ruangdoa.com
Perjalanan Isra Mi’raj bukan sekadar kisah perjalanan fisik dan spiritual, melainkan sebuah simfoni pertemuan agung para Nabi yang menyimpan hikmah mendalam bagi umat Islam. Salah satu momen paling sentral adalah dialog antara Nabi Muhammad SAW dan Nabi Musa AS di langit keenam. Dialog ini tidak hanya penuh sambutan, tetapi juga melahirkan kewajiban ibadah yang kita laksanakan hingga hari ini, yaitu salat lima waktu.
Di balik kehangatan pertemuan itu, Nabi Musa AS sempat meneteskan air mata. Tangisan ini bukan cerminan kesedihan, melainkan sebuah ekspresi kepedulian yang luar biasa dan pengakuan atas keistimewaan Nabi terakhir.
Dialog Penuh Makna di Langit Keenam
Menurut riwayat yang dikumpulkan dalam kitab Kisah Para Nabi karya Imam Ibnu Katsir, berdasarkan hadits shahih dari Anas bin Malik, setibanya Nabi Muhammad SAW di langit keenam, Malaikat Jibril memperkenalkan, "Ini adalah Musa."
Setelah saling memberi salam, Nabi Musa menyambut Nabi Muhammad dengan ucapan, "Selamat datang Nabi yang saleh dan saudaraku yang saleh."
Namun, ketika Nabi Muhammad SAW melanjutkan perjalanannya, Nabi Musa menangis. Ketika ditanya alasannya, jawaban Nabi Musa sungguh menyentuh hati.
“Aku menangis karena seorang anak yang diutus setelahku akan masuk surga bersama umatnya lebih banyak daripada umatku yang masuk ke dalam surga.”
Tangisan Nabi Musa menunjukkan dua hal: pengakuan tulusnya terhadap keutamaan kedudukan Nabi Muhammad SAW dan besarnya kepeduliannya terhadap jumlah umat yang berhasil meraih keselamatan abadi. Ini adalah tangisan seorang Nabi senior yang melihat keagungan misi penerusnya.
Penetapan Shalat Lima Puluh Waktu
Setelah melalui langit keenam dan ketujuh, Nabi Muhammad SAW kemudian bertemu dengan Nabi Ibrahim AS yang sedang bersandar pada Baitul Ma’mur (rumah yang dikunjungi tujuh puluh ribu malaikat setiap hari).
Puncak dari Isra Mi’raj adalah saat Nabi Muhammad SAW dinaikkan hingga ke Sidratul Muntaha, tempat yang keindahannya tidak dapat digambarkan oleh makhluk mana pun. Di sana, beliau menerima wahyu langsung dari Allah SWT. Perintah pertama yang diwajibkan kepada umat Muhammad adalah salat sebanyak lima puluh kali dalam sehari semalam.
Dengan membawa perintah agung ini, Nabi Muhammad SAW turun kembali. Dan di sinilah peran krusial Nabi Musa AS kembali dimainkan.
Peran Krusial Nabi Musa dalam Keringanan Shalat
Ketika Nabi Muhammad SAW kembali bertemu dengan Nabi Musa di langit keenam, Nabi Musa bertanya mengenai kewajiban apa yang Allah bebankan kepada umatnya.
Nabi Muhammad SAW menjawab, "Lima puluh kali salat sehari semalam."
Mendengar jumlah ini, Nabi Musa segera memberi nasihat tegas. "Kembalilah menemui Tuhanmu dan mintalah keringanan kepada-Nya. Sebab, umatmu tidak akan mampu melakukan hal itu. Aku telah menguji Bani Israil."
Nasihat ini didasarkan pada pengalaman pahit Nabi Musa dalam memimpin Bani Israil. Beliau tahu betul bahwa manusia memiliki keterbatasan dan kerap kali lalai dalam menjalankan ibadah yang berat. Beliau tidak ingin umat Muhammad terbebani hingga gagal melaksanakannya.
Maka, Nabi Muhammad SAW pun kembali menghadap Allah SWT dan memohon keringanan. Proses negosiasi spiritual ini terjadi berulang kali. Setiap kali dikurangi lima kali, Nabi Musa selalu menyarankan agar Nabi Muhammad kembali meminta keringanan lagi.
Mondar-mandir antara Allah SWT dan Nabi Musa AS terus berlangsung hingga akhirnya jumlah shalat ditetapkan menjadi lima kali sehari semalam.
Ketika jumlah ini telah ditetapkan, Nabi Musa masih menyarankan agar Nabi Muhammad kembali meminta keringanan, namun Nabi Muhammad SAW menjawab, "Aku merasa malu untuk kembali kepada Tuhanku. Aku telah menerima ini."
Inilah titik akhir penetapan shalat wajib. Meskipun hanya lima kali sehari semalam, Allah SWT berjanji bahwa pahalanya tetap setara dengan melaksanakan lima puluh kali shalat. Sebuah keringanan dan rahmat besar yang tak lepas dari nasihat bijaksana Nabi Musa AS di langit keenam.
Kisah dialog ini mengajarkan kita tentang pentingnya kepemimpinan yang berempati dan bagaimana rahmat Allah SWT selalu mendahului murka-Nya. Wallahu’alam bishawab.








