Panduan Lengkap Doa dan Tata Cara Memandikan Jenazah Sesuai Syariat Islam

Doa Writes

Pengurusan jenazah dalam Islam bukan sekadar rutinitas sosial, melainkan sebuah ibadah yang memiliki kedudukan fardhu kifayah dan mencerminkan penghormatan tertinggi terhadap martabat manusia. Proses memandikan jenazah adalah tahap suci pertama yang bertujuan membersihkan jasad dari hadas dan najis sebelum menghadap kepada Sang Pencipta.

Dalam perspektif syariat, setiap langkah pengurusan jenazah—dari memandikan, mengkafani, menyalatkan, hingga menguburkan—adalah bentuk kasih sayang terakhir kita sebagai sesama Muslim, sekaligus menjalankan perintah agama.

Allah SWT telah memuliakan anak cucu Adam, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Isra’ ayat 70, yang intinya menegaskan kemuliaan manusia di atas banyak makhluk ciptaan lainnya. Oleh karena itu, memperlakukan jenazah dengan adab dan tata cara yang benar adalah wujud nyata dari penghormatan terhadap kemuliaan tersebut.


Doa dan Dzikir Saat Proses Pemandian

Imam An-Nawawi dalam kitabnya yang masyhur, Al-Adzkar, menjelaskan bahwa tidak ada lafaz doa tunggal yang diwajibkan saat memandikan jenazah. Namun, orang yang memandikan (ghasil) dan mereka yang hadir dianjurkan untuk memperbanyak dzikir, istighfar, dan memanjatkan doa kebaikan bagi jenazah.

Inti dari dzikir tersebut adalah memohon ampunan (maghfirah) dan rahmat Allah SWT bagi almarhum/almarhumah, serta memohon ganjaran pahala bagi yang mengurus.

Berikut adalah salah satu doa yang dapat dibaca saat memandikan jenazah:

Doa Umum Saat Memandikan Jenazah

Lafaz Arab:
اللّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَلَهُ وَأَعْقِبْنِي مِنْهُ عُقْبَى حَسَنَةً

Latin:
Allahummaghfir lii wa lahu wa’qibnii minhu uqba hasanatan

Artinya:
“Ya Allah, ampunilah bagiku dan bagi mayat, dan iringilah kebaikan kepadaku sesudahnya.”


Hukum dan Dalil Memandikan Jenazah

Memandikan jenazah seorang Muslim yang meninggal dunia adalah kewajiban kolektif atau Fardhu Kifayah.

Apa itu Fardhu Kifayah

Fardhu Kifayah berarti jika kewajiban ini telah dilaksanakan oleh sebagian kaum Muslimin (dalam jumlah yang memadai dan memenuhi syarat), maka gugurlah kewajiban tersebut bagi Muslim lainnya. Namun, jika tidak ada satu pun yang melaksanakan, seluruh komunitas Muslim di wilayah tersebut berdosa.

Kewajiban ini didasarkan pada hadits Nabi Muhammad SAW, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abbas RA:

“Rasulullah SAW bersabda perihal orang yang meninggal dunia karena terjatuh dari untanya, ‘Mandikanlah dia dengan air dan daun bidara’.” (HR Bukhari-Muslim)

Pengecualian: Jenazah yang meninggal dalam keadaan syahid di medan perang tidak wajib dimandikan dan dikafani.


Panduan Tata Cara Memandikan Jenazah Sesuai Sunnah

Memandikan jenazah harus dilakukan oleh orang yang sejenis (laki-laki memandikan laki-laki, perempuan memandikan perempuan), kecuali jenazah anak-anak yang belum baligh, atau suami-istri yang masih boleh memandikan pasangannya.

1. Niat dan Persiapan Awal

Sebelum memulai, petugas (ghasil) wajib menghadirkan niat memandikan jenazah karena Allah SWT dan membaca basmalah.

Niat Memandikan Jenazah Laki-laki:

Lafaz Arab:
نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِهَذَا الْمَيِّتِ لِلَّهِ تَعَالَى

Latin:
Nawaytul ghusla lihadza al mayyiti lillahi ta’ala

Artinya:
“Aku berniat untuk memandikan mayat laki-laki ini karena Allah Ta’ala.”

