Ahli Ibadah Masuk Neraka Ahli Maksiat ke Surga Ini Rahasia Allah

ruangdoa.com

Seringkali, sebagai seorang Muslim, kita terjebak dalam perangkap penilaian spiritual. Kita cenderung melabeli seorang yang rajin ibadah sebagai calon penghuni surga, sementara mereka yang terjerumus dalam maksiat otomatis kita vonis neraka. Padahal, keputusan akhir mengenai surga dan neraka adalah hak prerogatif mutlak Allah SWT yang tidak dapat diintervensi oleh penilaian atau asumsi siapapun.

Keyakinan ini adalah fondasi penting dalam tauhid. Allah SWT telah menegaskan bahwa kekuasaan penuh ada di tangan-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an surah Al-An’am ayat 128:

وَيَوْمَ ÙŠÙŽØ­Ù’Ø´ÙØ±ÙÙ‡Ùمْ جَمÙيْعًاۚ يٰمَعْشَرَ الْجÙنّ٠قَد٠اسْتَكْثَرْتÙمْ مّÙÙ†ÙŽ الْاÙنْس٠ۚوَقَالَ اَوْلÙيَاۤؤÙÙ‡Ùمْ مّÙÙ†ÙŽ الْاÙنْس٠رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ بَعْضÙنَا Ø¨ÙØ¨ÙŽØ¹Ù’ض٠وَّبَلَغْنَآ اَجَلَنَا الَّذÙيْٓ اَجَّلْتَ لَنَا ۗقَالَ النَّار٠مَثْوٰىكÙمْ Ø®Ù°Ù„ÙØ¯Ùيْنَ ÙÙيْهَآ اÙلَّا مَا شَاۤءَ اللّٰه٠ۗاÙنَّ رَبَّكَ Ø­ÙŽÙƒÙيْمٌ عَلÙيْمٌ

(Wa yauma ya’syuruhum jamī‘ā(n), yā ma‘syaral-jinni qadistakṡartum minal-ins(i), wa qāla auliyā’uhum minal-insi rabbanastamta‘a ba‘ḍunā biba‘ḍiw wa balagnā ajalanal-lażī ajjalta lanā, qālan-nāru maṡwākum khālidīna fīhā illā mā syā’allāh(u), inna rabbaka ḥakīmun ‘alīm(un).)

Artinya: "(Ingatlah) pada hari ketika Dia mengumpulkan mereka semua (dan Allah berfirman), "Wahai golongan jin, kamu telah seringkali (menyesatkan) manusia." Kawan-kawan mereka dari golongan manusia berkata, "Ya Tuhan, kami telah saling mendapatkan kesenangan dan kami telah sampai pada waktu yang telah Engkau tentukan buat kami." Allah berfirman, "Nerakalah tempat kamu selama-lamanya, kecuali jika Allah menghendaki lain." Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui."

Poin penting dari ayat ini adalah kalimat “kecuali jika Allah menghendaki lain”. Ini menunjukkan bahwa bahkan keputusan yang tampak pasti pun tetap berada di bawah kendali mutlak kehendak Allah. Rahmat dan keadilan-Nya jauh melampaui logika dan perhitungan manusia.

Pelajaran dari Kisah Ahli Ibadah yang Sombong

Untuk memperkuat pemahaman tentang bahaya menilai orang lain, terdapat sebuah kisah shahih yang diriwayatkan dalam hadis. Kisah ini menjadi peringatan keras bagi mereka yang merasa ibadah mereka sudah cukup tinggi sehingga berhak menghakimi nasib orang lain.

Disebutkan dalam hadis riwayat Ahmad dan Abu Dawud, dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:

Dahulu kala, pada zaman Bani Israil, hidup dua orang laki-laki dengan karakter yang sangat berbeda. Yang satu dikenal sebagai ahli ibadah yang rajin, sementara yang lain adalah ahli maksiat yang gemar berbuat dosa.

