ruangdoa.com – Sa’id bin Amir bin Hidzyam al-Jumahi al-Qurasyi al-Kinani adalah salah satu sosok sahabat Nabi Muhammad SAW yang memiliki profil luar biasa dalam sejarah Islam. Ia dikenal sebagai pribadi yang sangat menonjol karena integritas dan ketaatannya. Sa’id memeluk Islam sesaat sebelum terjadinya Pertempuran Khaibar. Keputusannya bersyahadat diambil setelah ia menyaksikan keteguhan iman Khubayb bin Adiy saat dieksekusi oleh kaum Quraisy, sebuah peristiwa yang menyadarkannya akan kebenaran risalah Islam.
Setelah masuk Islam, Sa’id bin Amir menjadi pejuang yang gigih. Ia tidak pernah absen dalam berbagai pertempuran besar bersama Rasulullah SAW. Loyalitasnya ini berlanjut hingga masa kekhalafahan Umar bin Khattab. Khalifah Umar yang dikenal sangat selektif dalam memilih pejabat, mempercayakan posisi Gubernur Aleppo (Homs) di wilayah Syam kepada Sa’id. Namun, meski memegang kekuasaan besar atas wilayah yang kaya, Sa’id justru memilih jalan hidup yang sangat kontras dengan kemewahan duniawi.
Suatu hari, Khalifah Umar bin Khattab meminta delegasi dari Homs untuk mencatat nama-nama penduduk miskin di wilayah tersebut agar bisa diberikan bantuan dari Baitul Mal. Ketika daftar tersebut diserahkan, Umar terkejut menemukan nama Sa’id bin Amir al-Jumahi di dalamnya. Umar bertanya dengan penuh keheranan apakah gubernur mereka benar-benar miskin. Delegasi tersebut mengonfirmasi bahwa Sa’id memang sangat fakir, bahkan seringkali di rumahnya tidak terlihat asap mengepul dari dapur karena tidak ada bahan makanan yang bisa dimasak.
Mendengar kenyataan tersebut, Umar bin Khattab menangis haru. Beliau segera mengirimkan pundi-pundi berisi seribu dinar untuk membantu kebutuhan rumah tangga sang gubernur. Namun, reaksi Sa’id saat menerima uang tersebut justru mengejutkan. Ia mengucapkan kalimat istirja, "Innalillahi wa inna ilaihi raji’un," seolah-olah baru saja tertimpa musibah besar. Bagi Sa’id, datangnya harta kekayaan adalah ujian yang dapat merusak orientasi akhiratnya. Atas dukungan istrinya, Sa’id akhirnya membagikan seluruh uang tersebut kepada fakir miskin tanpa menyisakan sedikit pun untuk dirinya sendiri.
Kedermawanan Sa’id juga terlihat saat ia pertama kali berangkat menuju Homs. Saat itu, Khalifah Umar memberinya bekal yang cukup besar. Istrinya menyarankan agar uang tersebut digunakan untuk membeli pakaian yang layak dan perlengkapan rumah tangga. Namun, Sa’id memiliki pandangan lain. Ia membujuk istrinya untuk menjadikan harta tersebut sebagai modal "perdagangan" yang paling menguntungkan.
Alih-alih menginvestasikannya pada sektor niaga duniawi, Sa’id menyedekahkan seluruh modal tersebut kepada orang-orang yang membutuhkan di Homs. Ketika istrinya menyadari bahwa harta mereka telah habis disedekahkan, Sa’id menenangkannya dengan penuh kasih. Ia menjelaskan bahwa ia ingin mengikuti jejak para sahabat dan Rasulullah yang telah mendahuluinya. Ia lebih memilih rida Allah dan kenikmatan surga daripada kemewahan sementara di dunia.
Kisah hidup Sa’id bin Amir al-Jumahi berakhir pada tahun 20 Hijriah saat ia wafat dalam kesederhanaan yang tetap terjaga. Ia meninggalkan warisan berupa teladan kepemimpinan yang bersih, jauh dari praktik memperkaya diri, dan dedikasi penuh pada pelayanan umat. Bagi generasi Muslim, sosoknya adalah bukti nyata bahwa kekuasaan dan jabatan bukanlah sarana mencari kekayaan, melainkan amanah berat yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.








