Kisah Masjid Dhirar Ketika Bangunan Suci Menjadi Sarana Konspirasi

ruangdoa.com

Dalam ajaran Islam, masjid memiliki kedudukan yang sangat mulia. Ia bukan sekadar bangunan fisik, melainkan pusat peribadatan, simbol ketakwaan, dan fondasi persatuan umat. Al-Qur’an dan Hadits menegaskan bahwa setiap pendirian masjid harus dilandasi niat yang murni (ikhlas) untuk mencari rida Allah SWT dan memperkuat nilai keimanan.

Namun, sejarah mencatat adanya sebuah bangunan yang secara lahiriah berbentuk masjid, tetapi didirikan dengan niat jahat. Inilah Masjid Dhirar, yang kisahnya diabadikan dalam Surah At-Taubah dan menjadi pelajaran abadi tentang bahaya kemunafikan.

Akar Permusuhan Abu Amir

Kisah Masjid Dhirar tidak bisa dilepaskan dari sosok Abu Amir, seorang pendeta Nasrani dari kabilah Al-Khazraj di Madinah. Awalnya, Abu Amir adalah tokoh yang disegani, terutama oleh kaum Anshar, karena kedudukannya sebagai ahli kitab.

Namun, ketika cahaya Islam yang dibawa Rasulullah SAW semakin terang dan diterima luas di Madinah, hati Abu Amir dipenuhi rasa dengki. Ia berubah menjadi musuh terbuka bagi Islam. Kebenciannya ini termanifestasi dalam berbagai upaya makar:

  1. Menghasut Musuh: Ia secara aktif menghasut musuh kaum Muslimin agar lebih keras memusuhi Rasulullah SAW, terutama menjelang Perang Badar.
  2. Jebakan di Uhud: Pada Perang Uhud, Abu Amir bertindak lebih jauh dengan menggali lubang-lubang jebakan yang menyebabkan Rasulullah SAW terluka, gigi patah, dan kepala beliau terluka.
  3. Mencari Dukungan Asing: Gagal mempengaruhi kaum Anshar, ia lantas mencari bantuan politik ke luar Madinah, mendatangi Raja Heraklius, penguasa Romawi, untuk meminta dukungan militer memerangi Rasulullah SAW.

Rencana Licik Kaum Munafik

Di bawah instruksi Abu Amir dari pengasingan, orang-orang munafik di Madinah merancang sebuah konspirasi besar. Mereka membangun sebuah masjid baru di dekat Masjid Quba.

Setelah pembangunan selesai, para munafik ini mendatangi Rasulullah SAW dengan wajah memelas. Tujuannya adalah membujuk beliau agar mau salat di dalamnya, sehingga masjid tersebut mendapat legitimasi dan pengakuan dari umat Islam.

Mereka berkata, "Ya Rasul Allah, kami telah membangun sebuah masjid khusus untuk orang sakit dan miskin, sebagai tempat berlindung di malam berangin dan dingin. Kami ingin engkau datang dan salat mengimami kami di sana."

Saat itu, Rasulullah SAW sedang sibuk. Beliau menjawab dengan janji, "Insya Allah, kalau kami pulang nanti, kami akan datang kepada kalian, lalu salat mengimami kalian."

Niat licik di balik pembangunan masjid ini adalah:

  1. Menimbulkan bencana dan kekufuran di tengah umat.
  2. Memecah belah persatuan kaum mukminin.
  3. Menjadikan masjid itu sebagai markas rahasia bagi Abu Amir dan musuh-musuh Islam saat mereka kembali menyerang Madinah.

Wahyu Ilahi dan Perintah Penghancuran

Janji Rasulullah SAW untuk salat di Masjid Dhirar nyaris ditepati. Ketika beliau bersiap mengenakan gamis untuk berangkat, Allah SWT segera menurunkan wahyu melalui Malaikat Jibril.

Wahyu ini membuka tabir kebenaran tentang tujuan jahat di balik pembangunan masjid tersebut.

