Tolak Hidup Aman di Makkah, Sahabat Nabi Utsman bin Mazh’un Memilih Disiksa Demi Keimanan

ruangdoa.com – Utsman bin Mazh’un, seorang tokoh dari kalangan Muhajirin, adalah salah satu pilar awal yang menopang fondasi dakwah Islam di Makkah. Namanya tercatat abadi dalam sejarah sebagai simbol keteguhan iman dan solidaritas sejati. Pada masa-masa awal Islam, ketika tekanan dan penyiksaan menjadi harga mati bagi para pemeluknya, Utsman bin Mazh’un membuat keputusan dramatis yang menunjukkan bahwa keselamatan duniawi tidak ada artinya dibanding perlindungan Allah SWT.

Generasi Awal yang Membangun Fondasi Islam

Utsman bin Mazh’un berasal dari Bani Jumah, salah satu kabilah terpandang di suku Quraisy. Meskipun tumbuh di tengah tradisi jahiliyah Makkah, ia termasuk dalam golongan As-Sabiqunal Awwalun, generasi pertama yang dengan cepat menyambut seruan tauhid Rasulullah SAW.

Ia dikenal sebagai salah satu dari 40 orang pertama yang memeluk Islam, bahkan disebut sebagai orang ke-14 yang secara terbuka menyatakan keislamannya. Ibnu Hisyam mencatat dalam Sirah Nabawiyah bahwa Utsman menerima Islam melalui ajakan Abu Bakar ash-Shiddiq, pada fase dakwah yang masih dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Keislaman Utsman bin Mazh’un ini memberikan kekuatan moral yang besar bagi komunitas muslim awal yang minoritas dan tertekan.

Kisah Pelepasan Jiwar: Ketika Keamanan Menjadi Aib

Pada masa awal dakwah, kaum Quraisy melancarkan berbagai bentuk siksaan terhadap kaum Muslimin yang tidak memiliki kabilah pelindung. Bagi para sahabat yang berasal dari keluarga terpandang, mereka sering kali mendapatkan jaminan keamanan (jiwar) dari tokoh-tokoh musyrik.

Utsman bin Mazh’un adalah salah satu sahabat yang beruntung, ia berada di bawah perlindungan Walid bin Mughirah, pamannya yang merupakan seorang tokoh berpengaruh Quraisy. Berkat perlindungan ini, Utsman hidup relatif aman, sementara saudara-saudaranya sesama Muslim menghadapi cambukan dan penyiksaan setiap hari.

Namun, kenyamanan ini justru menimbulkan kegelisahan batin yang mendalam. Utsman merasa malu dan tidak adil.

"Sungguh aib besar bagiku jika aku hidup aman sentosa sementara sahabat-sahabatku disiksa di jalan Allah," ungkap Utsman bin Mazh’un, memandang keselamatan yang ia nikmati sebagai pemisah antara dirinya dengan penderitaan umat.

Ia menyadari bahwa perlindungan yang bersumber dari manusia musyrik, sekuat apapun tokoh tersebut, tidak akan pernah sebanding dengan perlindungan dari Allah SWT.

Penolakan Terbuka di Hadapan Kaum Quraisy

Dengan tekad bulat, Utsman bin Mazh’un memutuskan untuk mengembalikan jaminan keamanan tersebut. Ia menemui Walid bin Mughirah dan berkata: "Engkau telah menunaikan tanggung jawabmu, dan kini aku mengembalikan perlindungan itu."

Walid bin Mughirah terkejut dan bertanya, apakah ada anggota kaumnya yang menyakitinya. Namun, jawaban Utsman sangat tegas dan didasari tauhid: "Tidak. Aku hanya tidak ingin berlindung kepada selain Allah."

Keputusan ini tidak hanya disampaikan secara pribadi. Utsman bin Mazh’un secara terbuka mengumumkan penolakannya di hadapan kaum Quraisy di Masjidil Haram, tempat berkumpulnya para pembesar. Ia berkata, "Walid telah memberiku perlindungan dengan kemuliaan, tetapi aku tidak menginginkannya, karena aku memilih perlindungan Allah."

Rela Merasakan Pukulan Demi Solidaritas

Tak lama setelah melepaskan jiwar Walid, Utsman bin Mazh’un langsung merasakan konsekuensi dari keputusannya. Ketika ia terlibat perdebatan dengan kaum Quraisy mengenai kebenaran, salah seorang dari mereka meluapkan kemarahan dengan meninju mata Utsman hingga memar parah.

Melihat mata keponakannya terluka, Walid bin Mughirah—yang merasa menyesal dan khawatir—berkata, "Seandainya engkau tetap berada dalam perlindunganku, matamu tidak akan mengalami hal ini."

Jawaban Utsman bin Mazh’un menjadi salah satu pernyataan paling monumental tentang keteguhan iman dan solidaritas ukhuwah:

"Mataku yang sehat sangat membutuhkan apa yang menimpa saudaranya di jalan Allah."

Ia menegaskan bahwa luka di jalan Allah adalah kemuliaan, dan ia ingin merasakan penderitaan yang sama dengan kaum Muslimin lainnya yang tidak memiliki pelindung. Ia menutup perbincangan itu dengan pernyataan tauhid: "Kini aku berada dalam perlindungan Dzat yang lebih kuat dan lebih berkuasa darimu."

Kisah Utsman bin Mazh’un ini mengajarkan kita bahwa keimanan sejati menuntut pengorbanan, bahkan pengorbanan atas rasa aman yang paling dasar. Baginya, hidup mulia di bawah naungan Allah, meskipun harus merasakan siksaan, jauh lebih berharga daripada hidup nyaman di bawah naungan musyrik. Tindakannya adalah deklarasi totalitas bahwa ketergantungan dan perlindungan hanya milik Allah SWT semata.

Catatan:
Semua doa itu baik, tergantung dari apa yang diyakini dan bagaimana hati meyakininya. Tidak ada doa yang salah, karena setiap doa adalah bentuk harapan dan penghambaan.

ruangdoa.com hanya berupaya menjadi perantara, tempat berbagi makna, tulisan, dan pengingat bahwa setiap kalimat yang diucap dengan keyakinan bisa menjadi jalan turunnya rahmat dari Allah SWT. Wallahu a'lam bishawab

Share:

Related Topics

Baca Juga