ruangdoa.com
Bulan Syaban sering kali menjadi momentum umat Islam untuk memperbanyak amal saleh sebelum menyambut Ramadhan. Namun, di balik keutamaan ibadah, Syaban juga menyimpan catatan sejarah penting dalam kehidupan Rasulullah SAW. Salah satu kisah paling mengharukan dan penuh hikmah yang terjadi di bulan ini adalah pernikahan Rasulullah dengan Hafshah binti Umar.
Kisah ini bukan hanya tentang bersatunya dua insan mulia, tetapi juga tentang ketulusan seorang ayah, Umar bin Khattab RA, yang berjuang mencari pendamping terbaik bagi putrinya setelah ditinggal wafat oleh sang suami.
Hafshah binti Umar, yang kemudian dikenal sebagai salah satu Ummu al-Mu’minin, adalah sosok ahli ibadah, dermawan, sekaligus wanita yang cerdas. Berikut adalah kisah perjalanan hidup Hafshah, dari masa menjanda hingga menjadi istri Rasulullah SAW.
Kelahiran dan Pengorbanan Suami Pertama
Menurut riwayat Imam adz-Dzahabi, Hafshah lahir lima tahun sebelum masa kenabian (Bi’tsah). Ketika Rasulullah SAW menikahinya, Hafshah berusia sekitar dua puluh tahun.
Sebelum dipersunting Rasulullah, Hafshah menikah dengan Khunais bin Hudzafah bin Qais RA. Khunais adalah seorang sahabat mulia yang telah memeluk Islam sejak awal. Setelah sempat hijrah ke Habasyah, Khunais kembali dan ikut berjuang bersama Rasulullah. Khunais tercatat mengikuti Perang Badar, dan tragisnya, ia gugur sebagai syahid dalam Perang Uhud.
Gugurnya Khunais meninggalkan duka mendalam bagi Hafshah dan ayahnya, Umar bin Khattab. Khunais wafat pada tahun ketiga Hijriah, dan setelah Hafshah menyelesaikan masa iddah (masa tunggu), Umar pun bertekad mencarikan suami yang saleh dan mulia bagi putrinya.
Drama Pinangan dan Rahasia Abu Bakar
Umar bin Khattab RA dikenal sebagai sosok ayah yang sangat bertanggung jawab. Ia tidak ingin putrinya berlama-lama menjanda. Dengan segala kehormatan yang ia miliki, Umar mulai menawarkan Hafshah kepada beberapa sahabat utama.
Pertama, Umar menemui Utsman bin Affan RA, yang saat itu juga sedang berduka setelah ditinggal wafat oleh istrinya, Ruqayyah binti Rasulullah. Namun, Utsman menolak secara halus dengan mengatakan, "Aku belum butuh istri."
Kemudian, Umar mencoba menawarkannya kepada Abu Bakar ash-Shiddiq RA. Di luar dugaan, Abu Bakar hanya terdiam dan tidak memberikan jawaban apa pun. Sikap diam Abu Bakar ini sempat membuat Umar merasa sangat kesal.
Beberapa waktu kemudian, Umar dikejutkan oleh kabar bahwa Rasulullah SAW sendiri yang meminang Hafshah. Pernikahan ini pun dilangsungkan pada tahun ketiga Hijriah, setelah Hafshah mengakhiri masa iddahnya dari Khunais.
Setelah Hafshah resmi menjadi istri Nabi, Umar menemui Abu Bakar untuk menanyakan alasan di balik kebisuan sahabatnya itu.
"Aku menawarkan putriku kepadamu, tetapi kamu hanya diam saja. Aku sempat marah dan kesal padamu," ujar Umar.
Abu Bakar kemudian menjelaskan, "Sebelumnya aku pernah mendengar Rasulullah SAW menyebut-nyebut tentang putrimu. Hal itu merupakan rahasia, dan aku tidak suka menyebarkan rahasia Rasulullah."
Abu Bakar ternyata sudah mengetahui bahwa Rasulullah memiliki niat untuk menikahi Hafshah, dan ia memilih diam demi menjaga rahasia besar tersebut.
Hafshah Ahli Ibadah dan Penjaga Ilmu
Hafshah binti Umar RA dikenal memiliki kepribadian yang luar biasa. Ia adalah sosok yang cerdas dan sangat haus akan ilmu agama, sehingga perannya sangat signifikan dalam penyebaran hukum Islam, terutama setelah wafatnya Rasulullah SAW.
Namun, yang paling menonjol dari dirinya adalah sisi spiritualnya. Hafshah adalah seorang yang sangat zuhud (menjauhi kemewahan dunia) dan ahli ibadah. Ia memiliki kebiasaan rutin berpuasa di siang hari dan menghabiskan malamnya untuk shalat tahajud. Selain itu, kedermawanannya juga sangat dikenal, ia suka menyedekahkan hartanya.
Peristiwa Talak dan Rujuk Demi Umar
Meskipun dikenal sebagai wanita yang sangat salehah, Hafshah pernah mengalami cobaan berat. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah menjatuhkan talak (cerai) satu kali kepada Hafshah.
Peristiwa ini tentu saja membuat Umar bin Khattab sangat terpukul. Diriwayatkan bahwa Umar masuk ke bilik putrinya dan mendapati Hafshah sedang menangis.
"Apa yang membuatmu menangis? Apakah karena Rasulullah telah menceraikanmu?" tanya Umar.
Umar kemudian melanjutkan nasihatnya, "Ketahuilah, sesungguhnya Rasulullah memang telah menceraikanmu, tetapi sekarang sudah merujukmu kembali demi aku."
Talak yang dijatuhkan Rasulullah SAW kepada Hafshah berlangsung singkat karena atas kehendak Allah SWT, beliau diperintahkan untuk merujuk kembali Hafshah. Salah satu alasan rujuk ini adalah karena Hafshah adalah wanita yang sangat rajin berpuasa dan shalat malam, serta demi menghormati posisi ayahnya, Umar bin Khattab RA.
Kisah Hafshah binti Umar ini mengajarkan kita tentang pentingnya kesabaran, keutamaan beribadah, serta hikmah di balik setiap takdir yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.








