ruangdoa.com – Dalam sejarah emas para sahabat Nabi Muhammad SAW, nama Al-Barra’ bin Malik selalu disebut sebagai simbol keberanian yang tak tertandingi. Sosok kurus dengan penampilan sederhana ini menyimpan kekuatan iman yang mampu mengubah jalannya pertempuran paling menentukan dalam sejarah awal Islam.
Al-Barra’ bin Malik adalah saudara kandung dari Anas bin Malik, pelayan setia Rasulullah SAW. Keduanya lahir dari rahim seorang wanita mulia, Ummu Sulaim binti Milhan, dari suku Bani Khazraj, kaum Anshar Madinah.
Sejak masa mudanya, Al-Barra’ telah membuktikan loyalitasnya. Ia ikut serta dalam hampir seluruh peperangan besar setelah Perang Badar dan termasuk dalam barisan yang berikrar setia dalam Baiat Ridwan. Meskipun secara fisik ia tampak biasa saja, bahkan cenderung tidak menarik perhatian, semangatnya untuk meraih syahid adalah api yang tak pernah padam. Kerinduan mendalam untuk bertemu Rasulullah SAW melalui kematian mulia di medan perang adalah motivasi terbesarnya.
Al-Barra’ wafat sebagai syahid pada tahun 20 Hijriah (sekitar 641 Masehi) dalam penaklukan Persia. Namun, kisah legendaris yang paling menancap dalam ingatan umat adalah perannya dalam Perang Yamamah.
Panggilan di Gerbang Maut
Perang Yamamah yang terjadi pada masa kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shiddiq (Perang Riddah) adalah momen krusial untuk memadamkan pemberontakan Musailamah Al-Kadzdzab, si nabi palsu. Pertempuran ini sangat sengit dan menguras korban jiwa.
Ketika pasukan Muslim mulai terdesak oleh kekuatan Musailamah, komandan tertinggi, Khalid bin Walid, mengetahui siapa yang bisa membangkitkan moral pasukan. Ia memanggil Al-Barra’ bin Malik.
"Wahai Al-Barra’, kerahkan kaum Anshar!" perintah Khalid.
Al-Barra’ langsung berdiri tegak dan meneriakkan seruan heroik kepada kaumnya: "Wahai kaum Anshar, jangan pernah berpikir untuk kembali ke Madinah! Tidak ada lagi Madinah setelah hari ini. Ingatlah Allah, ingatlah surga!"
Seruan ini adalah suntikan energi yang luar biasa. Al-Barra’ maju ke depan barisan layaknya singa yang terluka, mengamuk dengan pedangnya. Kaum Anshar mengikutinya, berhasil memukul mundur pasukan Musailamah hingga mereka berlindung di benteng pertahanan terakhir mereka, sebuah kebun berkubu yang kemudian dikenal dengan nama "Kebun Maut" (Hadiqatul Maut).
Misi Bunuh Diri di Kebun Maut
Kebun Maut adalah benteng alami yang sangat kokoh dengan gerbang terkunci rapat dari dalam. Dari atas tembok, pasukan Musailamah menghujani kaum Muslimin dengan panah, membuat upaya penyerangan menjadi mustahil.
Kebuntuan ini harus segera dipecahkan. Pada saat itulah, Al-Barra’, dengan ide gila yang hanya bisa dipikirkan oleh seorang perindu syahid, menawarkan diri.
Ia berteriak kepada rekan-rekannya, "Angkat tubuhku dengan perisai dan galah! Lindungi aku dari panah musuh, lalu lemparkan aku ke dalam benteng! Aku akan syahid, tetapi aku akan membukakan gerbang bagi kalian!"
Meskipun ragu, pasukan Muslim menyadari bahwa ini adalah satu-satunya cara. Mereka mengangkat tubuh kurus Al-Barra’ di atas perisai dan, di bawah lindungan panah, melemparkannya melintasi tembok tinggi Kebun Maut.
Al-Barra’ mendarat sendirian di tengah ratusan musuh. Pertarungan tunggal yang mustahil pun dimulai. Ia bertarung dengan semangat yang membara, membunuh puluhan penjaga gerbang, meskipun tubuhnya sendiri tertusuk berkali-kali.
Dengan darah bercucuran, ia berhasil mencapai gerbang utama dan membuka kuncinya dari dalam.
Pasukan Muslim segera membanjiri masuk. Pertempuran di dalam kebun menjadi pembantaian besar-besaran. Musailamah Al-Kadzdzab tewas di tangan Wahsyi bin Harb. Kemenangan besar diraih, dan ancaman nabi palsu berhasil dipadamkan.
Ketika pertempuran usai, Al-Barra’ ditemukan terbaring kritis. Ia menderita lebih dari 80 luka tusukan dan sayatan di sekujur tubuhnya. Keberaniannya telah menyelamatkan seluruh pasukan dan menjadi penentu kemenangan.
Meskipun ia sangat merindukan syahid di Kebun Maut, Allah SWT menunda takdirnya. Ia dirawat hingga sembuh total, hidup untuk melanjutkan jihadnya, hingga akhirnya meraih impian syahidnya beberapa tahun kemudian dalam penaklukan Persia. Kisah Al-Barra’ bin Malik adalah bukti nyata bahwa kekuatan sejati seorang Muslim tidak diukur dari penampilan, tetapi dari keteguhan hati dan kerinduan pada pertemuan dengan Sang Pencipta.








