Thumamah bin Uthal Sang Kepala Suku yang Ditawan dan Jatuh Cinta pada Islam

ruangdoa.com Thumamah bin Uthal, kepala suku Bani Hanifah yang berkuasa penuh di Yamamah, adalah salah satu tokoh paling berpengaruh di Jazirah Arab pada masa kerasulan Nabi Muhammad SAW. Kisahnya menunjukkan transformasi dramatis dari seorang musuh yang berniat membunuh, menjadi sahabat setia yang menggunakan kekuasaannya untuk membela agama Islam.

Thumamah dikenal sebagai penguasa yang kuat, memegang kendali atas jalur pasokan makanan vital, terutama gandum, ke Makkah. Kedudukan inilah yang kelak akan ia gunakan sebagai senjata dakwah yang efektif.

Menentang Dakwah dan Ditawan di Masjid Nabawi

Pada tahun keenam Hijrah, Nabi Muhammad SAW mengirim surat kepada para penguasa Arab untuk mengajak mereka memeluk Islam. Thumamah bin Uthal menerima surat tersebut, namun alih-alih menerima, ia justru marah besar. Penolakan ini diikuti dengan niat membunuh Nabi dan beberapa sahabat.

Takdir berkata lain. Saat Thumamah meninggalkan Yamamah menuju Makkah untuk melaksanakan umrah dengan ritus pra-Islam, ia ditangkap oleh pasukan Muslim yang sedang berpatroli di sekitar Madinah. Para sahabat tidak mengenali identitasnya sebagai kepala suku besar.

Thumamah kemudian dibawa ke Madinah dan diikat pada salah satu tiang di dalam Masjid Nabawi. Inilah titik balik yang mengubah seluruh hidupnya.

Strategi Kelembutan Nabi yang Meluluhkan Hati

Selama tiga hari Thumamah menjadi tawanan di masjid. Nabi Muhammad SAW menunjukkan perlakuan yang luar biasa. Beliau memerintahkan agar Thumamah diberi makan dan minum, termasuk susu unta terbaik, setiap hari. Tidak ada paksaan atau celaan.

Nabi hanya mendatangi dan bertanya dengan lembut, "Apa yang ada di hatimu, wahai Thumamah?"

Thumamah menjawab dengan penuh tantangan, "Jika engkau membunuhku, maka engkau akan membunuh seseorang yang darahnya akan dituntut. Jika engkau membebaskanku, aku akan bersyukur."

Jawaban ini diulang selama tiga hari. Pada hari ketiga, Nabi Muhammad SAW mengambil keputusan yang mengejutkan para sahabat. Beliau memerintahkan Thumamah dibebaskan tanpa syarat.

Keputusan inilah yang meluluhkan hati Thumamah. Kelembutan dan kemuliaan akhlak Nabi jauh lebih kuat daripada pedang. Setelah membersihkan diri di kebun kurma dekat Baqi’, ia kembali ke masjid dan mengucapkan dua kalimat syahadat. Ia mengakui bahwa wajah Nabi yang sebelumnya paling ia benci, kini menjadi wajah yang paling ia cintai.

Mengumandangkan Talbiyah di Depan Kaum Quraisy

Setelah memeluk Islam, Nabi menyuruh Thumamah melanjutkan umrahnya sesuai tuntunan Islam yang benar.

Thumamah lantas menuju Makkah. Setibanya di sana, ia menjadi Muslim pertama yang berani mengumandangkan talbiyah dengan suara lantang di hadapan kaum Quraisy:

"Labbaik Allahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik, innal hamda wan ni’mata laka wal mulk, la syarika lak."

Kaum Quraisy yang mendengar suara asing itu terkejut dan marah besar. Beberapa orang hendak menyerangnya, namun segera dihentikan oleh rekan mereka yang berteriak mengingatkan bahwa Thumamah adalah penguasa Yamamah. Jika Thumamah disakiti, suplai gandum vital akan terputus.

Boikot Ekonomi yang Memaksa Quraisy Bertekuk Lutut

Setelah menyelesaikan umrahnya, Thumamah bin Uthal kembali ke Yamamah dan segera mengeluarkan perintah drastis: menghentikan total semua pengiriman gandum dan bahan makanan ke Makkah.

Boikot ekonomi yang dipimpin oleh seorang mualaf ini segera menyebabkan kelaparan melanda Makkah. Harga bahan makanan melonjak drastis, dan kaum Quraisy mulai menderita.

Kekuatan yang dimiliki Thumamah sebagai kepala suku kini menjadi alat untuk menekan musuh-musuh Islam. Kelaparan memaksa kaum Quraisy untuk merendahkan diri. Mereka akhirnya menulis surat kepada Nabi Muhammad SAW, memohon beliau untuk memerintahkan Thumamah mencabut boikot tersebut. Mereka memohon atas nama Perjanjian Hudaibiyah yang telah disepakati.

Nabi Muhammad SAW yang selalu mengedepankan kasih sayang, akhirnya memerintahkan Thumamah untuk mencabut boikotnya, mengakhiri krisis pangan di Makkah. Kisah Thumamah bin Uthal menjadi bukti nyata bahwa hidayah Allah dapat datang melalui kelembutan, dan bagaimana kekuatan politik seorang sahabat dapat menjadi pelindung bagi dakwah Islam.

Catatan:
Semua doa itu baik, tergantung dari apa yang diyakini dan bagaimana hati meyakininya. Tidak ada doa yang salah, karena setiap doa adalah bentuk harapan dan penghambaan.

ruangdoa.com hanya berupaya menjadi perantara, tempat berbagi makna, tulisan, dan pengingat bahwa setiap kalimat yang diucap dengan keyakinan bisa menjadi jalan turunnya rahmat dari Allah SWT. Wallahu a'lam bishawab

Share:

Related Topics

Baca Juga