ruangdoa.com – Perpindahan arah kiblat dari Baitul Maqdis (Masjid Al-Aqsa di Yerusalem) menuju Ka’bah di Masjidil Haram adalah salah satu momen paling monumental dan penuh ujian dalam sejarah awal umat Islam. Peristiwa ini bukan sekadar perubahan arah salat, melainkan sebuah ujian ketaatan murni yang datang langsung dari Allah SWT, berfungsi memisahkan antara mukmin sejati yang taat pada Rasulullah SAW dan mereka yang ragu.
Sejarah mencatat, peristiwa besar ini terjadi pada pertengahan bulan Syaban, tepatnya di tahun kedua Hijriyah, kurang lebih 16 hingga 17 bulan setelah kedatangan Rasulullah SAW di Madinah.
Kerinduan Nabi Menghadap Ka’bah
Sebelum perintah pemindahan kiblat turun, Rasulullah SAW bersama para sahabat salat menghadap ke arah Baitul Maqdis. Meskipun itu adalah kiblat yang sah pada masanya, jauh di lubuk hati Nabi Muhammad SAW, ada kerinduan yang mendalam untuk menjadikan Ka’bah—rumah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim AS—sebagai kiblat.
Hal ini dicatat oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitabnya Zadul Ma’ad. Rasulullah SAW pernah mengungkapkan kerinduan ini kepada Malaikat Jibril AS.
"Aku senang jika Allah SWT memalingkan wajahku dari kiblat Yahudi," kata Rasulullah SAW.
Namun, Jibril menjawab bahwa dia hanyalah hamba yang diutus, menyarankan agar Rasulullah SAW berdoa dan memohon langsung kepada Rabbnya.
Saat salat, sering kali Rasulullah SAW menengadahkan wajahnya ke langit, penuh harap agar Allah SWT mengabulkan keinginan tersebut. Keinginan yang tulus ini kemudian direspons langsung oleh Allah SWT.
Turunnya Ayat Pemindahan Kiblat
Maka, Allah SWT menurunkan firman-Nya yang abadi dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 144:
قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى ٱلسَّمَآءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَىٰهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّوا۟ وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُۥ ۗ وَإِنَّ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتَٰبَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّهِمْ ۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ
Artinya: "Sungguh, Kami melihat wajahmu (Nabi Muhammad) sering menengadah ke langit. Maka, pasti akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau sukai. Lalu, hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Di mana pun kamu sekalian berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu. Sesungguhnya orang-orang yang diberi kitab benar-benar mengetahui bahwa (pemindahan kiblat ke Masjidil Haram) itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Allah tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan."
Menurut riwayat yang dikumpulkan oleh Ibnu Thabari dalam Tarikh ar-Rusul wa al-Muluk, pemindahan ini terjadi sekitar dua bulan sebelum meletusnya Perang Badar. Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi menyatakan bahwa Rasulullah SAW menghadap Baitul Maqdis selama enam belas bulan sejak hijrah ke Madinah sebelum akhirnya perintah ini turun.
Perintah ini menegaskan kembali prinsip universalitas agama yang dibawa oleh seluruh nabi, sebagaimana Allah berfirman dalam Surah Asy-Syura ayat 13:
شَرَعَ لَكُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِۦ نُوحًا وَٱلَّذِىٓ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِۦٓ إِبْرَٰهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰٓ أَنْ أَقِيمُوا۟ ٱلدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا۟ فِيهِ ۚ كَبُرَ عَلَى ٱلْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ ۚ ٱللَّهُ يَجْتَبِىٓ إِلَيْهِ مَن يَشَآءُ وَيَهْدِىٓ إِلَيْهِ مَن يُنِيبُ
Artinya: "Dia (Allah) telah mensyariatkan bagi kamu agama yang Dia wasiatkan (juga) kepada Nuh, yang telah Kami wahyukan kepadamu (Nabi Muhammad), dan yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa yaitu: tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan) dan janganlah kamu berpecah-belah di dalamnya. Sangat berat bagi orang-orang musyrik (untuk mengikuti) agama yang kamu serukan kepada mereka. Allah memilih orang yang Dia kehendaki pada (agama)-Nya dan memberi petunjuk pada (agama)-Nya bagi orang yang kembali (kepada-Nya)."