Niat Memandikan Jenazah Perempuan:

Lafaz Arab:
نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِهَذِهِ الْمَيِّتَةِ لِلَّهِ تَعَالَى

Latin:
Nawaytul ghusla lihadzihi al mayyitati lillahi ta’ala

Artinya:
“Aku berniat untuk memandikan mayat perempuan ini karena Allah Ta’ala.”

Adab Penting:
Jenazah harus ditutup auratnya (dari pusar hingga lutut) selama proses pemandian. Petugas dianjurkan menggunakan sarung tangan (kain atau sejenisnya) untuk menjaga adab.

2. Membersihkan Kotoran (Istitab)

  1. Posisikan Jenazah: Angkat kepala jenazah sedikit, mendekati posisi duduk.
  2. Urut Perut: Urut perut jenazah secara perlahan dan lembut untuk membantu mengeluarkan sisa kotoran yang mungkin tertinggal. Siram air secukupnya selama pengurutan.
  3. Bersihkan Kemaluan: Petugas membungkus tangannya dengan kain kasar, kemudian membersihkan area kemaluan (qubul dan dubur) jenazah hingga benar-benar bersih. Air harus terus disiramkan.

3. Mewudhukan Jenazah

Setelah kotoran dibersihkan, jenazah diwudhukan seperti tata cara wudhu untuk salat.

  • Bersihkan gigi dan lubang hidung jenazah menggunakan jari yang dibalut kain lembap (tidak dilakukan berkumur dan menghirup air secara langsung).
  • Basuh wajah.
  • Basuh kedua tangan hingga siku (dimulai dari kanan).
  • Mengusap kepala.
  • Membasuh kedua kaki hingga mata kaki (dimulai dari kanan).

4. Proses Pengguyuran Utama

Proses memandikan jenazah dilakukan dengan mendahulukan anggota tubuh sebelah kanan, sesuai dengan sunnah Nabi SAW:

“Mulailah dengan anggota tubuh sebelah kanan dan anggota wudhu darinya.” (HR Bukhari dari Ummu Athiyyah RA)

  1. Guyuran Pertama (Pembersihan): Basuh kepala dan jenggot jenazah (jika ada) menggunakan air yang dicampur dengan daun bidara (sidr) atau sabun/shampo.
  2. Guyuran Kanan: Mulai siram bagian tubuh sebelah kanan. Urutannya meliputi leher kanan, bahu kanan, dada kanan, pinggang kanan, paha kanan, hingga seluruh kaki kanan.
  3. Bersihkan Punggung Kanan: Miringkan jenazah ke sisi kiri untuk membersihkan punggung kanan secara menyeluruh, pastikan air mencapai sela-sela lipatan kulit.
  4. Guyuran Kiri: Ulangi langkah yang sama pada bagian tubuh sebelah kiri. Miringkan jenazah ke sisi kanan untuk membersihkan punggung kiri.
  5. Pengulangan: Dianjurkan mengulang proses pemandian ganjil (tiga, lima, atau tujuh kali) jika diperlukan hingga jenazah benar-benar bersih.
  6. Guyuran Terakhir (Pewangian): Pada guyuran terakhir, disunnahkan menggunakan air yang dicampur sedikit wewangian, seperti kapur barus (kafur) atau air bersih murni.

Setelah selesai, jenazah dilap dengan handuk atau kain bersih agar kering sebelum proses pengkafanan dilakukan. Penutup aurat tidak boleh dibuka selama proses ini berlangsung.

Catatan:
Semua doa itu baik, tergantung dari apa yang diyakini dan bagaimana hati meyakininya. Tidak ada doa yang salah, karena setiap doa adalah bentuk harapan dan penghambaan.

ruangdoa.com hanya berupaya menjadi perantara, tempat berbagi makna, tulisan, dan pengingat bahwa setiap kalimat yang diucap dengan keyakinan bisa menjadi jalan turunnya rahmat dari Allah SWT. Wallahu a'lam bishawab

Share:

Related Topics

Baca Juga