Surah At-Taubah Ayat 107-108 secara gamblang mengungkapkan hakikat Masjid Dhirar:

"(Di antara orang-orang munafik itu) ada yang mendirikan masjid untuk menimbulkan bencana (pada orang-orang yang beriman), (menyebabkan) kekufuran, memecah belah di antara orang-orang mukmin, dan menunggu kedatangan orang-orang yang sebelumnya telah memerangi Allah dan Rasul-Nya. Mereka dengan pasti bersumpah, ‘Kami hanya menghendaki kebaikan.’ Allah bersaksi bahwa sesungguhnya mereka itu benar-benar pendusta (dalam sumpahnya)." (QS At-Taubah: 107)

"Janganlah engkau melaksanakan salat di dalamnya (masjid itu) selama-lamanya. Sungguh, masjid yang didirikan atas dasar takwa sejak hari pertama lebih berhak engkau melaksanakan salat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang gemar membersihkan diri. Allah menyukai orang-orang yang membersihkan diri." (QS At-Taubah: 108)

Mendengar wahyu tersebut, Rasulullah SAW membatalkan niatnya. Beliau segera memanggil tiga sahabat terpercaya: Malik bin Ad-Dukhsyum, Ma’an bin Adi bin ‘Amr bin Sakan, dan Wahsyi.

Perintah beliau tegas, "Pergilah ke masjid yang zalim para penghuninya itu. Hancurkan ia dan bakar!"

Ketiga sahabat tersebut bergegas melaksanakan perintah. Setelah mengambil api, mereka memasuki masjid tersebut, menghancurkannya, dan membakarnya hingga rata dengan tanah. Orang-orang munafik yang berada di dalamnya lari menyelamatkan diri. Setelah peristiwa itu, lokasi bekas Masjid Dhirar dijadikan tempat pembuangan sampah dan bangkai.

Pelajaran Masjid Dhirar di Era Modern

Kisah Masjid Dhirar memberikan pelajaran mendalam bagi umat Islam, bahwa nilai suatu ibadah tidak terletak pada kemegahan fisiknya, tetapi pada niat (ikhlas) dan asas (takwa) pembangunannya.

Para ulama tafsir kontemporer menjelaskan bahwa konsep Masjid Dhirar tidak hanya terbatas pada bangunan fisik yang dihancurkan pada masa Nabi.

1. Niat adalah Fondasi:
Az-Zamakhsyari berpendapat bahwa setiap masjid yang didirikan dengan tujuan riya (pamer), mencari reputasi, atau tujuan duniawi lainnya selain mencari rida Allah, memiliki hukum yang serupa dengan Masjid Dhirar. Dr. Abdul Karim Zaidan menegaskan bahwa kesamaan hukum ini terletak pada niat dan asas pembangunan yang tidak ikhlas.

2. Bentuk Modern Dhirar:
Sayyid Quthb memberikan pandangan yang lebih luas. Menurutnya, konsep Dhirar dapat muncul dalam berbagai bentuk di setiap zaman. Dhirar bisa berupa kegiatan, organisasi, bahkan tulisan atau konten yang secara lahiriah tampak Islami, namun bertujuan merusak citra, memecah belah, atau melemahkan keyakinan kaum Muslimin.

3. Larangan Beribadah di Tempat Perpecahan:
Al-Qurthubi mencatat larangan salat di masjid yang dibangun dengan tujuan membahayakan umat, menimbulkan perpecahan, atau demi kepentingan duniawi semata. Tempat ibadah yang tujuannya bertentangan dengan syariat—meskipun secara fisik adalah masjid—kehilangan keberkahannya.

Inti dari pelajaran Masjid Dhirar adalah pentingnya kejujuran niat dalam beribadah. Setiap amal yang terlihat sah menurut syariat, namun dimaksudkan untuk tujuan yang bertentangan dengan kemaslahatan umat dan ketakwaan, harus dijauhi. Karena di mata Allah SWT, keikhlasan adalah satu-satunya mata uang yang berlaku.

(inf/inf)

Catatan:
Semua doa itu baik, tergantung dari apa yang diyakini dan bagaimana hati meyakininya. Tidak ada doa yang salah, karena setiap doa adalah bentuk harapan dan penghambaan.

ruangdoa.com hanya berupaya menjadi perantara, tempat berbagi makna, tulisan, dan pengingat bahwa setiap kalimat yang diucap dengan keyakinan bisa menjadi jalan turunnya rahmat dari Allah SWT. Wallahu a'lam bishawab

Share:

Related Topics

Baca Juga