ruangdoa.com – Kisah Haritsah bin al-Nu’man adalah salah satu narasi paling inspiratif dalam lembaran sejarah Islam, terutama mengenai keutamaan birrul walidain (berbakti kepada orang tua). Haritsah, seorang sahabat Nabi Muhammad SAW dari kalangan Anshar (Kabilah Khazraj, Bani Najjar), dikenal dengan kunyah Abu Abdullah.
Meskipun ia terlibat dalam berbagai momen penting perjuangan Islam, bukan hanya jihad yang mengantarkannya ke derajat tertinggi, melainkan sebuah amalan yang sering dianggap sederhana: pengabdian tulus kepada sang ibu. Kehidupan Haritsah sarat dengan karamah, termasuk pengalaman langka bertemu Malaikat Jibril.
Keistimewaan Haritsah: Sahabat yang Berjumpa Jibril
Haritsah bin al-Nu’man RA dikenal sebagai sahabat yang memiliki karamah istimewa, salah satunya adalah menyaksikan Malaikat Jibril secara langsung lebih dari satu kali. Keutamaan ini menunjukkan kedudukan mulia Haritsah di mata Allah SWT dan para malaikat-Nya.
Menurut riwayat yang dikumpulkan dalam buku-buku sejarah dan hadis, pertemuan Haritsah dengan Malaikat Jibril terjadi dalam dua momen penting:
1. Pertemuan di Perang Bani Quraizah
Saat Rasulullah SAW sedang dalam perjalanan untuk menghadapi Bani Quraizah, Haritsah menyaksikan sebuah pemandangan luar biasa. Malaikat Jibril melintas di hadapan mereka dalam wujud komandan pasukan yang gagah. Kehadiran Jibril ini menjadi isyarat dukungan ilahi dalam perjuangan kaum Muslimin.
2. Pertemuan Pasca-Perang Hunain
Pertemuan kedua terjadi setelah Perang Hunain. Haritsah dan beberapa sahabat tengah mengurus jenazah ketika ia melihat Rasulullah SAW sedang berbincang dengan seseorang. Karena tak ingin mengganggu percakapan penting tersebut, Haritsah memilih untuk tidak mengucapkan salam dan segera berlalu.
Ketika Jibril bertanya kepada Nabi tentang sosok yang baru saja lewat tanpa memberi salam, Rasulullah menjawab bahwa itu adalah Haritsah bin al-Nu’man. Jibril kemudian memuji Haritsah dan menyebutnya sebagai bagian dari kelompok “Samanin.”
Siapakah Kelompok Samanin?
Menurut penjelasan Malaikat Jibril, kelompok Samanin adalah 80 orang yang menunjukkan kesabaran dan keteguhan iman luar biasa saat Perang Hunain. Keutamaan kelompok ini sangat tinggi, di mana Jibril menjamin bahwa rezeki mereka dan anak-anak keturunan mereka telah dijamin Allah SWT di Surga. Haritsah bin al-Nu’man termasuk di antara kelompok terpilih ini.
Jalan Pintas Menuju Surga: Bakti kepada Ibu
Meskipun Haritsah memiliki karamah langka dan termasuk dalam kelompok “Samanin,” keutamaan terbesar yang menjadikannya penghuni surga adalah pengabdiannya yang total kepada ibunya.
Dalam riwayat yang dinukil dari Aisyah Radhiyallahu anha, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menceritakan sebuah mimpi yang menegaskan kedudukan mulia Haritsah:
“Aku pernah tidur, lalu aku bermimpi diriku berada di Surga, lalu aku mendengar suara seorang yang sedang membaca (al-Qur-an), lalu kutanyakan, ‘Siapa ini?’ Mereka menjawab, ‘Ini adalah Haritsah bin an-Nu’man.'”
Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Demikianlah ganjaran dari berbakti, demikianlah ganjaran dari berbakti.”
Beliau adalah orang yang paling berbakti terhadap ibunya. (HR. Ahmad dengan sanad yang shahih).
Sabda Nabi ini memberikan penekanan yang sangat kuat: birrul walidain adalah kunci surga.
Bagaimana Haritsah Menjalankan Baktinya?
Haritsah bin al-Nu’man mempraktikkan bakti kepada ibunya dengan tingkat kesempurnaan yang luar biasa:
- Prioritas Utama: Ia selalu mendahulukan kebutuhan dan keinginan ibunya di atas segala urusan duniawi, termasuk urusan pribadinya.
- Kepatuhan Mutlak: Diriwayatkan bahwa ia tidak pernah membantah atau menolak permintaan ibunya.
- Kenyamanan Ibu: Haritsah memastikan ibunya selalu merasa nyaman. Ia rela mengalah dalam berbagai hal demi menjaga perasaan dan kebahagiaan sang ibu.
Kisah Haritsah bin al-Nu’man mengajarkan kita sebuah pelajaran fundamental: meskipun jihad dan ibadah besar memiliki pahala agung, amalan yang paling dicintai Allah dan paling cepat mengantarkan seseorang ke surga adalah ketulusan dan konsistensi dalam berbakti kepada kedua orang tua, terutama ibu. Ia adalah bukti nyata bahwa surga itu terletak di bawah telapak kaki ibu.