Setiap kali ahli ibadah melihat temannya berbuat dosa, ia selalu menasihatinya, "Berhentilah dari perbuatan dosamu."

Suatu hari, ahli maksiat itu menjawab dengan nada kesal, "Jangan pedulikan aku! Terserah Allah akan memperlakukan aku bagaimana. Memangnya engkau diutus Allah untuk mengawasi apa yang aku lakukan?"

Mendengar jawaban itu, ahli ibadah tersebut melontarkan kata-kata yang fatal. Ia menimpali, "Demi Allah, dosamu tidak akan diampuni oleh-Nya atau kamu tidak mungkin dimasukkan ke dalam surga Allah."

Setelah perkataan itu terucap, Allah SWT mencabut nyawa kedua orang tersebut. Keduanya dikumpulkan di hadapan-Nya untuk dihisab.

Allah SWT kemudian berfirman kepada laki-laki ahli ibadah, "Apakah kamu lebih mengetahui daripada Aku? Atau kamu dapat merubah apa yang telah berada dalam kekuasaan tangan-Ku?"

Kepada ahli maksiat, Allah berfirman, "Masuklah kamu ke dalam surga berkat Rahmat-Ku."

Sementara kepada ahli ibadah yang sombong itu, dikatakan, "Masukkan orang ini ke neraka."

Mengapa Ahli Ibadah Dihukum Berat

Kisah ini memberikan pelajaran mendalam bagi kita semua. Ahli ibadah tersebut dihukum bukan karena ia menasihati temannya, tetapi karena ia melakukan dua kesalahan fatal:

  1. Kesombongan Spiritual (Ujub): Ia merasa amal ibadahnya telah menjamin tempatnya di surga, sehingga ia merasa lebih suci dari orang lain.
  2. Membatasi Rahmat Allah: Ia berani memastikan dan bersumpah bahwa Allah tidak akan mengampuni dosa temannya. Ini merupakan bentuk intervensi terhadap kekuasaan dan sifat Al-Ghafur (Maha Pengampun) milik Allah. Ia telah berani mengambil peran sebagai hakim atas Rahmat Tuhan.

Sebaliknya, ahli maksiat yang tidak dinilai layak oleh manusia, justru masuk surga. Ini dapat terjadi karena dua hal: pertama, ia mungkin meninggal dalam keadaan taubat yang tulus, dan kedua, ia tidak pernah membatasi Rahmat Allah meskipun ia berbuat dosa.

Fokus Pada Tawadhu dan Taubat

Keputusan tentang akhir hidup seseorang adalah rahasia Allah. Tugas kita sebagai hamba adalah beribadah sekuat tenaga, menjaga keikhlasan, dan yang paling penting, menjaga kerendahan hati (tawadhu).

Jangan pernah menilai atau memastikan nasib akhir seseorang berdasarkan penampilan luarnya. Hari ini ia ahli maksiat, besok ia bisa menjadi wali Allah berkat taubatnya. Hari ini kita rajin beribadah, besok kita bisa terjerumus dalam kesombongan yang menghapus semua amal.

Inti ajaran Islam mengajarkan kita untuk selalu berharap pada Rahmat Allah dan menjauhi keputusasaan. Rahmat Allah jauh lebih luas dari murka-Nya. Mari kita fokus memperbaiki diri dan menjauhi penyakit hati terbesar yang menjerumuskan ahli ibadah ke neraka, yaitu kesombongan.

Catatan:
Semua doa itu baik, tergantung dari apa yang diyakini dan bagaimana hati meyakininya. Tidak ada doa yang salah, karena setiap doa adalah bentuk harapan dan penghambaan.

ruangdoa.com hanya berupaya menjadi perantara, tempat berbagi makna, tulisan, dan pengingat bahwa setiap kalimat yang diucap dengan keyakinan bisa menjadi jalan turunnya rahmat dari Allah SWT. Wallahu a'lam bishawab

Share:

Related Topics

Baca Juga