Az-Zubair Bin Al-Awwam Kisah Panglima Pedang Pertama Islam

ruangdoa.com Az-Zubair bin Al-‘Awwam adalah salah satu figur paling menonjol dalam sejarah awal Islam. Ia bukan hanya sepupu Nabi Muhammad SAW dari jalur ibunda beliau, Shafiyyah binti Abdul Muthalib, tetapi juga merupakan anggota eksklusif dari as-Sabiqun al-Awwalun, yaitu kelompok sepuluh orang pertama yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah SAW. Kehormatan ini menempatkannya pada posisi yang sangat mulia di mata umat Islam.

Nasab Az-Zubair terhubung langsung dengan garis keturunan Quraisy yang terhormat (Zubair bin Awwam bin Khuwailid), menjadikannya figur yang dihormati bahkan sebelum Islam. Secara fisik, beliau digambarkan memiliki postur yang sangat tinggi, jenggot dan cambuk yang tipis, serta rambut tebal, menjadikannya sosok yang gagah dan berwibawa di medan laga.

Keteguhan Iman di Tengah Siksaan Kejam

Kisah keislaman Az-Zubair, yang seumuran dengan sahabat besar seperti Ali bin Abi Thalib dan Thalhah bin Ubaidillah, penuh dengan ujian yang ekstrem. Ketika ia menyatakan keimanannya pada usia muda, pamannya, Naufal bin Khuwailid, yang awalnya menyayanginya, berubah menjadi penyiksa kejam.

Dikisahkan bahwa Naufal memasukkan Az-Zubair muda ke dalam kurungan sempit yang dipenuhi asap tebal dari api yang menyala-nyala. Tujuannya adalah memaksanya murtad karena kepanasan dan sesak napas. Namun, meski tubuhnya masih rapuh, iman Az-Zubair bagaikan karang. Ia menolak kembali menyembah berhala, menunjukkan keteguhan yang luar biasa di hadapan penyiksaan fisik yang brutal.

Dalam periode sulit di Mekah, Az-Zubair juga menjadi korban pemukulan hebat hingga dadanya terluka parah. Karena kondisi luka ini, Rasulullah SAW memberikan dispensasi khusus agar ia mengenakan pakaian sutra untuk membantu proses penyembuhan, pengecualian yang menunjukkan perhatian khusus Nabi terhadap sahabatnya ini.

Panglima di Garis Terdepan

Untuk menghindari penyiksaan yang berkelanjutan, Az-Zubair termasuk dalam rombongan pertama yang hijrah ke Habasyah, sebelum akhirnya berhijrah ke Madinah bersama istrinya, Asma binti Abu Bakar, putri dari Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Di Madinah, Az-Zubair menjalani kehidupan sebagai pedagang yang gigih sambil terus berdakwah. Namun, ketika seruan jihad dikumandangkan, ia segera menanggalkan peran dagangannya dan terjun langsung ke medan pertempuran. Keberaniannya diakui oleh semua pihak. Ia berpartisipasi dalam hampir semua pertempuran besar, mulai dari Perang Badar, Uhud, hingga berbagai peperangan lainnya.

Tubuh Az-Zubair menjadi peta sejarah perjuangannya; dipenuhi bekas luka yang menunjukkan betapa seringnya ia berada di barisan paling depan. Dalam Perang Uhud, ia menunjukkan kegagahan yang legendaris saat maju menerima tantangan duel dari Thalhah bin Thalhah Al-Abdari, pembawa panji pasukan musuh. Az-Zubair berhasil menumbangkan lawannya, membuat Rasulullah SAW mengumandangkan takbir dan membakar semangat kaum Muslimin.

Az-Zubair juga dikenal sebagai panglima perang yang tangguh, memimpin pasukan dalam kemenangan penting seperti Perang Yarmuk dan Perang Hunain, menunjukkan kemampuan strategis dan kepemimpinan yang mumpuni.

Kerinduan akan Syahid dan Akhir yang Tragis

Salah satu fakta unik tentang Az-Zubair adalah kecintaannya yang mendalam pada mati syahid. Saking besar keinginannya untuk gugur di jalan Allah, ia menamai anak-anaknya dengan nama-nama sahabat yang telah gugur syahid. Tujuannya sederhana, agar anak-anaknya termotivasi untuk mengikuti jejak para syuhada.

Namun, Allah SWT telah menetapkan takdir yang berbeda. Az-Zubair yang selalu mencari syahid di tengah dentuman pedang, justru wafat bukan di medan pertempuran. Pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, Az-Zubair dibunuh secara tragis dari belakang saat ia sedang melaksanakan salat. Ia dibunuh oleh Amr bin Jurmuz, mengakhiri hidup salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin surga dengan cara yang menyedihkan dan tidak terduga.

Kisah Az-Zubair bin Al-Awwam adalah pengingat abadi tentang keteguhan iman, keberanian tak tertandingi, dan pengorbanan tanpa batas demi tegaknya agama Islam.

Catatan:
Semua doa itu baik, tergantung dari apa yang diyakini dan bagaimana hati meyakininya. Tidak ada doa yang salah, karena setiap doa adalah bentuk harapan dan penghambaan.

ruangdoa.com hanya berupaya menjadi perantara, tempat berbagi makna, tulisan, dan pengingat bahwa setiap kalimat yang diucap dengan keyakinan bisa menjadi jalan turunnya rahmat dari Allah SWT. Wallahu a'lam bishawab

Share:

Related Topics

Baca Juga