Getaran Adzan Terakhir Bilal bin Rabbah yang Membuat Seluruh Penduduk Madinah Menangis

ruangdoa.com Bilal bin Rabbah al-Habasyi merupakan salah satu sosok paling ikonik dalam sejarah awal Islam. Ia dikenal sebagai Muadzin pertama dan kesayangan Rasulullah SAW. Berasal dari Habasyah (sekarang Ethiopia), Bilal lahir sebagai seorang hamba sahaya dengan ciri fisik bertubuh tinggi, kurus, dan berkulit hitam. Sebelum memeluk Islam, ia adalah budak milik Umayyah bin Khalaf, seorang tokoh Quraisy yang dikenal sangat memusuhi dakwah Nabi.

Hidayah Islam menyapa Bilal saat ia masih dalam status perbudakan. Ia termasuk dalam golongan Assabiqunal Awwalun atau orang-orang yang pertama kali masuk Islam. Akibat keimanannya, Bilal mengalami penyiksaan yang sangat kejam dari majikannya, termasuk diletakkan batu besar di atas dadanya di bawah terik matahari padang pasir. Namun, ia tetap teguh dengan ucapan "Ahad, Ahad" (Allah Yang Maha Esa). Keteguhan inilah yang membuat Abu Bakar Ash-Shiddiq kemudian memerdekakannya.

Setelah Rasulullah SAW wafat pada tahun 11 Hijriah, suasana Madinah berubah total bagi Bilal. Suara merdu yang biasanya mengalun lima kali sehari dari Masjid Nabawi tiba-tiba menghilang. Bilal merasa sangat terpukul dan kehilangan arah. Ia tidak lagi mampu mengumandangkan adzan karena setiap kali sampai pada kalimat "Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah", suaranya akan tercekat oleh tangis dan dadanya terasa sesak karena kerinduan yang mendalam.

Karena merasa tidak sanggup lagi tinggal di Madinah yang penuh kenangan bersama Nabi, Bilal memutuskan untuk meninggalkan kota tersebut. Ia pergi ke Syam (wilayah Suriah saat ini) untuk berjihad dan menenangkan hatinya, berharap jarak bisa mengobati rasa kehilangan yang ia rasakan.

Bertahun-tahun kemudian, kerinduan itu memuncak setelah Bilal bermimpi bertemu Rasulullah SAW yang bertanya mengapa ia tidak lagi mengunjunginya. Hal ini mendorong Bilal untuk kembali ke Madinah. Kedatangannya disambut haru oleh penduduk Madinah, terutama oleh Umar bin Khattab dan dua cucu kesayangan Nabi, Hasan dan Husain r.a.

Atas permintaan Hasan dan Husain yang sangat merindukan suara kakek mereka melalui adzan Bilal, sang Muadzin akhirnya luluh. Ia naik ke menara Masjid Nabawi untuk mengumandangkan adzan sekali lagi. Begitu takbir pertama bergema, penduduk Madinah terdiam. Ketika ia mencapai kalimat syahadat, seluruh kota seolah berhenti beraktivitas.

Suara Bilal membawa kembali memori saat Rasulullah SAW masih hidup di tengah-tengah mereka. Tangis penduduk Madinah pecah secara massal karena rasa rindu yang tak terbendung. Adzan tersebut menjadi adzan terakhir yang paling menggetarkan dalam sejarah Madinah, membuktikan bahwa cinta dan kesetiaan Bilal kepada Rasulullah SAW bersifat abadi dan melampaui waktu. Kisah ini tetap menjadi pengingat tentang betapa dalamnya ikatan antara seorang sahabat dengan nabinya.

Catatan:
Semua doa itu baik, tergantung dari apa yang diyakini dan bagaimana hati meyakininya. Tidak ada doa yang salah, karena setiap doa adalah bentuk harapan dan penghambaan.

ruangdoa.com hanya berupaya menjadi perantara, tempat berbagi makna, tulisan, dan pengingat bahwa setiap kalimat yang diucap dengan keyakinan bisa menjadi jalan turunnya rahmat dari Allah SWT. Wallahu a'lam bishawab

Share:

Related Topics

Baca Juga