ruangdoa.com – Doa iftitah adalah salah satu elemen sunnah yang sangat dianjurkan dalam ibadah sholat. Posisi pembacaannya sangat spesifik, yaitu setelah kita melafalkan takbiratul ihram dan sebelum kita memulai bacaan wajib Surat Al-Fatihah.
Inti dari doa iftitah adalah pengakuan total terhadap keagungan Allah SWT, penyerahan diri, dan permohonan ampunan dari seorang hamba sebelum ia memasuki rangkaian komunikasi spiritual yang lebih dalam dalam sholatnya. Doa pembuka ini memiliki kedudukan penting sebagai tradisi (sunnah) yang langsung dicontohkan dan diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Meskipun status hukumnya adalah sunnah, doa iftitah menjadi penentu kualitas dan kesempurnaan sholat kita. Berikut adalah beberapa versi doa iftitah yang shahih dan sering digunakan, bersumber dari riwayat yang berbeda.
1. Versi Iftitah Penghapus Dosa (Muhammadiyah/Abu Hurairah RA)
Versi ini fokus pada permohonan pembersihan diri dari kesalahan, menganalogikannya dengan kain putih yang dibersihkan dari noda. Versi ini sangat populer dan sering diamalkan.
Bacaan Arab
اللهم باعد بينِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَا عَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ تقْنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنقى الثوبُ الْأَرْضُ مِنَ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ
Arab Latin: Allahumma baaid baynii wa bayna khotoyaaya kamaa baa’adta baynal masyriqi wal maghrib. Allahumma naqqinii min khotoyaaya kamaa yunaqqots tsaubul abyadhu minad danas. Allahummagh-silnii min khotoyaaya bil maa-iwats tsalji wal barod.
Artinya: “Wahai Allah jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku sebagaimana engkau jauhkan antara timur dan barat, ya Allah bersihkanlah aku dari kesalahan sebagaimana bersihnya baju putih dari kotoran, ya Allah basuhlah kesalahan-kesalahanku dengan air, salju dan air dingin.”
2. Versi Iftitah Paling Komprehensif (Hadits Ali bin Abi Thalib RA)
Versi ini adalah yang paling panjang dan mendalam, mencakup pernyataan tauhid murni (penyerahan diri secara total), pengakuan dosa, permohonan petunjuk akhlak terbaik, hingga pengakuan bahwa kebaikan dan keburukan ada dalam genggaman Allah.
Bacaan Arab
وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا، وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ، إِنَّ صَلَاتِي، وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، لَا شَرِيكَ لَهُ، وَبِذَلِكَ أمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ.
اللهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا أَنْتَ أَنْتَ رَبِّي، وَأَنَا عَبْدُكَ، ظَلَمْتُ نَفْسِي، وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِي، فَاغْفِرْ لِي ذُنُوبِي جَمِيعًا، إِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ بَ إِلَّا إِلَّا أَنْتَ، أَنْتَ، وَاهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ، لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ، وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ، أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ، تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
Arab Latin: Wajjahtu wajhiya lilladzii fatharas-samaawaati wal-ardha haniifan, wa maa ana minal-musyrikiin. Inna shalaatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamaatii lillaahi rabbil-‘aalamiin, laa syariika lahu wa bidzaalika umirtu wa ana minal-muslimiin.
Allahumma anta al-malik, laa ilaaha illa anta, anta rabbii wa ana ‘abduka, dhalamtu nafsii, wa’taraftu bidzanbii faghfirlii dzunuubii jamii’an, innahu laa yaghfirudz-dzunuuba illaa anta. Wahdinii li-ahsanal-akhlaaqi laa yahdii li-ahsanihaa illaa anta, wasrif ‘annii sayyi’ahaa laa yashrifu ‘annii sayyi’ahaa illaa anta.
Labbayka wa sa’dayka wal-khayru kulluhu biyadayka wasy-syarru laisa ilayka, ana bika wa ilayka, tabaarakta wa ta’aalayta, astaghfiruka wa atuubu ilayka.
Artinya: “Aku hadapkan wajahku kepada Tuhan Yang menciptakan langit dan bumi, dengan lurus dan berserah diri sedangkan aku bukan bagian dari orang musyrik. Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam. Tiada sekutu baginya dan dengan itulah aku diperintahkan. Dan aku termasuk bagian dari orang-orang muslim. Ya Allah, Engkau adalah Raja, tidak ada sesembahan yang haq kecuali Engkau. Engkaulah Rabbku dan aku adalah hamba-Mu. Aku telah menzalimi diriku, dan aku mengakui dosa-dosaku, maka ampunilah dosa-dosaku seluruhnya, sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau. Tunjukilah aku kepada akhlak yang terbaik, tidak ada yang dapat menunjukkan kepada akhlak yang terbaik kecuali Engkau. Dan palingkan/ jauhkanlah aku dari kejelekan akhlak dan tidak ada yang dapat menjauhkanku dari kejelekan akhlak kecuali Engkau. Aku terus-menerus menegakkan ketaatan kepada-Mu dan terus bersiap menerima
3. Bacaan Iftitah dari Hadits Umar bin Khattab RA
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، تَبَارَكَ اسْمُكَ، وَتَعَالَى جَدُّكَ، وَلَا إِلَهُ غَيْرُكَ.
Arab latin: Subhaanaka allaahumma wa bihamdika, tabaarakasmuka, wa ta’aalaa jadduka, wa laa ilaaha ghayruka.
Artinya: “Maha suci Engkau ya Allah, aku memuji-Mu, Maha berkah Nama-Mu. Maha tinggi kekayaan dan kebesaran-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau.”
4. Bacaan Iftitah dari Hadits Umar bin Khattab RA
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا.
Arab latin: Allaahu akbaru kabiiraa, walhamdu lillaahi katsiiraa, wa subhaanallaahi bukratan wa ashiilaa.
Artinya: “Allah Maha Besar, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak. Mahasuci Allah pada waktu pagi dan petang.”
Hukum Membaca Doa Iftitah
Kebanyakan ulama berpendapat bahwa doa iftitah hukumnya sunnah. Maksudnya, membacanya akan bernilai pahala, namun jika tidak dibaca tidak membuat sholat menjadi batal.
Dasar anjuran ini bersumber dari hadits Nabi Muhammad SAW. Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, bahwa ketika Rasulullah SAW memulai sholat, beliau berhenti sejenak sebelum membaca Al-Fatihah. Saat beliau ditanya mengenai bacaan pada jeda itu, Rasulullah SAW menjelaskan:
“Aku membaca doa di antara takbir dan bacaan (Al-Fatihah).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits tersebut menunjukkan adanya bacaan pembuka yang dibaca sebelum Al-Fatihah.
Dalam buku Ritual Sholat Rasulullah SAW Menurut 4 Mazhab karya Isnan Ansory, disebutkan bahwa ulama tidak sepenuhnya satu suara mengenai kedudukan doa iftitah dalam sholat.
Mayoritas ulama (jumhur) dari mazhab Hanafi, Syafi’i, dan Hambali sepakat bahwa doa iftitah termasuk sunnah, sehingga bukan rukun ataupun syarat sah sholat, tetapi dianjurkan untuk menyempurnakan ibadah.
Sementara itu, mazhab Maliki memiliki pandangan berbeda. Dalam mazhab ini, doa iftitah tidak ditempatkan sebagai amalan sunnah. Bahkan, sebagian ulama Maliki menilai bacaan tersebut makruh atau mengarah pada bid’ah, karena dikhawatirkan penambahan bacaan yang tidak wajib dapat menimbulkan kesan seakan-akan bacaan itu wajib dalam sholat.








