang yang sering terjerumus dalam perbuatan dosa.
Setiap kali si ahli ibadah melihat temannya bermaksiat, ia selalu menegur agar temannya itu berhenti. Namun, suatu ketika teguran tersebut berubah menjadi sebuah penghakiman yang melampaui batas. Saat si pendosa meminta agar urusannya dibiarkan saja kepada Allah, si ahli ibadah justru berucap dengan sombong bahwa Allah tidak akan pernah mengampuni dosa temannya itu atau memasukkannya ke dalam surga.
Sikap sombong dan merasa paling suci inilah yang menjadi titik balik nasib keduanya. Rasulullah SAW dalam hadits riwayat Ahmad dan Abu Dawud menceritakan bahwa ketika keduanya meninggal dunia, Allah SWT berfirman kepada si ahli ibadah dengan nada teguran keras mengenai apakah ia merasa lebih mengetahui daripada Allah atau merasa memiliki kuasa atas ketetapan-Nya. Akhirnya, Allah memerintahkan si pendosa masuk ke surga karena rahmat-Nya, sementara si ahli ibadah justru dilemparkan ke neraka karena keangkuhannya.
Pelajaran penting dari kisah ini adalah bahayanya penyakit hati bernama ‘ujub atau merasa kagum pada amal sendiri hingga meremehkan orang lain. Sebagai umat Islam, kita diajarkan untuk terus beribadah namun tetap rendah hati, karena kita tidak pernah tahu amal mana yang diterima dan bagaimana akhir hayat kita nantinya. Menilai status spiritual seseorang di mata Tuhan adalah bentuk kelancangan, sebab hanya Allah yang mengetahui ketulusan taubat seorang hamba dan keluasan rahmat yang akan diberikan-Nya.







