950 Tahun Berdakwah Mengapa Nabi Nuh AS Tetap Gagal Meluluhkan Hati Bani Rasib

ruangdoa.com Nabi Nuh AS adalah salah satu nabi dan rasul ulul azmi yang diutus langsung oleh Allah SWT. Misi dakwah beliau ditujukan kepada kaum Bani Rasib, sebuah komunitas yang dikenal karena kesombongan, kezaliman, dan kecintaan mereka yang buta terhadap harta dunia. Apa yang membuat kisah Nuh AS begitu monumental adalah durasi dakwahnya yang luar biasa, mencapai 950 tahun.

Selama hampir satu milenium, Nabi Nuh AS berusaha keras membawa kaumnya kembali ke jalan tauhid. Namun, Bani Rasib, yang dimabuk oleh kekayaan dan kemewahan, menjadikan harta sebagai satu-satunya tolok ukur martabat manusia. Mereka meremehkan, bahkan menindas, kaum fakir miskin, dan yang lebih parah, mereka tenggelam dalam kesesatan dengan menyembah berhala.

Kaum yang Keras Kepala dan Zalim

Buku Mutiara Kisah 25 Nabi dan Rasul menyebutkan bahwa Bani Rasib adalah kaum yang sangat congkak. Bagi mereka, kemewahan adalah segalanya, dan ajaran yang dibawa Nabi Nuh AS dianggap sebagai ancaman terhadap status quo mereka.

Dalam kitab Qashash Anbiya oleh Ibnu Katsir, dikisahkan bahwa Nabi Nuh AS berdakwah agar kaumnya tidak terjerumus lebih dalam ke jurang kegelapan. Namun, seruan itu bukan hanya diabaikan, melainkan juga diperangi. Generasi demi generasi yang lahir di kalangan Bani Rasib selalu diwarisi pesan yang sama: jangan ikuti Nuh, lawan ajarannya.

Allah SWT sendiri menegaskan durasi dakwah Nabi Nuh AS yang tak tertandingi ini dalam firman-Nya di Surah Al Ankabut ayat 14:

"Sungguh, Kami benar-benar telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu dia tinggal bersama mereka selama seribu tahun kurang lima puluh tahun. Kemudian, mereka dilanda banjir besar dalam keadaan sebagai orang-orang zalim." (QS. Al Ankabut: 14)

Puncak Keputusasaan dan Doa Nabi Nuh

Setelah berjuang selama ratusan tahun tanpa hasil, dan melihat kaumnya semakin jauh dari kebenaran, Nabi Nuh AS mencapai titik di mana beliau menyadari bahwa tidak akan ada lagi yang beriman selain mereka yang telah beriman. Hati sang nabi dipenuhi keputusasaan yang manusiawi.

Beliau lantas bermunajat kepada Allah SWT, memohon keputusan akhir atas kaum yang mendustakannya. Doa ini terekam dalam Surah Asy Syu’ara ayat 117-118:

"Dia (Nuh) berkata, ‘Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah mendustakanku. Maka, berilah keputusan antara aku dan mereka serta selamatkanlah aku dan orang-orang mukmin bersamaku.’" (QS. Asy Syu’ara: 117-118)

Bahtera Penyelamat dan Azab Banjir Bah

Allah SWT mengabulkan doa Nabi Nuh AS. Perintah pun turun: bangunlah sebuah bahtera (kapal) raksasa.

Saat Nabi Nuh AS mulai membuat kapal di tengah padang pasir—jauh dari air—kaumnya bukannya bertobat, malah semakin mencemooh dan menghina beliau. Mereka menganggap Nuh sudah gila karena membuat perahu di tempat yang kering.

Setelah bahtera itu selesai, Allah SWT memerintahkan Nuh AS untuk membawa semua pengikutnya yang beriman, serta sepasang dari setiap jenis hewan. Begitu semua telah berada di dalam kapal, azab yang dijanjikan pun datang.

Banjir besar yang melanda Bani Rasib adalah banjir yang dahsyat, bahkan disebut sebagai Taufan Nuh, sebuah peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya. Allah SWT memerintahkan bumi untuk memancarkan seluruh airnya dan langit untuk mencurahkan hujan tanpa henti. Kaum Bani Rasib yang ingkar, termasuk anak Nabi Nuh sendiri, Kan’an, yang memilih tidak beriman dan menolak naik bahtera, binasa ditelan air.

Ibnu Ishaq mencatat bahwa banjir ini berlangsung selama dua tahun, dua bulan, dan 26 hari, sebelum akhirnya air mereda atas perintah Sang Khalik. Nabi Nuh AS dan pengikutnya turun dari bahtera sebagai saksi keagungan dan keadilan Allah SWT.

Kisah Nabi Nuh AS mengajarkan kita bahwa kesabaran dan keteguhan dalam berdakwah memang harus luar biasa, namun pada akhirnya, hidayah tetaplah mutlak milik Allah SWT. Wallahu a’lam bish-shawab.

Catatan:
Semua doa itu baik, tergantung dari apa yang diyakini dan bagaimana hati meyakininya. Tidak ada doa yang salah, karena setiap doa adalah bentuk harapan dan penghambaan.

ruangdoa.com hanya berupaya menjadi perantara, tempat berbagi makna, tulisan, dan pengingat bahwa setiap kalimat yang diucap dengan keyakinan bisa menjadi jalan turunnya rahmat dari Allah SWT. Wallahu a'lam bishawab

Share:

Related Topics

Baca Juga