ruangdoa.com
Ubadah bin ash-Shamit, yang memiliki nama lengkap Abul Walid Ubadah bin ash-Shamit bin Qais al-Anshari al-Khazraji, adalah salah seorang tokoh Anshar paling terkemuka. Berasal dari Bani Khazraj, beliau memainkan peran krusial dalam sejarah awal Islam, terutama dalam membangun fondasi komunitas Muslim di Madinah.
Pelopor Baiat dan Simbol Kesetiaan Anshar
Kisah keislaman Ubadah dimulai jauh sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Beliau tercatat sebagai salah satu pemimpin kaum Anshar yang pertama kali datang ke Makkah. Dalam peristiwa bersejarah Baiat Aqabah Pertama, Ubadah adalah satu dari 12 orang Anshar yang menyatakan keislamannya dan mengikrarkan janji setia kepada Rasulullah SAW.
Baiat ini bukan sekadar janji lisan, melainkan komitmen total untuk mendukung dakwah Islam. Setelah hijrah, sebagai simbol persatuan umat, Rasulullah SAW mempersaudarakan Ubadah bin ash-Shamit (dari kalangan Anshar) dengan Abu Martsad al-Ghanawi (dari kalangan Muhajirin). Persaudaraan ini menjadi pondasi kuat bagi masyarakat Madinah yang baru, di mana Anshar dan Muhajirin saling bahu membahu.
Ujian Loyalitas Menghadapi Sekutu Lama
Keimanan Ubadah bin ash-Shamit benar-benar diuji ketika ia harus memilih antara ikatan kesukuan lama dengan kesetiaan mutlak kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.
Sebelum Islam datang, keluarga Ubadah memiliki perjanjian aliansi yang kuat dengan Bani Qainuqa’, salah satu kabilah Yahudi di Madinah. Awalnya, kaum Yahudi menunjukkan sikap damai, namun setelah kemenangan umat Islam di Perang Badar, sikap mereka berubah drastis menjadi permusuhan, fitnah, dan provokasi terhadap Muslimin.
Melihat pengkhianatan dan sikap memusuhi tersebut, Ubadah bin ash-Shamit menunjukkan ketegasan iman yang luar biasa. Ia tidak ragu untuk segera membatalkan semua perjanjian lama dengan Bani Qainuqa’.
Ubadah menegaskan pendiriannya yang hanya akan mengikuti pimpinan Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman. Sikap ini berbeda 180 derajat dengan tokoh munafik seperti Abdullah bin Ubayy yang bersikeras mempertahankan aliansi lama mereka. Bagi Ubadah, loyalitas kepada akidah berada di atas segala ikatan duniawi.
Tidak lama setelah tindakan tegas Ubadah, turunlah wahyu Al-Qur’an yang seolah memuji dan membenarkan sikapnya, sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Ma’idah ayat 56:
"Siapa yang menjadikan Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman sebagai penolongnya, sesungguhnya para pengikut Allah itulah yang akan menjadi pemenang." (QS Al-Ma’idah: 56)
Ayat ini memperkuat prinsip bahwa seorang Mukmin sejati harus melepaskan diri dari sekutu kafir yang memusuhi Islam, dan menjadikan Allah, Rasul, serta kaum beriman sebagai satu-satunya penolong dan pelindung.
Menjadi Guru dan Pemimpin Pertama di Tanah Suci
Setelah Islam menyebar luas dan wilayah Syam berhasil ditaklukkan, Rasulullah SAW dan para Khalifah penerusnya memiliki kebijakan untuk mengirimkan para Sahabat yang berilmu tinggi ke wilayah-wilayah baru untuk mengajarkan Al-Qur’an dan syariat Islam.
Ubadah bin ash-Shamit termasuk di antara sahabat yang diutus ke wilayah tersebut. Bersama Abu Darda’ yang diutus ke Damaskus, Ubadah diperintahkan menuju Palestina. Beliau menetap di sana selama bertahun-tahun, mendedikasikan hidupnya untuk dakwah, mengajar penduduk setempat tentang Islam, dan menghafalkan Al-Qur’an.
Berkat keilmuan, ketegasan, dan keteladanannya, Ubadah bin ash-Shamit kemudian menerima penugasan penting lainnya. Ia diangkat sebagai pemimpin atau gubernur pertama bagi wilayah Palestina di bawah pemerintahan Islam. Pengangkatannya ini menandai dimulainya sistem pemerintahan Islam di wilayah tersebut, di mana keadilan dan syariat diterapkan berlandaskan ajaran yang ia sampaikan selama masa dakwahnya.
Ubadah bin ash-Shamit dikenang sebagai sosok yang tak pernah berkompromi dengan kebenaran, membuktikan bahwa kesetiaan total kepada Allah dan Rasul adalah kunci kemenangan di dunia dan akhirat, yang kemudian membawanya menjadi guru spiritual sekaligus pemimpin politik di salah satu wilayah terpenting dalam sejarah Islam.








