ruangdoa.com Seringkali saat kita membicarakan tokoh paling kaya di dunia, nama-nama miliarder teknologi modern seperti Jeff Bezos atau Elon Musk yang terlintas. Namun, jika kita menengok kembali catatan sejarah Islam yang gemilang, ada satu nama yang kekayaannya sulit ditandingi bahkan oleh standar zaman sekarang Mansa Musa, Raja Kekaisaran Mali.
Bukan sekadar kaya, Raja Muslim dari Afrika Barat abad ke-14 ini dikenal karena kesalehan dan kedermawanannya yang luar biasa. Kisah hidupnya membuktikan bahwa kesuksesan dalam bisnis dan perdagangan internasional dapat berjalan beriringan dengan keimanan dan kepemimpinan yang adil.
Mansa Musa Raja Muslim Terkaya dalam Sejarah Manusia
Dinukil dari berbagai sumber sejarah dan buku literatur Islam, Mansa Musa diyakini sebagai individu terkaya sepanjang sejarah manusia. Kekayaannya yang tak terhitung diperkirakan mencapai nilai setara dengan USD 400 miliar atau sekitar Rp 6.500 triliun dalam nilai mata uang saat ini—sebuah angka yang fantastis.
Mansa Musa memulai pemerintahannya pada tahun 1312, memimpin sebuah kekaisaran yang membentang luas di Afrika Barat, yang kini mencakup Mali, Ghana, dan Timbuktu. Sumber utama kekayaan Mali adalah perdagangan emas dan garam.
Sebagai pemimpin visioner, Mansa Musa tidak hanya duduk di istana. Ia secara aktif menjalin hubungan dagang dengan berbagai wilayah di Afrika, Timur Tengah, dan Eropa. Ia mengirimkan kafilah dagang besar yang membawa emas, garam, kain, dan rempah-rempah ke berbagai penjuru dunia, menempatkan Mali sebagai pusat ekonomi global pada masanya.
Perjalanan Haji yang Mengguncang Ekonomi Dunia
Kisah yang paling fenomenal dari Mansa Musa adalah perjalanan ziarah atau ibadah Haji ke Makkah pada tahun 1324. Perjalanan ini bukanlah perjalanan biasa, melainkan sebuah demonstrasi kekayaan, kekuatan, dan keimanan.
Kafilah Mansa Musa diperkirakan membawa ribuan pengikut, termasuk istri, anak-anak, pengawal, dan pelayan, serta sekitar 100.000 pon (sekitar 45 ton) emas murni dalam bentuk koin, batangan, dan debu.
Sepanjang perjalanannya melalui gurun hingga sampai di Kairo dan kemudian Makkah, Mansa Musa menunjukkan kedermawanan yang tak terbayangkan. Ia membagi-bagikan emas kepada orang miskin, para pemimpin politik, dan ulama yang ditemuinya.
Kedermawanan ini begitu masif hingga dampaknya terasa nyata. Di Kairo, misalnya, jumlah emas yang dibagikan Mansa Musa menyebabkan inflasi parah. Nilai emas di pasar Kairo menurun drastis dan butuh waktu hingga satu dekade untuk ekonomi di wilayah tersebut pulih kembali. Perjalanan Haji ini tidak hanya memperkenalkan Mali kepada dunia Islam dan Eropa, tetapi juga memperluas jaringan perdagangan internasionalnya secara signifikan.
Warisan Pendidikan dan Pusat Ilmu Timbuktu
Mansa Musa memahami bahwa kekayaan sejati bukanlah hanya materi, melainkan ilmu pengetahuan dan peradaban. Setelah kembali dari Makkah, ia membawa serta sejumlah besar cendekiawan dan ulama Muslim terkemuka ke Mali.
Di antara rombongan yang ikut adalah Abu Ishaq al-Sahili, seorang penyair sekaligus arsitek ulung dari Andalusia. Al-Sahili kemudian merancang beberapa mahakarya arsitektur Islam di Mali, termasuk pembangunan Masjid Djinguereber yang ikonik di Timbuktu pada tahun 1327.
Di bawah kepemimpinan Mansa Musa, Timbuktu bertransformasi menjadi pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam terbesar di dunia. Ia mendirikan banyak sekolah, perpustakaan, dan masjid. Yang paling terkenal adalah Universitas Sankore, sebuah pusat pendidikan tinggi yang menarik ribuan pencari ilmu dari berbagai penjuru bumi. Timbuktu saat itu menampung perpustakaan yang menyimpan ribuan manuskrip penting, menjadikannya ‘mutiara’ Afrika dalam hal ilmu pengetahuan.
Mansa Musa dikabarkan wafat pada tahun 1337 di usia 57 tahun. Sayangnya, kekaisaran yang ia bangun dengan megah tidak mampu dipertahankan oleh penerusnya. Konflik internal dan akhirnya kedatangan bangsa Eropa ke Afrika menjadi titik awal kemunduran dan kehancuran Kekaisaran Mali. Namun, warisan kekayaan spiritual, ilmu, dan peradaban Mansa Musa tetap abadi dalam catatan sejarah Islam.








