Hotel Bintang Lima di Madinah Bukti Abadi Sedekah Utsman bin Affan

ruangdoa.com – Sumur wakaf Utsman bin Affan bukanlah sekadar sumber air bersejarah. Ia adalah simbol kedermawanan abadi seorang sahabat Nabi yang telah berusia lebih dari 1.400 tahun, di mana manfaatnya kini bahkan menjelma menjadi hotel mewah di dekat Masjid Nabawi. Kisah Bir Raumah ini mengajarkan kita tentang investasi terbaik di akhirat, sebuah amal jariyah yang tak pernah surut.

Krisis Air di Madinah Pasca-Hijrah

Ketika kaum Muhajirin tiba di Madinah setelah berhijrah dari Makkah, mereka menghadapi tantangan besar: kelangkaan air bersih. Madinah, yang merupakan wilayah kering, hanya memiliki sedikit sumber air yang layak. Sementara itu, salah satu sumur terbaik dengan air yang jernih dan melimpah, dikenal sebagai Bir Raumah, dikuasai dan dimonopoli oleh seorang Yahudi.

Kondisi ini sangat menyulitkan umat Islam. Air dijual dengan harga yang sangat tinggi—satu ember air bisa dihargai satu mudd (setara setengah rantang biji padi). Harga yang mencekik ini membuat kaum Muhajirin kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, mulai dari minum, memasak, hingga berwudhu.

Melihat kondisi yang memprihatinkan ini, para sahabat mengadukan keluhan mereka kepada Rasulullah SAW. Rasulullah kemudian menyerukan sebuah tawaran yang sangat mulia, menjanjikan balasan surga bagi siapa saja yang bersedia membeli sumur tersebut dan mewakafkannya untuk kepentingan umat.

"Wahai sahabatku, siapa saja di antara kalian yang membeli sumur itu, lalu menyumbangkannya untuk umat, maka kelak dia di surga," seru Rasulullah SAW.

Negosiasi Cerdas Sang Miliarder Dermawan

Mendengar janji agung dari Rasulullah, Utsman bin Affan RA, yang dikenal sebagai saudagar kaya dan sangat dermawan, langsung berdiri menyambut seruan tersebut. Ia segera mendatangi pemilik sumur untuk menawarnya dengan harga tinggi.

Namun, pemilik sumur menolak mentah-mentah. "Seandainya sumur ini aku jual kepadamu wahai Utsman, maka aku tidak memiliki penghasilan yang bisa aku peroleh setiap hari," ujarnya.

Utsman bin Affan tidak kehabisan akal. Ia dikenal sebagai negosiator ulung. Ia kemudian melancarkan jurus cerdas yang mengubah total situasi:

"Bagaimana kalau aku beli setengahnya saja dari sumurmu?" tanya Utsman.

Utsman menjelaskan bahwa kepemilikan sumur akan bergantian hari. Satu hari sumur itu milik Utsman, dan esoknya milik si Yahudi. Pemilik sumur berpikir bahwa ia masih mendapatkan keuntungan besar tanpa kehilangan sumurnya sepenuhnya. Akhirnya, ia setuju dan menjual separuh kepemilikan sumur Bir Raumah kepada Utsman dengan harga 12.000 dirham.

Air Gratis dan Kekalahan Monopoli

Setelah resmi memiliki separuh sumur, Utsman bin Affan segera mengumumkan kepada seluruh penduduk Madinah bahwa pada hari itu, air sumur tersebut menjadi miliknya, dan siapa pun boleh mengambil air secara gratis tanpa dipungut biaya.

Utsman juga berpesan kepada warga agar mengambil air yang cukup untuk persediaan dua hari penuh. Ini karena keesokan harinya, giliran sumur itu menjadi milik orang Yahudi.

Ketika tiba hari kepemilikan orang Yahudi, sumur Bir Raumah menjadi sepi pembeli. Penduduk Madinah tidak lagi mengantre karena mereka masih memiliki persediaan air yang melimpah dari hari sebelumnya. Akibatnya, pemilik sumur kehilangan penghasilan total.