Hikmah Ujian Bagi Empat Golongan
Peristiwa Tahwilul Qiblah (perpindahan kiblat) ini mengandung hikmah luar biasa dan berfungsi sebagai alat pemilah (furqan) bagi empat golongan utama di Madinah saat itu:
1. Kaum Muslimin (Para Sahabat)
Bagi kaum mukmin sejati, perpindahan ini adalah ujian ketaatan mutlak. Sikap mereka adalah sami’na wa atha’na (kami dengar dan kami patuh). Mereka beriman bahwa semua perintah berasal dari sisi Rabb mereka dan tidak ada keberatan sedikit pun, meskipun hal itu terasa berat. Mereka adalah golongan yang diberi petunjuk oleh Allah SWT.
2. Orang-orang Musyrik Makkah
Mereka melihat perpindahan kiblat sebagai kemenangan. Mereka beranggapan, "Ia (Muhammad) telah pindah ke kiblat kami, berarti ia akan pindah ke agama kami. Maka yang benar adalah agama kami."
3. Kaum Yahudi Madinah
Orang-orang Yahudi segera melontarkan kritik. Mereka berpendapat bahwa Rasulullah SAW menyalahi kiblat para nabi sebelumnya (yang menghadap Baitul Maqdis). Jika beliau benar nabi, seharusnya beliau tetap menghadap kiblat mereka. Dengan demikian, mereka mencoba meragukan kenabian Muhammad SAW.
4. Kaum Munafik
Kaum munafik adalah golongan yang paling bingung dan memanfaatkan momen ini untuk menyebar keraguan. Mereka berkata, "Kami tidak tahu kemana Muhammad mengarah. Kalau kiblat pertama benar, kenapa ia pindah? Kalau yang kedua benar, berarti selama menghadap kiblat pertama ia berada dalam kebatilan."
Bukti Kasih Sayang Allah
Allah SWT sendiri menjelaskan betapa beratnya ujian perpindahan kiblat ini, namun sekaligus menunjukkan kasih sayang-Nya.
Dalam Surah Al-Baqarah ayat 143, Allah berfirman:
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَٰكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا۟ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ وَيَكُونَ ٱلرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا ۗ وَمَا جَعَلْنَا ٱلْقِبْلَةَ ٱلَّتِى كُنتَ عَلَيْهَآ إِلَّا لِنَعْلَمَ مَن يَتَّبِعُ ٱلرَّسُولَ مِمَّن يَنقَلِبُ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ ۚ وَإِن كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى ٱلَّذِينَ هَدَى ٱللَّهُ ۗ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَٰنَكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بِٱلنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَّحِيمٌ
Artinya: "Demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat pertengahan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Nabi Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Kami tidak menetapkan kiblat (Baitul Maqdis) yang (dahulu) kamu berkiblat kepadanya, kecuali agar Kami mengetahui (dalam kenyataan) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Sesungguhnya (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia."
Ayat terakhir ini menegaskan bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan iman (amal salat) umat Islam yang selama 16 bulan telah salat menghadap Baitul Maqdis. Ini adalah penutup yang indah, menunjukkan bahwa setiap ketaatan, meskipun arahnya berubah atas perintah-Nya, tetap dicatat sebagai amal saleh.
Peristiwa Tahwilul Qiblah di bulan Syaban bukan hanya tentang geografi, melainkan tentang penegasan identitas umat Islam yang mandiri dan bukti kebenatan kenabian Muhammad SAW yang tunduk sepenuhnya pada kehendak Ilahi.