Merasa terpukul dan rugi besar, orang Yahudi itu akhirnya mendatangi Utsman dan menawarkan separuh sisa kepemilikannya. Utsman menyambut baik tawaran tersebut dan membelinya dengan harga yang sama.

Sejak saat itu, Sumur Bir Raumah sepenuhnya menjadi milik Utsman bin Affan. Ia kemudian mewakafkan sumur tersebut sepenuhnya untuk kepentingan umat Islam. Air yang dulunya dimonopoli dan dijual mahal, kini bisa dinikmati siapa saja, termasuk pemilik sumur sebelumnya, secara gratis.

Wakaf Pertama yang Dijanjikan Surga

Wakaf Sumur Raumah (yang kemudian dikenal sebagai Sumur Utsman) memiliki keutamaan besar karena langsung dijanjikan balasan surga oleh Rasulullah SAW. Wakaf ini juga menjadi salah satu wakaf pertama yang sangat bermanfaat bagi umat Islam.

Sebagaimana diriwayatkan dalam HR. Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah orang yang mau membeli sumur Raumah kemudian dia menjadikan embernya bersama ember umat Islam (yaitu menjadikan sebagai wakaf) itu akan mendapat balasan lebih baik dari sumber tersebut dari surga."

Semangat wakaf ini menjadi inspirasi utama bagi para sahabat. Sebagaimana dikatakan oleh Jabir RA, "Tidak ada seorang pun di antara para sahabat Nabi yang memiliki kemampuan (untuk berwakaf) melainkan dia akan mengeluarkan hartanya untuk wakaf."

Amal Jariyah yang Tumbuh Menjadi Hotel Bintang Lima

Kebaikan dari wakaf Utsman bin Affan ini terbukti tidak pernah terputus. Hingga kini, sumur yang berlokasi di Wadi Al-Aqiq, sekitar 3,5 kilometer dari Masjid Nabawi, itu masih terus mengalirkan air.

Keajaiban ekonomi wakaf ini mulai terlihat beberapa tahun setelah diwakafkan. Pohon-pohon kurma tumbuh subur di sekitar sumur, dan jumlahnya terus bertambah. Saat ini, tercatat ada lebih dari 1.550 pohon kurma yang dirawat oleh pemerintah Arab Saudi.

Hasil panen kurma tersebut dikelola secara profesional. Keuntungan dari penjualan kurma dibagi dua:

  1. Sebagian disalurkan untuk fakir miskin dan anak yatim.
  2. Sisanya disimpan dalam rekening khusus atas nama Utsman bin Affan di bawah pengawasan Departemen Pertanian Saudi.

Dana yang terkumpul selama berabad-abad dari hasil panen kurma ini terus bertambah. Pada akhirnya, dana tersebut digunakan untuk membeli sebidang tanah dan membangun sebuah hotel besar di lokasi strategis dekat Masjid Nabawi.

Hotel yang kini berdiri megah dan beroperasi sebagai hotel bintang lima tersebut diperkirakan menghasilkan pendapatan hingga 50 juta riyal per tahun (sekitar 200 miliar rupiah). Keuntungan hotel ini juga dikelola dengan prinsip wakaf yang sama: sebagian untuk kaum dhuafa, dan sisanya disimpan sebagai dana wakaf abadi Utsman bin Affan RA.

Sumur yang dibeli dengan 12.000 dirham 14 abad lalu ini kini menjadi aset bernilai triliunan rupiah yang pahalanya terus mengalir, menjadikannya salah satu contoh amal jariyah paling luar biasa dalam sejarah Islam.

Catatan:
Semua doa itu baik, tergantung dari apa yang diyakini dan bagaimana hati meyakininya. Tidak ada doa yang salah, karena setiap doa adalah bentuk harapan dan penghambaan.

ruangdoa.com hanya berupaya menjadi perantara, tempat berbagi makna, tulisan, dan pengingat bahwa setiap kalimat yang diucap dengan keyakinan bisa menjadi jalan turunnya rahmat dari Allah SWT. Wallahu a'lam bishawab

Share:

Related Topics

Baca Juga